Pilpres, Antara Demokratisasi dan Pemborosan Negara

Juli 9, 2009 at 9:18 am (Artikelku)

Saat kampanye, pasangan capres SBY-Budiono menylogankan kata ‘hemat’ dengan satu kali putaran pilpres bisa menghemat uang negara sebesar 4 trilyun.
Pasangan JK-Wiranto membantah, demokratisasi tidak bisa dihubungkan dengan penghematan uang negara untuk biaya pelaksanaan Pilpres. Karena menurut JK Uang 4 trilyun itu tidak ada artinya kalau selama lima tahun setelah pilpres, presiden terpilih memboroskan uang negara.
Dalam konteks demokratisasi penghematan uang 4 trilyun tidak ada signifikansinya dengan keterpilihan presiden dalam pilpres.
Ternyata dalam hitungan quick count pilpres, pasangan SBY-Budiono unggul di atas JK-Wiranto dan pasangan lainnya Mega-Prabowo. Demokratisasi yang menjadi kuda tunggangan JK-Wiranto, kalah bersaing dengan kata-kata ‘hemat’ ala SBY-Budiono.
masih pentingkah demokratisasi didengung-dengungkan.
Nusantara ini tidak cocok dengan demokrasi ala barat.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kepres Pencairan Dana Sertifikasi Guru

Juni 26, 2009 at 2:34 pm (Artikelku)

Sudah diprediksi, Kepres ditandatangani menjelang Pemilu Presiden. Memang banyak keuntungannya, selain meraup suara, turunnya kepres itu memang sudah ditunggu ribuan guru di Indonesia yang sudah lulus sertifikasi.

Mengapa setiap kebijakan selalu ‘bertepatan’ /”menepati’ momentum politik. Tidak mungkinkan membuat kebijakan yang benar-benar untuk kesejahteraan rakyat tanpa memiliki kepentingan.

Atau memang itulah salah satu tujuan para pemimpin Indonesia dalam memimpin, menggunakan kesempatan dan fasilitas untuk melanggengkan kekuasaan.

Hal ini tidak hanya terjadi saat sekarang, nyaris semua calon presiden hari ini pernah menggunakan kebijakan dalam kekuasaan yang dimilikinya untuk berupaya meraup suara.

Semua menari, agar dilirik, semua menyanyi agar didengar dan semua menangis agar dikasihani.  Watak bangsa yang inlander.

Permalink 1 Komentar

Facebook Membuat Blog Stagnan

Mei 2, 2009 at 8:18 am (Artikelku)

Beberapa hari ini aku tak sempat menulis di blog, waktu yang sedikit tersita untuk memelototi facebook. Dengan adanya facebook ini saya lihat beberapa blog stagnan tidak berkembang. Apa semua blogger pindah ke facebook semua?

Alangkah baiknya jika facebook menjadi media komunikasi intelektual. Tidak hanya ajang canda dan tawa seperti yang ada sekarang. Untuk tim kreatif facebook, segera buat fasilitas untuk menuliskan idae dan gagasan. Agar facebook tidak bikin jenuh dan membosankan. Oke ditunggu.

Permalink & Komentar

Pemilu Legislatif Usai, Masyarakat Kembali Seperti Biasa

April 25, 2009 at 6:57 am (Artikelku)

Pemilu 9 April 2009, telah dilaksanakan, cacat di mana-mana, tetapi hal ini tidak dapat menghapus legitimasi Pemilu. Pemilu tetap sah, untuk menunggu perubahan ke depan. Masyarakat kini embali menjalankan aktifitas harianya yang di dunia akedmik kembali ke dunia akademiknya yang di dunia tani kembali ke dunia taniannya.

Pemilu tidak berpengaruh secara langsung terhadap rakyat, mereka kembali memasuki dunia mereka, bahkan banyak yang saking asyiknya di dunia ereka, sampai tidak peduli terhadap pemilu. Dan anehnya golongan yang sedemikian ini memenangi Pemilu 2009.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Aspek Moralitas Terabaikan

April 17, 2009 at 8:45 am (Artikelku)

SUARA PEMBARUAN DAILY

Pendidikan Nasional
Aspek Moralitas Terabaikan
Pendidikan yang kita terapkan belum memberikan tempat bagi terciptanya sinergi
antara pendidikan berbasis kognitif-psikomotorik dan pendidikanberbasis afektif
((Rektor Atma Jaya Jakarta FG Winarno)

Didit Majalolo
Ribuan guru dan pegawai honorer berunjuk rasa di depan Istana Merdeka,
bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, Jumat (2/5), menuntut
pemerintah menerbitkan peraturan pemerintah yang mengatur pengangkatan menjadi
CPNS/PNS. Mereka juga mengeluhkan penghasilan yang sangat rendah.
[JAKARTA] Pendidikan nasional di Indonesia telah terjebak pada orientasi
mengedepankan aspek kecerdasan atau intelektual semata, sementara aspek etika
dan moralitas cenderung terabaikan. Selain itu, pendidikan nasional mulai
kehilangan roh keindonesiaannya yang berfalsafah Pancasila.
Akibatnya, pembangunan pendidikan nasional yang sudah berjalan selama 63 tahun
kemerdekaan, gagal melahirkan manusia Indonesia yang bertanggung jawab, jujur,
dan berintegritas tinggi. Tidak heran bila kini Indonesia dikenal sebagai negara
dengan tingkat korupsi dan kriminalitas yang tinggi, perusak lingkungan, serta
sejumlah cap negatif lainnya.
Demikian benang merah pemikiran Rektor Atma Jaya Jakarta FG Winarno, guru besar
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Endang Sumantri, dosen FISIP
Uncen Jayapura Beatus Tambaib, Ketua Forum Guru Independen Indonesia (FGII)
Suparman, serta pakar pendidikan HAR Tilaar, yang dihubungi SP secara terpisah
terkait peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008.
“Selain tidak memiliki cetak biru yang jelas, benang kusut pendidikan nasional
juga dikarenakan pendidikan yang kita terapkan belum memberikan tempat bagi
terciptanya sinergi antara pendidikan berbasis kognitif-psikomotorik dan
pendidikan berbasis afektif,” ujar Winarno.
Padahal, amanat UUD 1945 dan UU Sisdiknas sangat jelas, yaitu mencerdaskan
kehidupan bangsa yang dilandasi dengan falsafah Pancasila.
“Sesungguhnya, fondasi dasar pendidikan kita secara filosofi dan falsafah sudah
sangat bagus,” tuturnya.
Untuk itu, kata Winarno, perlu ditemukan konsep pendidikan yang dapat memberikan
gambaran orientasi yang utuh sebagai jalan keluar dalam upaya memanusiakan
manusia Indonesia yang kita idam-idamkan.
Endang Sumantri mengatakan, paradigma pendidikan yang dibutuhkan sekarang adalah
keseimbangan antara pembinaan intelek, emosi, dan semangat. “Kesemuanya itu
bakal berjalan baik apabila didasari oleh Pancasila untuk tetap menjaga bangsa
Indonesia dalam ideologinya sendiri,” ujarnya.
Endang merekomendasikan, untuk dapat melaksanakan paradigma pendidikan tersebut,
generasi muda harus mendapatkan pendidikan nilai yang di dalamnya ada agama,
ideologi dan budaya bangsa, serta pendidikan karakter dan politik.
“Pelaksanaannya dipercayakan kepada sekolah untuk mencoba setiap mata pelajaran
berbasis karakter kebangsaan,” ucapnya.
Pendidikan yang berkarakter ini, sambung Endang, menekankan pada tiga komponen
karakter yang baik, yaitu pengetahuan tentang moral, perasaan tentang moral, dan
perbuatan bermoral.
“Ini diperlukan agar siswa mampu memahami, merasakan, dan mengerjakan sekaligus
nilai-nilai kebajikan,” katanya.
Namun, dia mengingatkan, semua hal baik itu bakal sia-sia jika tidak dibarengi
dengan pendidikan politik bagi generasi muda. Menurutnya, dari pendidikan
politik itu bisa didapatkan generasi yang berkepribadian utuh, berketerampilan,
sekaligus juga memiliki kesadaran yang tinggi sebagai warga negara.
Terjebak Liberalisasi
Senada dengan itu, Beatus Tambaib menilai arah kebijakan sistem pendidikan
nasional mulai terjebak dalam sistem pendidikan dengan modernisasi, liberalisasi
ekonomi, politik, demokrasi, dan globalisasi yang mengedepankan tawaran-tawaran
yang bersifat individual, materialistis, dan konsumerisme. Pendidikan lebih
banyak mengejar aspek kecerdasan intelektual (kognitif), tanpa diimbangi dengan
pendidikan moral dan kebudayaan yang menjadi karakter Indonesia.
”Karena sistemnya diarahkan seperti itu, dapat dilihat bahwa banyak orang
pintar dan cerdas, namun banyak melakukan perbuatan tak beradab dan tidak punya
rasa malu jika melakukan korupsi,” ujarnya.
Sementara Suparman berpendapat, ketidakmampuan pemerintah menyediakan anggaran
pendidikan yang tidak diikuti adanya cetak biru atau grand design merupakan
penyebab makin terpuruknya kondisi pendidikan nasional.
Konsep pendidikan yang dimiliki pemerintah saat ini belum mempunyai visi yang
jelas. Akibatnya, baik pelaku maupun penyelenggara pendidikan masih perlu
meraba-raba arah dan tujuan pendidikan nasional yang diinginkan.
“Seharusnya seluruh pemangku kepentingan pendidikan mulai dari Departemen
Pendidikan, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya, serta pemerintah
daerah, dapat bersama-sama merumuskan cetak biru kebutuhan pendidikan nasional
terkait pembangunan moral dan etika kebangsaan, di samping mempersiapkan manusia
Indonesia mandiri dan berjiwa kewirausahaan,” katanya.
HAR Tilaar menambahkan, perbaikan pendidikan yang selama ini dilakukan terasa
hanya tambal sulam. “Kita belum menyentuh masalah yang prinsip, yakni
masalah-masalah yang harus diperbaharui. Kita seakan-akan hanya jatuh cinta pada
hal-hal baru, tetapi tidak membuat perbaikan, mulai dari masalah-masalah yang
mendasar,” ujarnya.
Manusia Seutuhnya
Sementara itu, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengungkapkan,
paradigma pendidikan Indonesia saat ini adalah ingin membangun manusia
seutuhnya, bukan lagi paradigma pendidikan yang hendak membangun sumber daya
manusia (SDM) yang lebih besar. Sebab, SDM dalam istilah sehari-harinya adalah
pekerja.
“Melalui pendidikan kita tidak hanya sekadar mencetak para pekerja, tapi kita
ingin mencetak manusia yang seutuh-utuhnya dari pendidikan kita, tidak hanya
ingin menghasilkan pekerja. Kita ingin menghasilkan politisi, cendekiawan,
budayawan, sastrawan, olahragawan, alim ulama, dan sebagainya,” ujarnya kepada
SP se-usai memimpin upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional, di Jakarta,
Jumat (2/5).
“Mau mencari orang Indonesia yang bisa jadi bupati atau anggota DPR sangat
sulit, Mentalnya adalah mental pekerja yang menunggu perintah, tidak berani
mengambil risiko, dan tidak berani mengambil kebijakan. Ini sangat berisiko
kalau kita hanya mencetak para pekerja saja,” ujarnya. [GAB/153/W-12/E-5]

Last modified: 2/5/08 diakses dari http://www.suarapembaruan.com/News/2008/05/02/Utama/ut01.htm

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Puisi Humor untuk Caleg Berdebar

April 11, 2009 at 4:54 am (Artikelku)

Setelah pemilu, caleg-caleg lega karena tidak lagi diributi para konstituen, minimal mereka kini dapat beristirahat meskipun belum tenang. Pasalnya karena mereka masih menunggu penentuan caleg terpilih. Setelah suara ditetapkan KPU, tidak tanggung-tanggung sebulan lagi. Jadi caleg selama sebulan harus terus menahan diri dan berbdebar-debar. Harap-harap cemas. Jangan khawatir kami bersama beberapa aktifis teater menyediakan untuk para caleg yang menunggu sambil berdebar-debar dalam acara ‘humor para caleg’.
Acara diselenggarakan di alun-alun Kebumen malam minggu, 19 April 2009, di kedai Pekerja Seni Kebumen pojok kulon lor alun-alun Kebumen.
Acaranya benar-benar santai, anda cukup datang, kalau mau berbekal puisi, kemudian puisi itu dibacakan di forum. tentu saja dengan syarat, puisi ini harus lucu dan menyenangkan, tidak berbau sara, netral dan tidak menyakiti.Brs

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sumpek, D Mana-mana Gambar Caleg

Maret 29, 2009 at 2:47 pm (Artikelku)

Sekarang ini, mata kita benar-benar penuh, dengan poster-poster yang menampilkan wajah-wajah caleg, mereka rata-rata tersenyum, meskipun ada juga yang melotot, kalau yang melotot mungkin gak pernah diphoto, jadi biar matanya tetap melek tidak merem. Ada yang tegang dan ada yang nyante, tergantung kondisi keuangan yang dimiliki, semua phpto-pphoto yang tampil di jalan-jalan itu pasti merupakan photo terbaik dari koleksi para caleg itu. Photo yang kira-kira akan mampu meraup suara, photo yang simpatik, menarik dan kadang-kadang eksentrik.

Permalink 1 Komentar

Sulitnya Mengakses Internet di Kebumen

Maret 20, 2009 at 7:57 am (Artikelku)

Tulisan ini aku upload dari sebuah warnet di Kebumen, duh… aksesnya lambat buan main, saya menghabiskan Rp. 4000 untuk membuka satu situs, kalau saya buka dua situs sekaligus, internet akan putus.
Duh, aku mau keluar tapi terlanjur, sudah keluar uang, rugi, maka dengan terpaksa aku keluarkan jurus, agar cepat, aku restart komputer, dan lumayan, aku bisa membuka dua situs sekaligus.
Para pengusawa warnet di Kebumen, mbok yao diperhatikan kecepatan akses internet adalah kepuasan konsumen, mahal sdikit tidak apa-=apa asalkan aksesnya cepat dan handal.

Permalink & Komentar

Musim Kampanye Jalan-jalan di-Doeli, Biar tidak buat Ngetreks

Maret 18, 2009 at 5:36 am (Artikelku)

Tiga hari musim kampanye telah berlalu, meskipun sein sepi tetapi musim seperti ini kadangkala membuat suasanan menjadi tegang, waswas dan siaga. Betapa tidak jalan yang macet.. suara bising kendaraan bermotor, dan panas siang terik, membuat hati jadi miris.
DI Kebumen ada langkah taktis untuk mengurangi ‘nger..nger’ di jalan, jalan-jalan yang bergelombang didoeli, untuk diperbaiki. Atau jangan-jangan setelah jalan-jalan ini diperbaiki justeru menjadi ajang yang semakin mulus buat ‘ngeng..ngerng di jalan. Semoga kampanye kita semakin baik…

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Perlunya Lembaga Yang Benar-benar Berani Menjamin Mutu Pendiikan

Maret 15, 2009 at 11:33 am (Artikelku)

LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) belum Jawa Tengah bekerja secara maksimal, buktinya sempai hari ini, belum ada sekolah yang dapat benar-benar menjadi juara internasional dalam mutu pendidikan. Hal ini disebabkan karena lembaga-lembaga sekolah, tidak berani benar-benar menjamin mutu pendidikannya. Dalam hal ini kiranya perlu dirintis lembaga pendidikanyang benar-benar menjamin mutu pendidikan.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »