Arsip untuk September, 2007

Agama Orang Kebumen

Posted: September 18, 2007 in Artikelku

mustolih-copy.jpg Kebumen adalah kota beriman, menurut slogannya. Tercermin dari banyaknya masyarakan yang memeluk agama, terutama agama Islam. Tetapi tidak sebagaimana citra Islam yang selama ini buruk di hadapan dunia. Islam digambarkan sebagai kekerasan, teroris, intoleran dan immoderat. Islam yang berkembang di Kebumen adalah Islam yang toleran, Islam yang anti kekerasan, Islam yang tidak dengan cara-cara teror untuk berdakwah. Agama Islam yang berkembang di Kebumen adalah ‘Agama Orang Biasa’ menurut bahasa Umarudin Masdar, yang tetap membiarkan ‘sebagian aurat’ terbuka, seperti Ibu-ibu yang berjualan di pasar, dan saat mereka ‘matun’ (membersihkan rumput di sela-sela tanaman padi) di sawah. Islam di Kebumen sama sekali jauh dari kesan Islam yang ‘mengada-ada’. Islam yang mengada-ada adalah Orang yang terlalu menampakkan formalisme Islam seperti memakai Jubah di jalan-jalan, sengaja memelihara jenggot dengan maksud memperlihatkan keislamannya, dan menghitamkan dua titik di kening, sebagai ‘atsar’ sujud.  Ada indikasi yang mengarah pada masuknya Islam yang ‘mengada-ada’ di Kebumen yaitu sebagian jama’ah shalat di Masjid Kauman yang mulai nampak ada model-model berpakaian yang terkesan jauh dari orang lokal, masyarakat sejak sebelum merdeka berjama’ah menggunakan sarung peci, dan mereka adalah masyarakat biasa, kini di barisan paling depan sederet jama’ah nampak menggunakan jubah, rata-rata memelihara jenggot dan memakai celana di bawah lutut. Celana sejenis ini seringkali dipakai oleh orang kauman untuk pergi ke sawah. Masjid Agung Kauman adalah masjid yang dibangun oleh masyarakat kauman dengan bergotong royong. Menurut beberapa info, ‘nantinya pelan-pelan mereka yang berjama’ah dengan memakai calana cungklang ini’ akan mengambil posisi menggangikan Imam Masjid, Khotib dan Takmir Masjid. PAdahal mereka tidak pernah mengetahui pahit getirnya mendirikan dan memakmurkan masjid sejak Masjid Agung Kauman Kebumen berdiri dan berkembang sampai sekarang. Tanpa kerja keras, mereka mau merebut keagungan Masjid Agung Kauman Kebumen. Wahai masyarakat sekitar masjid kauman Kebumen, semakin rajinlah berjama’ah, dan memakmurkan masjid, ada pengintai yang mengincar Masjid Agung Kauman untuk dijadikan pangkalan ‘Islam Celana Cungklang’. (Tulisan belum selesai) Baca juga di http://mustolihbrs.blogspot.com

Bulan Cermin Besar Buatan Manusia

Posted: September 11, 2007 in Artikel Kiriman

Dari sejumlah temuan baru setelah pendaratan ke bulan, terutama dari bahan pembentuknya, kemungkinan besar bulan itu diciptakan oleh manusia zaman prasejarah.Begitu kita melepaskan diri dari teori evolusi terhadap belenggu kearifan kita, maka kita akan dapat melihat sejumlah besar keadaan yang tidak terbayangkan oleh kita, seperti misalnya dugaan bahwa bulan adalah ciptaan manusia. Di bawah berikut ini adalah keadaan sebenarnya yang ingin kami beritahukan kepada Anda, yaitu membuka belenggu
kearifan kita.

Planet Bulan?
Sejak Apollo mendarat di bulan pada tahun 1969, rasa misterius orang-orang terhadap bulan seakan-akan menurun. Dahulu, orang-orang berkumpul bersama di rumah saat hari raya pertengahan musim gugur, dan saat makan kue bulan, begitu menengadahkan kepala melihat rembulan di atas langit, dalam hati pasti merasa penasaran dan bingung. Penasarannya adalah dari mana sebenarnya bulan ini berasal? Dan bingung apa yang sebenarnya ada di atas bulan itu? Sastrawan pada masa Dinasti Song yaitu Su Dong Po dalam Sui Tiao Ge Tou paling bisa hanya menyuarakan rasa penasaran dan kerinduan bangsa China terhadap rembulan: Kapan adanya terang bulan? Dengan arak bertanya pada langit cerah. Tidak tahu di istana langit atas sana, hari ini tahun berapakah saat ini?

Setelah antariksawan mendarat di bulan, orang-orang tahu bahwa permukaan bulan adalah sebidang padang pasir tandus, diselimuti debu angkasa tak terhingga banyaknya, kosong melompong. Tetapi, tahukan Anda? Setelah mendarat di bulan, beberapa temuan baru yang didapatkan, malah membuat ilmuwan semakin bingung terhadap asal-usul bulan.

Saat ini pemahaman ilmuwan terhadap bulan telah melampaui imajinasi sebelum pendaratan di bulan pada waktu itu, bukti–bukti temuan ini bisa membuat pemikiran baru orang-orang terbuka, mengenal dan merenungkan kembali asal mula diri sendiri dan kehidupan, serta alam semesta.

Studi Awal
Sejak zaman dahulu, astronom setiap bangsa di dunia telah mengadakan pengamatan yang panjang terhadap bulan. Penampakan bulan yang mengembang bulat dan menyusut berbentuk sabit, selain menjadi obyek inspirasi penyair, lebih menjadi pedoman kerja penanaman sawah petani; penanggalan tradisional Tionghoa merupakan penanggalan yang berdasarkan peredaran bulan, berperiode 28 hari sebagai patokan. Pada masa lampau, orang-orang menemukan sebuah fakta yang sangat menarik, bulan selalu mengarah pada kita dengan satu permukaan yang sama. Kenapa? Melalui pengamatan yang panjang, orang-orang mendapati bulan bisa berputar sendiri, dan periode perputarannya sendiri persis sama dengan periode perputarannya mengelilingi bumi. Maka, biar di mana pun posisi bulan berada, bulan yang kita lihat dari atas bumi pasti merupakan satu permukaan yang sama, bayang-bayang di atas bulan selalu sejenis yang serupa.

Orang-orang bahkan memperhatikan, ukuran bulan kelihatannya sama besar dengan matahari. Matahari dan bulan dirasakan sama besarnya, namun pada kenyataannya apakah sama besarnya? Orang dahulu acap kali berhasil mengamati suatu fenomena alam yang aneh, mereka menyebutnya dengan istilah “dewa anjing menelan matahari”, di saat itu akan ada benda langit berwarna hitam menutup total matahari, langit siang hari yang terang benderang tiba-tiba menjadi gelap gulita, dipenuhi dengan kelap-kelip bintang, yaitu “gerhana matahari total” yang dikenal oleh ilmuwan sekarang ini. Pada saat gerhana matahari total, benda langit hitam yang kita lihat adalah bulan, ukuran bulan persis bisa menutupi matahari, artinya jika dilihat dari bumi, bulan dan matahari sama besarnya.

Belakangan astronom mendapati, bahwa jarak matahari ke bumi persis 395 kali lipat jarak bulan ke bumi, sedangkan diameter matahari juga persis 395 kali diameter bulan, maka dilihat dari bumi, bulan persis sama besarnya dengan matahari. Diameter bumi adalah 12.756 km, diameter bulan 3.467 km, dan diameter bulan adalah 27%-nya diameter bumi.

Benda langit yang berputar mengelilingi planet, oleh ilmuwan disebut sebagai satelit. Sembilan planet besar pada sistem tata surya semuanya memiliki satelitnya sendiri. Di antara 9 planet besar tersebut ada mbeberapa planet yang sangat besar, seperti misalnya planet Jupiter, planet Saturnus dan lain sebagainya, mereka juga memiliki satelit yang mengedarinya, diameter satelit mereka sangat kecil dibanding planet itu sendiri. Maka, satelit yang besarnya seperti bulan, sangat unik di dalam sistem tata surya kita. Data-data yang kebetulan ini menyebabkan beberapa astronom mulai memikirkan sebuah masalah, yaitu apakah bulan terbentuk secara alami?

Bebatuan Bulan yang Lebih Tua
Setelah pesawat antariksa Apollo mendarat di bulan pada tahun 1969, dan mengambil contoh batuan dari atas permukaan bulan, melakukan berbagai pengujian, didapatkan data yang bisa dijadikan bahan analisa lebih mendalam terhadap struktur bulan.

Pertama-tama dibuat analisa usia terhadap bebatuan yang terkumpul, didapati bahwa usia bebatuan bulan sangat kuno, ada sejumlah besar usia bebatuan itu melampaui bebatuan yang paling kuno di atas bumi. Menurut statistik 99% usia bebatuan bulan melampaui 90% bebatuan kuno di atas bumi, usia yang berhasil dihitung adalah sebelum 4,3-4,6 miliar tahun. Ketika membuat analisa terhadap tanah permukaan bulan, didapati masa mereka lebih kuno lagi, ada beberapa yang bahkan lebih awal 1 miliar tahun dibanding usia bebatuan bulan, melampaui lebih dari 5 miliar tahun. Saat ini waktu yang diprediksi ilmuwan atas terbentuknya sistem tata surya kurang lebih 5 miliar tahun lebih, mengapa bebatuan dan tanah di permukaan bulan sejarahnya bisa begitu panjang? Para ahli juga berpendapat bahwa sulit untuk menjelaskan.

Rongga pada Bulan
Pembuktian kabut bulan mungkin bisa menjelaskan struktur bulan. Astronot yang mendarat di bulan, ketika akan kembali ke bumi, meninggalkan permukaan bulan dengan mengendarai pesawat pendarat kembali ke kabin antariksa, setelah menyatu dengan pesawat antariksa, pesawat pendarat itu dibuang kembali ke permukaan bulan. Alat pengamat gempa yang dipasang pada jarak 72 km mencatat getaran pada permukaan bulan, getaran ini terus berlangsung lebih dari 15 menit, sama seperti martil memukul lonceng besar dengan sepenuh tenaga, getaran berlangsung dalam waktu yang lama baru hilang secara perlahan-lahan. Ambil sebuah contoh misalnya, ketika kita memukul sebuah besi berongga dengan sekuat tenaga, akan mengeluarkan getaran ung… ung… yang terus bergema, sedangkan ketika memukul besi padat, getaran hanya akan bertahan singkat, akan berhenti pada waktu yang tidak lama. Gejala getaran yang terus berlangsung ini membuat ilmuwan mulai membayangkan apakah bulan itu berongga?

Ketika sebuah benda yang padat mendapat benturan, bisa mengeluarkan dua macam gelombang, satu adalah gelombang bujur (longitudinal), sedangkan satunya lagi adalah gelombang permukaan. “Gelombang bujur” adalah suatu gelombang tembusan, bisa menembus suatu benda, dari satu sisi permukaan melalui pusat benda dan disalurkan ke sisi lainnya. Dan “gelombang permukaan”, sama seperti namanya, hanya bisa menyampaikan pada permukaan yang sangat dangkal. Namun, instrumen kabut bulan yang dipasang di atas bulan, melalui catatan waktu yang panjang, sama sekali tidak berhasil mencatat atau merekam gelombang bujur, semuanya berupa gelombang permukaan. Dari gejala yang menakjubkan ini, ilmuwan membuktikan bahwa bulan itu berongga!

Berlapiskan Unsur Logam
Tidak tahu, apakah Anda memperhatikan, bila mengamati bulan pasti akan terlihat potongan bayangan yang hitam-hitam, dan itulah area bayangan hitam yang disebutkan oleh ilmuwan. Saat antariksawan mengambil bor listrik akan membuat sebuah lubang di sana, mereka mendapati bahwa itu adalah pekerjaan yang melelahkan, mengebor dalam waktu yang sangat lama, namun hanya bisa membuat lubang sedikit saja. Dan ini aneh rasanya, permukaan bulan bukankah semestinya terbentuk dari tanah dan bebatuan? Meskipun agak keras, namun tidak semestinya sampai tidak bisa masuk! Ketika dengan cermat dan teliti menganalisa struktur bentuk permukaan bulan pada area itu, ditemukan bahwa sebagian besar adalah suatu komposisi unsur logam yang sangat keras, yaitu unsur
logam titanium yang digunakan untuk membuat pesawat antariksa. Pantas saja bisa demikian kerasnya. Maka, komposisi keseluruhan bulan dapat dikatakan bagaikan sebuah bola logam yang berongga.

Dalam lubang kawah bulan terdapat lava dalam jumlah besar, ini tidak aneh, yang aneh adalah lava-lava ini mengandung sejumlah besar unsure logam yang sangat langka di bumi, misalnya titanium, kromium, itrium dll. Logam-logam ini semuanya sangat keras, tahan panas, anti-oksidasi. Ilmuwan menaksirkan, jika hendak melebur unsur-unsur logam ini, paling tidak suhunya harus di atas 2-3 ribu derajat, namun bulan adalah sebuah “planet dingin yang mati kesepian” di langit, paling tidak selama 3 miliar tahun tidak ada aktivitas gunung berapi. Lalu bagaimana bulan bisa menghasilkan begitu banyak unsur logam yang membutuhkan suhu yang tinggi? Lagi pula, setelah ilmuwan menganalisa contoh tanah bulan seberat 380 kg yang dibawa oleh antariksawan, didapati ternyata mengandung besi dan titanium murni, ini adalah golongan tambang logam murni yang tidak akan ada secara alamiah. Ini menunjukkan bahwa logam-logam ini bukan terbentuk secara alamiah, melainkan hasil leburan manusia.

Penemuan ini sekaligus menjawab pertanyaan yang sejak lama membuat bingung para ahli. Jumlah lubang kawah di atas permukaan bulan sangat banyak, namun anehnya, lubang-lubang ini sangat dangkal. Ilmuwan memperhitungkan, jika sebuah planet kecil yang berdiameter 16 km dengan kecepatan 50.000 km/jam terbentur dan hancur di atas bumi, maka akan mengakibatkan sebuah lubang besar dengan kedalaman berdiameter 4-5 kali lipatnya, artinya kedalamannya bisa mencapai 64-80 km. Dan sebuah lubang Kawah Gagrin yang merupakan kawah terdalam pada permukaan bulan, diameternya 300 km, namun kedalamannya hanya 6,4 km. Bila hitungan ilmuwan tidak ada kesalahan, bebatuan yang mengakibatkan lubang ini jika bertabrakan di atas bumi, akan mengakibatkan lubang besar yang paling tidak kedalamannya 1.200 km!
Mengapa di atas bulan hanya bisa menimbulkan lubang bebatuan yang demikian dangkal? Satu-satunya penjelasan yang mungkin dapat diberikan adalah lapisan kulit luar bulan sangat keras. Jika demikian, komposisi logam keras di permukaan bulan yang ditemukan sebelumnya cukup untuk menjelaskan gejala semacam ini.

Bulan Diciptakan oleh Manusia
Dua ilmuwan eks Uni Soviet dengan berani mengemukakan hipotesanya, menganggap bahwa bulan adalah sebuah kapal ruang angkasa yang telah mengalami perombakan. Dengan demikian, baru bisa secara sempurna menjelaskan dan menjawab berbagai macam gejala aneh yang ditinggalkan bulan untuk kita.

Hipotesa ini sangat berani, dan juga cukup banyak menimbulkan perdebatan, saat ini sebagian besar ilmuwan masih belum berani mengakui teori ini. Namun, kenyataan yang tidak diperdebatkan adalah, bahwa bulan memang benar-benar bukan terbentuk secara alami. Bulan bagaikan mesin yang sangat akurat, setiap hari menghadap bumi dengan segi yang sama, juga persis sama besarnya dengan matahari kalau dilihat sepintas. Permukaan luar adalah sebuah lapisan paduan kulit logam yang tinggi tingkat kekerasannya, bisa menahan serangan bebatuan yang kepadatannya tinggi dalam jangka waktu yang panjang, dan tetap sempurna seperti bentuk semula. Jika merupakan sebuah benda langit alamiah, tidak seharusnya memiliki begitu banyak ciri khas yang dibuat manusia.

Diperkuat dengan bukti bulan seperti planet logam titanium berongga yang diciptakan manusia, maka tidak sulit untuk membayangkan bahwa bulan seyogianya dipasang dan diletakkan di atas oleh “manusia”, segala ciri khasnya sekaligus menunjukkan, bahwa bulan diciptkan manusia bumi pada waktu itu. Jika demikian, sebelum adanya bulan, langit malam hari di atas bumi seharusnya sangat gelap gulita. Jika waktu itu di atas bumi ada manusia, lalu pada malam hari dan di atas permukaan bumi yang luas, mereka sangat sulit melakukan aktivitas apa pun, maka pantas saja dirancang sebuah cermin yaitu bulan, untuk ditempatkan di atas langit. Maka wajah atau pemandangan bulan yang paling asli adalah sebuah bola metal, yang tingkat keterangan cahaya pada zaman dahulu pasti lebih terang dibanding sekarang, seiring dengan perjalanan waktu yang panjang, di bawah kondisi tidak adanya lapisan atmosfer, dan ditutupi sejumlah besar bebatuan kosmos serta debu sehingga menjadi seperti sekarang ini. Dan bila saat ini kita menganalisa permukaan bebatuan dan tanah bulan, tentu saja mendapati usianya lebih lama dari pada bumi, membuat adanya perasaan sedikit fantastis.

Saat ini terhadap masalah yang tidak dapat dijelaskan dan tidak berani diakui ilmuwan, bila kita melepaskan bingkai-bingkai pemikiran yang sempit, menganalisa secara rasional akan menemukan banyak sekali fenomena yang sulit untuk dijelaskan namun sebenarnya sangat mudah dipahami. Berdasarkan sejumlah besar bukti yang ditemukan ilmuwan sejak awal sudah bisa dipastikan bahwa bulan adalah ciptaan manusia, merupakan ciptaan manusia prasejarah, lalu mengapa tidak bias mengambil kesimpulan terakhir? Sebab eksistensi manusia prasejarah, dapat dikatakan adalah merupakan pantangan ilmuwan, sebagian besar ilmuwan biar pun meneliti begitu banyak bukti dan teori yang tepat, namun saat menemui pandangan yang bertentangan dengan teori evolusi, maka siapa pun tidak berani mengemukakannya.

Padahal eksistensi manusia prasejarah yang memiliki peradaban yang sangat tinggi sudah ditunjukkan dalam penemuan-penemuan arkeologis belakangan ini. Sebagai contoh, penemuan tambang reaktor nuklir yang diperkirakan berusia 2 miliar tahun yang lalu di Republik Gabon, Afrika, yang lebih canggih dari pertambangan reaktor nuklir zaman sekarang. Semangat yang menuntut “kebenaran” seyogianya merupakan prinsip tertinggi dalam penelitian ilmuwan, apabila kita telah melompat keluar dari bingkai-bingkai pemikiran pendahulu, maka tidak sulit untuk membayangkan bahwa di antara sejumlah besar penelitian ilmiah, akan terdapat sebuah lompatan yang sangat cepat.

(Sumber :buku Prehistoric Civilitation: Inspiration for Mankind)

Pluto Bukan Sebuah Planet

Posted: September 11, 2007 in Tak Berkategori

SETELAH 76 tahun menyandang predikat planet, kini Pluto dianggap bukan planet, walau punya sebutan planet kerdil atau planet katai (dwarf planet). Perhimpunan Astronomi Internasional (International Astronomical Union, IAU) melalui mekanisme voting pada akhir sidang umumnya di Praha, Ceko, pada 24 Agustus 2006 membuat definisi baru tentang planet yang akhirnya mengeluarkan Pluto dari kelompok planet. Jadi, kini keluarga tata surya dikelompokkan menjadi tiga kelompok, terdiri dari delapan planet, tiga planet kerdil (mungkin terus bertambah menjadi puluhan), dan benda kecil tata surya (komet, asteroid, dan benda kecil lainnya yang jumlahnya sangat banyak). Terminologi planet minor untuk asteroid kini dihapuskan.

Mengapa status Pluto mesti digugat? Pendefinisian ulang tentang planet diperlukan agar tidak membingungkan masyarakat astronomi dan masyarakat umum. Sejak tahun 1990-an perkembangan astronomi sistem planet demikian pesat yang telah mengaburkan definisi awal tentang planet. Penemuan planet-planet di luar tata surya yang mempunyai beberapa kesamaan sifat dengan objek katai cokelat (bakal bintang yang gagal bersinar) menambah rumitnya mendefinisikan planet.

Perdebatan tentang status Pluto dipicu oleh penemuan objek yang diklasifikasikan sebagai “objek lintas Neptunus” (Trans-Neptunian Objects, TNO), yaitu objek tata surya yang mengorbit melintasi atau di luar orbit planet Neptunus. Sampai akhir 1990-an telah ditemukan hampir 100 TNO, kini jumlahnya terus bertambah.

Penemuan TNO diawali oleh D. Jewitt dan J. Luu. Pada 1992 mereka menemukan objek yang dinamakan QB1. Objek itu diklasifikasikan bukan planet, bukan asteroid, juga bukan komet. Objek itu mempunyai kemiripan dengan sifat-sifat dinamika Pluto. Kurang cocok dianggap sebagai planet, seperti delapan planet lainnya. Tetapi, terlalu besar bila digolongkan sebagai TNO. Namun, Divisi III IAU yang membidangi sains sistem planet cenderung menggolongkannya sebagai TNO, berdasarkan kedekatan ciri-ciri dinamikanya. Sejak 2002 ditemukan objek-objek yang cukup besar sehingga diusulkan sebagai planet baru, yaitu Quaoar, Sedna, and Xena (nama informal bagi objek 2003 UB313). Diskusi panjang sejak 1990-an tentang status Pluto dan objek-objek baru serupa planet lainnya akhirnya diputuskan dalam voting IAU dalam 2006 lalu, pluto bukan planet.

Pluto memang aneh

Wajar Pluto digugat. Aneh kalau Pluto dipertahankan sebagai planet. Pluto berbeda dengan kedelapan planet lainnya. Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus mempunyai ciri-ciri yang mirip dan sifat-sifatnya bisa dijelaskan dari proses pembentukan tata surya. Empat planet pertama disebut planet keluarga bumi karena komposisinya mirip bumi, terutama terdiri dari batuan silikat dan logam. Empat planet berikutnya disebut planet keluarga Jupiter yang merupakan planet raksasa dengan komposisi utamanya adalah unsur-unsur ringan (hidrogen, helium, argon, karbon, oksigen, dan nitrogen) berbentuk gas atau cair.

Planet-planet keluarga bumi hanya terbentuk dari materi padat yang terkondensasi, terutama dari senyawa besi dan silikat. Sedangkan Jupiter dan planet-planet raksasa lainnya terbentuk dari planetesimal (bakal planet) besar, antara lain akibat turut terkondensasinya es air, sehingga mampu menangkap gas, terutama hidrogen dan helium.

Pluto terdiri dari batuan dan es. Diperkirakan komposisinya terdiri dari 70 persen batuan dan 30 persen es air. Atmosfernya sangat tipis terdiri dari nitrogen, karbon monoksida, dan metan yang hampir selalu berupa gas beku. Kondisi ini aneh bila dibandingkan dengan proses pembentukan planet keluarga Jupiter. Semestinya semakin jauh dari matahari, bila proses pembentukannya sama, akan terbentuk planet gas juga yang tergolong besar ukurannya.

Keanehan lainnya, Pluto berukuran sangat kecil dibandingkan planet-planet lainnya. Diameternya hanya setengah diameter Merkurius atau dua pertiga diameter bulan. Bidang orbitnya juga sangat menyimpang (inklinasinya 17 derajat) dari bidang orbit rata-rata planet (inklinasi rata-rata 2 derajat). Lintasan orbitnya pun yang paling lonjong.

Pluto ditemukan dari keberuntungan yang bersumber dari kesalahan perhitungan Percival Lowell tentang gangguan orbit planet Uranus dan Neptunus pada awal 1900-an. Menurut dia, mestinya ada planet pengganggu di luar orbit Neptunus. Tidak menyadari adanya kesalahan perhitungan Lowell, Clyde Tombaugh dengan gigih mencari planet pengganggu di sekitar posisi yang disebutkan oleh Lowell.

Memang, hasil pengamatan akurat pesawat Voyager tahun 1980-an tentang massa Neptunus akhirnya menunjukkan bahwa tidak ada yang aneh dengan orbit planet Neptunus. Pluto atau Planet-X tak perlu ada untuk menjelaskan gangguan orbitnya. Tetapi Pluto terlanjur ditemukan dan telah diakui sebagai planet selama 76 tahun.

Definisi planet

Dengan pengamatan mata, benda terang di langit terbagi menjadi dua: bintang tetap yang umumnya diasosiasikan dengan rasi-rasi bintang dan ”bintang” yang berpindah. Bintang yang berpindah bisa berupa bintang berekor (komet), bintang jatuh (meteor), atau bintang berjalan di sekitar rasi-rasi bintang. Dahulu orang menyebut bintang yang berjalan itu sebagai ”pengembara” yang dalam bahasa Yunani disebut planet. Sekarang diketahui bahwa “bintang” pengembara itu sebenarnya adalah benda tata surya yang mengelilingi matahari, sehingga bergerak relatif terhadap bintang-bintang yang diam.

Dari fisik hasil pengamatan, kemudian planet didefinisikan sebagai benda langit yang mendapatkan cahayanya dari Matahari. Definisi ini untuk membedakannya dari bintang yang cahayanya bersumber dari reaksi nuklir di intinya. Definisi sederhana ini yang kini banyak digunakan di buku-buku pelajaran. Tidak salah, hanya tidak tepat, karena masih banyak objek langit lainnya yang bersifat seperti itu.

Dengan definisi seperti itu, semua objek tata surya bisa dianggap sebagai planet. Komet, sebagai “bintang berekor” juga memenuhi definisi tersebut, karena sumber cahayanya hanya berasal dari cahaya matahari. Asteroid yang mengorbit di antara Mars dan Jupiter juga memenuhi definisi ini. Dengan bentuk yang beraneka ragam, semua asteroid hanya memantulkan cahaya matahari. Ceres sebagai salah satu asteroid terbesar yang ditemukan 1801 memang sempat menikmati status planet selama tujuh tahun, tetapi kemudian dianggap bukan planet.

Kisah pencoretan Ceres sebagai planet setelah tujuh puluh tahun pun mirip dengan kisah pencoretan Pluto sebagai planet setelah 76 tahun. Dulu Ceres dianggap sebagai planet yang “hilang” menurut hukum Bode yang terletak di antara Mars dan Jupiter. Tetapi kemudian dipertanyakan karena ternyata Ceres bukanlah planet yang besar. Apalagi setelah ditemukan banyak objek sejenis, yang kemudian dikenal sebagai asteroid. Maka Ceres kemudian dinyatakan bukan planet, tetapi asteroid.

Sejarah memang berulang. Dulu Ceres dicoret sebagai planet, lalu dikelompokkan dalam planet minor (minor planet), mirip dengan Pluto yang dicoret sebagai planet lalu masuk kelompok planet kerdil (dwarf planet). Selama seratus tahun lebih hanya dikenal dua kelompok: planet (yang berukuran besar) dan planet minor (asteroid, yang berukuran kecil). Ketika ditanyakan batasan besarnya antara planet dan planet minor, tidak ada kejelasan. Batasan besarnya untuk membedakan klasifikasi planet dan asteroid tidak didasarkan pada pertimbangan fisika, tetapi berdasarkan pertimbangan praktis untuk tetap menganggap Ceres sebagai asteroid dan Pluto sebagai planet. Selama puluhan tahun digunakan diameter sekira 1.000 – 2.000 km sebagai batasannya.

Dengan ditemukannya objek-objek baru yang diusulkan sebagai planet, masyarakat astronomi dituntut untuk memberi batasan atau definisi hakikat planet. Selama tujuh tahun sejak 1999 diskusi resmi di IAU tentang definisi planet belum mencapai kata sepakat, termasuk pada saat terakhir sudang umum IAU baru lalu. Ada usulan untuk menunda lagi pendifinisiannya. Ada banyak usulan. Definisi. Ada definisi berdasarkan batasan massanya, ada yang berdasarkan batasan gravitasinya yang dapat mempertahankan struktur bulatnya, atau berdasarkan dinamika massa total dominan di sekitar orbitnya.

Kini IAU telah membuat definisi baru tentang planet. Planet adalah benda langit yang (1) mengorbit matahari, (2) mempunyai massa yang cukup bagi gaya gravitasinya untuk mengatasi gaya-gaya luar lainnya, sehingga dengan keseimbangan hidrostatiknya mempunyai bentuk hampir bulat, dan (3) telah menyingkirkan objek-objek lain di sekitar orbitnya. Rumusannya dapat juga disederhanakan menjadi, planet adalah benda langit yang mengitari matahari, bentuknya bulat, dan merupakan satu-satunya objek dominan di orbitnya.

Dengan definisi itu Pluto tersingkir, karena di sekitar orbitnya banyak juga objek sejenis berupa TNO. Ceres pun yang sempat diusulkan lagi jadi planet bersama Charon dan Xena jadi tersingkir karena di sekitar orbitnya banyak terdapat asteroid. Jupiter walau pun di orbitnya ada asteroid Troyan, tetapi massa Jupiter masih dominan. Demikian juga bumi yang di orbitnya masih ada objek dekat bumi (Near Earth Objects, NEO), massanya masih dominan. Tidak seperti Ceres dan Pluto yang massanya kecil.

Planet kerdil walau pun mengandung nama ”planet” bukanlah planet, sama halnya dengan penamaan asteoroid sebagai planet minor. Planet kerdil didefinisikan sebagai benda langit yang (1) mengorbit matahari, (2) mempunyai massa yang cukup bagi gaya gravitasinya untuk mengatasi gaya-gaya luar lainnya sehingga dengan kesetimbangan hidrostatiknya mempunyai bentuk hampir bulat, (3) belum menyingkirkan objek-objek lain di sekitar orbitnya, dan (4) bukan satelit.

Dengan definisi itu baru Pluto, Ceres, dan Xena yang masuk dalam kelompok planet kerdil. Charon yang sebelumnya diusulkan sebagai planet ganda berpasangan dengan Pluto, tidak dimasukkan sebagai planet kerdil karena berstatus sebagai satelit Pluto. Di luar planet dan planet kerdil, objek tata surya lainnya seperti komet, asteroid, TNO, NEO, dan lainnya dikelompokan sebagai ”benda kecil tata surya” (Small Solar System Bodies).*** 

Dr. T. Djamaluddin
Peneliti Utama Astronomi dan Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Bandung

Sebagaimana dimuat dalam Pikiran Rakyat 31-08-06

Puisi Charisma

Posted: September 11, 2007 in Tak Berkategori

KUMPULAN PUISI

Arining Kharismawati

SISWI KELAS III D SMPN 1 KUTOWINANGUN
 
Puisiku

Di malam hari
Aku duduk termenung
Menikmati indahnya malam
Kutatap bintang-bintang di langit
Yang bersinar terang

Kuambil buku harianku
dan sebatang pena
kutulis suara hatiku
sehingga rasa sepi itu terhapus
oleh indahnya malam

beberapa menit telah kurasakan
indahnya malam penuh bintang
kuhasilkan sebuah puisi
dari hasil penaku menari

DAFTAR ISI
1. Sahabat 1
2. Oh Tuhan
3. Derita Tiada Bahagia
4. Harapan Hidup
5. Lain
6. Puisiku
7. Matahari
8. Guruku
9. Kenangan Tentang Kita
10. I Miss You
11. Sahabat 2
12. Sahabat 3
13. Aku Ingin Bahagia
14. Terbelenggu Dalam Kebimbangan
15. Bangkit
16. Resah
17. Bunda
18. Kau Bukan Untukku
19. Kisah Kita
20. Hilang Jejak
21. Ujian Cinta
22. Lamun
23. Sendiri

 1. Sahabat 1

Sahabat…..
Ingatkah engkau
Di saat kita bersama
Kita selalu ceria

Kita selalu tersenyum
Dalam keadaan apapun
Kesedihan dan penyesalan
Tak berarti

Pastikan kita selalu bersama
Dalam keadaan
Suka ataupun duka

2. Oh Tuhan
Oh Tuhan…
Tolonglah hambamu tuk
Mengakhiri tangisku
Mengapa rasa sedih
Selalu menimpaku

Di manakah hamba harus
Meneruskan nafas hamba
Setiap malam
Kuteteskan air mataku

Kapan
Penderitaan ini berakhir
Akhirilah penderitaanku
 
3. Derita Tiada Bahagia
Tiada kusangka
Tiada ku duga
Hidup begitu kejam
Tak ada sesuatupun
yang mearnai hari-hariku
alam ini begitu gelap dan sunyi

Tiada tirai kebahagiaan yang mengisi
Dan mewarnai hari-hariku
Hanya untuk beginikah aku hidup?
Hanya untuk meneteskan tiada sisa air mataku

Dalam lamunku
Tiada apapun
yang membuat senyum
dalam mimpikupun hanya ada tangis
menyertai deritaku
4. Harapan Hidup
Dalam ramai ku tersudut
Dalam sunyi ku merenung
Dalam terang ku menangis
Dalam gelap ku merintih

Aku bagaikan teluk derita
Nian seperti pelabuhan sengsara
Beribu guncangan menghadang
Hidupku tak seelok matahari merekah

Andai hidupku bersinar terang
Kan ku sinari seisi alam ini
Laksana matahari dan bulan
Yang selalu setia menerangi gelapnya alam ini

Tapi kini ku lihat aku
Beginilah kehidupanku
Yang hanya dapat berharap
Kini ku tengadah dalam jalan buntu
Hanya dapat menatap langit yang kian luas
 
5. Lain

Mengapa hidupku berbeda
Dengan teman-temanku
Aku selalu bersedih
namun mengapa temanku
selalu gembira

mengapa aku harus lain dari yang lain
tetapi semua itu adalah takdir
takdir yang diberikan pencipta
yang harus kuhadapi
karena tak ada yang dapat mengubahnya

wahai bunda pertiwi
tolonglah diriku
buatlah hatiku tersenyum kembali
untuk melupakan semua perbedaan itu
yang selalu menghantui hatiku
 
6. Puisiku

Di malam hari
Aku duduk termenung
Menikmati indahnya malam
Kutatap bintang-bintang di langit
Yang bersinar terang

Kuambil buku harianku
dan sebatang pena
kutulis suara hatiku
sehingga rasa sepi itu terhapus
oleh indahnya malam

beberapa menit telah kurasakan
indahnya malam penuh bintang
kuhasilkan sebuah puisi
dari hasil penaku menari
 
7. Matahari
Di kala fajar engkau terbit
Menyinari alam semesta
Dengan keikhlasan
engkau memberikan sinarmu

betapa pentingnya sinarmu
untuk menghidupi para makhluq
karena tanpa sinarmu
kami tak mungkin dapat hidup

sungguh besar jasamu
kepada kami semua
kami ucapkan terima kasih
untukmu selalu
 
8. Guruku
Guruku….
Engkau mengajar dan mendidikku
Dari pagi hingga siang hari
Tanpa meminta balasan yang besar

Tanpamu masa depan kami akan hancur
Namun terkadang, kami
Tidak menghargai perjuanganmu
Tidak menghormatimu setulus mungkin

Sudilah kiranya hatimu
Untuk memaafkan eksalahan kami
Selama ini
Maafkanlah kami
 
9. Kenangan Tentang Kita
Semua kisah cinta kita
Terukir dengan indah
Kenangan manis bersamamu
Begitu indah bagai permata
Pancaran cinta yang kau berikan padaku
Sangat ku rasakan

Walaupun semua telah berlalu
Namun bayang wajahmu
Masih menghuni relung hatiku
Suka dan duka tlah kita lalui bersama
Akhirnya semua berlalu dengan indahnya
Walaupun tak rela ku melepas dirimu
Kasih……….
 
10. I Miss You

Aku tatap bayang dirimu
Ku rasakan getaran hatimu
Uraian kata tak dapat kutangkap

Seiring waktu berjalan
Selintas angin berlalu
Aku mencoba berpaling
dari sorot matamu
yang begitu tajam
untuk meredam sanubariku

Angin berhembus dengan kencangnya
Namun tak mampu merusak ketenangan hati ini
Gema kasih terbisik dari hatimu

Kilauan cinta
Terpancan terang dan nyata
Aku akan selalu mengenangmu
Mungkin dirimu hanya ada dalam hayalku
Untuk itu kuingat dirimu selalu
 
11. Sahabat 2

Wahai sahabat…
Kan slalu kuingat dirimu
Namamu terukir indah di hatiku
Bayangmu terikat oleh ingatku

Sungguh elok kenangan kita
Sangat indah kebersamaan kita
Begitu indah untuk dikenang
Terlalu manis untuk dilupakan

Entah jauh di mana engkau berada
Rasanya begitu dekat denganku
Terbayangkah olehmu
Akan canda tawa kita
Tentang tangis kita

Sahabat…
Kenanglah aku
Walau kau jauh di ujung sana
12. Sahabat 3
Dalam pelukmu ku menangis
Dalam dekapmu ku tersenyum
Segala rasaku tak lepasdari sentuhmu
Segala rasaku teriring belaimu

Hanya senyum yang dapat kuberikan
Bibir ini tak mampu mengucap seuntai kata
aku merasa tenang bila di dekatmu
walau keadaan begitu kacau

Keyakinan yang dapat melebur duri kehidupan
Serangkaian kenangan terukir dengan indah di hati
Dengan kekompakan semua dapat teratasi
Guncangan badai kehidupan adalah jalan
Jalan untuk menuju kesuksesan
 
13. Aku Ingin Bahagia

Hari berganti hari
Bulan demi bulan
Tahun demi tahun
Masa ke masa

Telah ku lalui dan kurasakan
Namun yang aku rasakan hanya kesedihan
Ada kalanya aku bahagia
Tetapi bahagia itu hanya beberapa waktu

Aku ingin bahagia
Yang tidak hanya lewat di hadapanku
Namun yang aku rasakan
Untuk selama-lamanya
14. Terbelenggu Dalam Kebimbangan
di kala aku sedih
di waktu aku bimbang
diriku berkata aku tak berguna
tetapi lubuk hatiku berbisik
ini ujian untukku

di waktu air mataku menetes
di saat hatiku menangis
banyak cabang-cabang dalam pikiranku
memikirkan kemanakah aku harus pergi
Kepada siapakah aku harus berlindung

Semua insan pelindungku
Sudah lenyap oleh perbuatanku
Semua terangku
Telah hancur karena kesalahanku

Kumohon padamu Tuhan
Tenagkanlah hati ini
Terangilah kegelapan ini dengan sinarmu
Bukalah hatimu
Untuk memaafkanku
 
15. Bangkit

Ketika kuhentakkan langkahku
Teriring kepastian
Tiada bisa keraguan memotong langkah
Aku akan majumenuju gemilang
Menerjang samudera rintangan
Bangkit menyentak asa

Beribu makna tersirat darinya
Langkah ketegaran menggapai kesuksesan
Keyakinan menaklukkan keraguan
Maju hapus masa suram
Duka lembaran cita

Keberhasilan menanti di ujung batas
Puas dengan hasil juang semasa
Kini kurasakan semua
 
16. Resah

Haruskah kuarungi
samudera kehidupan ini
dengan deruan kesakitan,
kesengsaraan dan kepedihan
tiada senyum yang menghias muka
tiada bahagia melintas jiwa

kini aku larut dalam bimbang
beribu rasa menghuni jiwa
Tak kuasa menahan tangis
Tiada tempat bersandar menenangkan jiwa
Aku hanya dapat merintih

Waktu telah menguasai semua
Kala bahagia melintas
Namun hanya semu
Hanya derita yang nyata
Kelak kecewa kan menjemputku
Kupasrahkan semua padamu.
Tuhan
 
17. Bunda

Aku menanti kasih dan belaimu
Rintihan hatiku tak pernah kau tahu
Irama tangis tak terdengar olehmu
Nestapa yang kurasakan hanya aku yang tahu
Indah yang kau pandang dariku
Namun menyakitkan untukku
Galian akan kenangan manis telah dalam

Ku ingin kau tahu bunda
Aku menangis di balik senyummu
Aku mederita di balik bahagiaku
Resah yang kurasa sangat tajam
Insan ini tak sanggup lagi bertahan
Sampai kapan aku dapat bertahan dalam kepalsuan
Mungkinkah akan menjadi rahasia hidupku
aku tak dapat bersandar
walau ku tahu tak dapat
akan tetapi aku tak kuasa
tuk bersandar padamuinikah hidupku
Bunda…
 
18. Kau Bukan Untukku
 

19. Kisah Kita
Tahukah kau kasih
Senyummu yang manis
Candamu yang lucu
Dan belaimu yang lembut
Kini kunantikan

Senyumlah ! Senyumlah !untuukku
Pandanglah aku
Belailah hatiku

Waktu yang panjang
tlah kita lalui
Masa yang indah
Tlah kita jalani
Akankah semua berakhir di sini

Aku ingin jalani hidup ini bersamamu
Biarlah usiaku habis bersamamu
20. Hilang Jejak

Aku hanyalah manusia awam
Yang hanya mampu membisu
Merintih, menangis dan mengeluh
Aku tak kuasa merubah gelap
Lama bau menetap
Harum tak kunjung berbau

Sampai layunya bunga
Hingga petangnya alam
bau tetap tetap melekat pada hidup ini
Perjalanan dari yang ujung hingga ujung
tak berhirup harum keabadian

jauh! Jauh di sana aku menatap
gemerlapnya cahaya
samar kuhirup wangi kedamaian
gelap nan bau perjalanan ini
bak buta tanpa tongkat
 
21. Ujian Cinta
Saat malam datang
kala rindu menjelma
waktu jarak menghalang
hati ini tiada detak

aku rindu pada seorang kekasih
ingin kutatap wajahnya
kurindu canda dan tawanya
senyumnya yang kuingat jelas
cintanya mengukir hatiku
rindukah dia padaku
terlintaskah diriku dalam lamunnya
atau karena jarakkah cinta kami terhalang
hanya karena jarakkah hasratku tak sampai

jangan kosongkan jiwa ini
biarlah keadaan menguji kita
jarak tidaklah semestinya
menghalang cinta suci di antara kita
 

22. Lamun
Saat purnama bersinar
Lamunku melayang
Hatiku terasa senang
Karna hanya kau yang terbayang

Indah, cerah, damai bila ada kau
Suasana yang indah, hati yang tentram
Kau lengkapi dengan kasih sayang
Bagaikan taman bintang suasana ini

Biarlah suaasana ini bertahan
Selama kehidupan berjalan
Walaupun hari telah petang
Ingin kudekap suasana indah ini

Namun ini hanyalah lamunku
Tak lebih dari sebuah khayalan
Di luar nyata, melampaui batas
 
 
23. Sendiri
Saat gelap gulita datang
Saat dingin menusuk tulang
Ku terpaku pada bimbang
Ku tersudut oleh keadaan
Malam tanpa bintang

Kala pagi membuka hari
Kala kabut menutup arah
Aku tak mengerti
Gelap telah usai
Kini apa yang dapat kulakukan

Di tepi jalan seorang diri
Di mana teman-temanku
Ke mana ku harus melangkah
Haruskah ku jalani hidup seorang diri

Pengantar Media Pembelajaran

Posted: September 11, 2007 in Tak Berkategori

Mustolih

Bagaimana guru memandang peranan media dan teknologi di kelas bergantung pada bagaimana sesorang belajar. Setengah babad yang lalu, ada beberapa teori pembelajarn yang dominan. Masing-masing memepunyai inplikasi untuk pembelajaran pada umumnya dan untuk kegunaan teknologi secara khusus. Dengan singkat kita akan mensurvei setiap perspektif utama pada pembelajaran dan mendiskusikan implikasinya. Teori belajar dan bagaimana dampaknya keputusan pengajaran didiskusikan lebih detail oleh Driscoll.

Perspektif Behaviorist

Pada pertengahan tahun 1950, focus penelitian pembelajaran mulai mengalami pergeseran dari desain stimulus (komunikasi) ke respon pembelajar ke stimuli. Pada garis terdepan dari pergerakan ini adalah B. F. Skinner, seorang psikolog dari Harvard University. Skinner seorang pencetus aliran behaviorisme tetapi dengan suatu perebdaan penting: dia tertarik pada perilaku sukarela, seperti pelajaran ketrampilan baru, dibandingkan perilaku refleksif seperti yang diilustrasikan oleh Pavlov.  Dia menggambarkan bahwa perilaku organisme dapat dibentuk dari penguatan, atau penghargaan, keinginan merespon/menanggapi lingkungan. Skinner berdasarkan teori belajarnya, yang diketahui sebagai teori penguatan, pada suatu eksperimen dengan merpati, dan dia memberi alas an abhwa prosedur yang sama bias digunalkan/dilakukan pada manusia. Hasilnya adalah kemunculan pembelajaran berprograma, suatu teknik [dari;ttg] terkemuka suatu pelajar melalui suatu rangkaian langkah-langkah intervi [bagi/kepada] suatu [yang] diinginkan tingkat capaian. Tidak sama dengan riset pelajaran lebih awal, Pekerjaan pengupas kulit memimpin secara langsung [bagi/kepada] disain intervi yang ditingkatkan

Perspektif Konstruktivis

Konstruktivisme adalah suatu pergerakan yang meluas di luar kepercayaan [menyangkut] cognitivist. Konstruktivisme mempertimbangkan bahwa ikatan sisiwa pada pembelajaran bermakna sebagai inti sari dari pembelajaran. Pergeseran dari transfer informasi pasif ke pemecahan masalah secara aktif. Konstruktivisme menekankan bahwa pelajar menciptakan penafsiran mereka sendiri dari dunia informasi. Perspektif konstruktivisme berlawanan dengan perspektif behaviorisme atau kognitif, yang percaya bahwa pikiran dapat dipetakan oleh guru.

Siswa meletakkan pengalaman belajar dengan pengalaman mereka sendiri dan tujuan pembelajaran bukan untuk mengajarkan informasi tetapi menciptakan situasi sedemikian sehingga siswa sisiwa menginterpretasikan informasi untuk pemehaman mereka sendiri. Peranan guru bukanlah untuk membagikan fakta tetapi untuk menyediakan para siswa dengan jalan untuk memasang pengetahuan. Para siswa terlibat dalam tugas asli yang berhubungan dengan konteks bermakna