Arsip untuk Juli, 2007

Antara Gerakan Advokasi Atau Merebut Kekuasaan

Posted: Juli 19, 2007 in Tak Berkategori

Oleh Mustolih Brs

Pasca tumbangnya reformasi, gerakan mahasiswa terfragmentasi dalam mazhab-mazhab politik. Ujungnya hanya dua, tetapi kakinya banyak dan di mana-mana. Mahasiswa yang berbasis agama islam di STAINU, STAIN, IAIN atau UIN saja terpecah menjadi banyak, ada PMII, HMI, KAMMI bahkan GMNI. Di kampus umum perebutan antara KAMMI, GMNI dan PMKRI yang tergabung dalam kelompok Cipayung terjadi secara sengit. Yang disebut lalu merupakan organisasi setingkat nasional. Famred, Forkot dan Jarkot, merupakan organ yang sering menghias media massa dalam aksi, selain PRD dan LMND.
Tahun 1998 menjadi tonggak bagi terbentuknya sejarah baru gerakan mahasiswa di Indonesia. Setelah bersama-sama menggulingkan Suharto mahasiswa kembali ke kelompok masing-masing dan membuat gerakan sendiri-sendiri, sama seperti di tahun 1965, mahasiswa yang bersatu membentuk kelompok-kelompok sendiri-sendiri untuk mengegolkan kepentingannya sendiri. Ada yang serius di gerakan advokasi menjadi intelektual organik, ada juga yang tetap asyik di jalanan menjadi ekstra parlementer, dan ada pula yang melirik-lirik kekuasaan, tetapi semuanya berujung satu hal eksistensi organ.
“Perebutan kekuasaan” organ mahasiswa itu mendasarkan pijakan pikirnya pada sisi-sisi lain dari wacana global, ada yang mengkiblat pada timur tengah ada yang berkiblat pada Chicaggo, ada yang Amerika sentris. Tidak hanya gerakan yang mengkiblat segala sesuatunya kepada asing, nyaris tak ada sesuatupun yang terjadi di Indonesia tanpa terpengaruh unsur asing.
Sampailah pada kesimpulan bahwa segala sesuatu yang terjadi di Indonesia tidak akan pernah lepas dari kaitan dengan negara-negara di luar Indonesia, bahkan bukan berbentuk negara tetapi pasar. Ketika pasar menguasai isu-isu politik, maka dipastikan di Indonesia terjadi kudeta. Lihatlah mulai dari pelengseran Sukarno, Suharto, Habibie, Abdurrahman Wahid semua diturunkan melalui jalur “abnormal”. Artinya segala tragedi politik di negeri Indonesia tidak bisa lepas dari setting globalisasi. Gerakan mahasiswa memahami akhir-akhir ini bahwa segala sesuatu saling terhubung dalam jaring kuasa dan jaring modal.
Pasca reformasi 1998 sebagian organ mahasiswa menjatuhkan pilihannya dalam gerakan advokasi rakyat, di mana mereka melakukan gerakan bersama-sama rakyat untuk membangkitkan kesadaran atas hak dan sebagai warga negara, dalam posisi ini negara diposisikan sebagai musuh, karena dianggap pemegang kebijkan yang menyangkut nasib hidup rakyat banyak, setelah advokasi terjadi gerakan-gerakan rakyat dalam kelompok-kelompok petani seperti di Batang, buruh, nelayan, korban penggusuran tanpa ganti rugi, seperti Kedugombo yang dilakukan untuk mengcounter kebijakan negara yang diwakili pemerintah.
Dalam melakukan gerakan-gerakan itu semua persiapan dan cara pernah dilakukan mulai pelatihan community organizer, live in, bahkan aksi jalanan, tetapi hanya itulah yang bisa dilakukan, buruh paling gajinya hanya dinaikkan, petani paling hanya diberi ganti rugi, nelayan paling hanya diberi bantuan, tetapi kesadaran in lander dalam diri rakyat tetap tertanam kuat, balum terjadi kesadaran kesetaraan dan persamaan hak kemanusiaan tak pernah berhasil ditanamkan, itu artinya gerakan itu selama masih berada dalam system lama tetap hanya akan sia-sia.

Mentok
Persiapan yang matang, keberhasilan mobilisasi massa dalam aksi-aksi ternyata tidak merubah apa-apa. Mentok ketika berhadapan dengan modal dan pola pikir kapitalistik.
Kenyataan ini begitu membuat kecewa para aktivis gerakan mahasiswa yang berada di jalur advokasi. Susah payah dan pengeluaran seluruh energi yang selama ini dilakukan bisa patah dengan sekali gebrakan yang dilakukan musuh dengan modal besar, nilai-nilai yang selama ini dipegang, nilai kemanusiaa, kejujuran, dan nilai demokratisasi, serta penghargaan terhadap orang lain sirna begitu saja, oleh dobrakan modal, gerakan yang menghabiskan banyak energi ini tidak merubah apa-apa, aksi rakyat habis-habisan dianggap sebagai hiburan gratis, sebab kebijakan negara bisa dibeli. Apalagi jika pihak negara donor sepakat. segalanya bisa diatur.
Apa yang harus dilakukan oleh gerakan mahasiswa dalam situasi seperti ini?, pertanyaan sederhana tetapi jawaban tak kunjung ditemukan. Ada dua pilihan yang dijatuhkan mahasiswa dalam situasi seperti ini. Pertama tetap berada di jalur ekstra parlementer, atau gerakan jalanan, ini berarti tetap menjadikan negara sebagai musuh bersama rakyat, dan dalam konteks turun ke bawah mereka menjadi pendidik bagi rakyat dengan melakukan penyadaran atas hak-hak mereka. Kedua
Adagium idealitas yangs selama ini dipegangi mahasiswa selamanya berlawanan dengan realitas, sebuah keberhasilan pembalikan kesadaran yang dilakukan oleh kapitalisme. Kesadaran berdasar atas realitas pertama kali dikemukakan oleh Karl Marx dengan konsep materialisme historiesnya. Karl Marx menurunkan ideas yang dilakukan oleh Hegel gurunya melalui daya pikir, dan mendasarkan segala kesadaran tindakan dari material itulah inti faham Marxisme, kelompok ekonomi kapitalistik membalik cita-cita social itu menjadi ideas dan masyarakat industri (industrial society) yang penuh persaingan, banyaknya ketimpangan, kemiskinan, kriminalitas sebagai material yang berarti realitas. Tanpa pernah berusaha mampu merubahnya.
Walaupun secara konstekstual paham Marxisme tidak lagi menemukan relevansinya di dunia sekarang, tetapi pemikirannya tetap dijadikan rujukan oleh sebagian organ gerakan mahasiswa,
Kemenangan kapitalisme atas sosialisme melahirkan ekonomi dunia yang berbasis pasar nyaris tak tertandingi, adik ideology yang bersaudara dengan kapitalisme yaitu Neo Liberal makin mendapat tempat di hati masyarakat dunia, nyaris tak ditemukan dunia tanpa unsur neoliberal di dalamnya. Bahkan ideology lain yang berlawanan dengan Neo Liberal semacam Islam, Sosialisme dan bahkan komunisme-pun tanpa disadari harus tunduk di bawah produk-produk neoliberal.

Relasional
Pemikiran untuk melawan gerak laju neoliberal ini nampak menghantui sebagian gerakan mahasiswa, hanya strategi dan caranya berbeda, sebuah tawaran paradigmatik akhir-akhir ini sedang digagas oleh sebagian gerakan mahasiswa untuk melihat persoalan lebih proporsional dan terbuka, yaitu pola relasional, di mana kita yang sepenuhnya sadar berada di bawah struktur kapitalistik neoliberal, dipaksa untuk melakukan pola-pola kapitalistik, walaupun sama sakali tidak kita inginkan.
Negara bukan lagi menjadi musuh utama, bahkan kalau bisa negara menjadi mitra perjuangan bagi gerakan perlawanan terhadap struktur kapitalistik neoliberal dengan membangun pola relasional. Oleh karenanya negara harus direbut. Dalam konteks ini peranan mahasiswa menjadi pendorong bagi gerakan transisi menuju demokraasi hanya menjadi “pemoles bibir” bagi gerakan sesungguhnya yaitu merebut aset negara untuk kemudian setelah dikuasai negara dipaksa melakukan perlawanan terhadap laju neoliberal, walaupun dengan pola ini rakyat menjadi taruhan. Artinya berhasil tidaknya gerakan perlawanan terhadap neoliberal dan pasar bebas sebagai panglimanya, tergantung besar kesadaran dan pengertian rakyat.
Perlawanan ini meniscayakan hutang negara harus dihapuskan, mengingat banyaknya hasil bumi yang telah dirampok negara yang mempropagandakan neoliberal. Untuk melakukan itu rakyat harus siap menerima resiko prihatin, karena negara-negara donor pelan-pelan akan meninggalkan Indonesia, para pegawai negeri harus siap tidak digaji selama beberapa bulan, para pejabat harus mau mengeluarkan sebagian kekayaannya untuk memberikan subsidi-subsidi bagi sektor ekonomi menengah ke bawah. Para konglomerat harus siap hengkang dari Indonesia, kecuali bersama-sama rakyat ikut prihatin, dalam waktu tidak lama, dengan melihat Sumber Daya Alam Indonesia yang subur tanpa tinandur, akan segera dirasakan masyarakat bangsa yang Gemah ripah loh jinawi tata titi tentrem kerta raharja. Amin. ***

Penulis adalah Sekretaris Foksika PMII Cabang Kebumen, periode 2005-2010

Iklan

“MENGGAGAS SASTRA RELIGIUS YANG BERKUALITAS”

Posted: Juli 19, 2007 in Tak Berkategori

Oleh : Khaerudin

 

Maraknya sastra religius belakangan ini memang menggembirakan. Hanya saja, ada sebuah tantangan besar yang perlu dipikirkan terkait dengan mutu atau kualitas sastra religius itu. Sebab, bagaimanapun sastra itu bermain dalam wilayah estetika.

Perkembangan sastra religius memang marak akhir-akhir ini. Hanya saja, ada yang perlu dipikirkan terkait dengan kualitas estetika dan pemahaman pada masalah religiusitasnya. Mengapa demikian? Dalam konteks sastra religius, pandangan umum menangkap bahwa yang dinamakan sastra religius adalah sastra atau karya sastra yang mengusung lambang-lambang agama, baik itu Islam, Kristen dan lainnya. Dengan begitu, penyebutan beberapa metafor dalam karya itu mengacu pada kekhasan dari sebuah agama. Tak heran bila posisi sastra religius selalu mengacu pada agama formal. Hanya saja, konsepsi umum itu mendaptkan penyangkalan yang cukup signifikan dari beberapa teks sastra yang memiliki kandungan religiusitas tinggi.

Salah satunya dari Jalaludin Rumi, seorang sufi dan penyair Persia terkemuka. Salah satu puisinya yang dikenal dalam hal ini adalah:

Jangan tanya apa agamaku
bukan Yahudi
bukan Zoroaster
bukan pula Islam

Karena aku tahu
begitu suatu nama kusebut
begitu Anda memberikan arti yang lain
daripada makna yang hidup di hatiku

Abu Mansur Al Hallaj (tokoh sufi dikenal dengan ungkapan ektasenya: Anal Haq), juga pernah menulis gagasannya tentang religiusitas dan agama: Aku telah renungkan agama-agama, yang membuatku berusaha keras untuk memahaminya. Dan aku baru sadar bahwa agama-agama itu, kaidah-kaidah unik, dengan sejumlah cabang.

Di sisi lain yang bermain dalam konteks agama-agama formal adalah yang terkait dengan dogma, sehingga kungkungan adanya konsep realisme dogmatis atau idealis dogmatis begitu mewarnai konstruksi dan penyebutan sastra religius itu. Dalam satu sisi, hal ini hampir sama dengan konsep realisme sosial yang digagas dalam sastra-sastra marxis, terlebih komunis.

Posisi ini tidak akan menemukan titik tertingginya, jika acuannya memang benar-benar sangat formalis, karena selama ini religiusitas dipahami sebagai sebuah kualitas keagamaan. Dalam satu sisi religiusitas berbeda dengan sitem religi. Religiusitas tidak hanya berkutat pada masalah ketuhanan yang digariskan agama formal. Religiusitas lebih mengarah pada kesadaran ketuhanan yang termanifestasikan dalam nilai-nilai dan asas kemanusiaan.

Jadi posisinya tidak hanya transeden dalam arti teologi, tetapi juga imanen. Dalam kerangka Islam, tendensi yang diemban bukan hanya hubungan dengan Tuhan (hablum minallah), tetapi juga fungsi sosialnya, hubungan dengan sesamanya (hablum minan nas). Jadi posisi manusia juga diperhatikan, dan yang menjadi acuan adalah faktor kemanusiaan yang luas, yang menjadi landasan dari sebuah bangunan keagamaan. Dengan demikian, bangunan estetis yang terkonstruksi dalam sastra religius tidak mengacu pada dogma yang bermain dalam tataran hukum positivisme atau syariah.

Dalam masalah keindahan, Sayyed Husein Nasr mengungkap bahwa dalam keindahan itu terdapat pengetahuan tertinggi dan kesucian, sehingga seni-seni tradisional yang meliputi jiwa murni seharusnya memang dikembangkan, sebab posisi kemanusiaan benar-benar terpelihara. Di sini, posisi agama tidak lagi beban dalam upaya mengejawantahkan ekspresi dalam wilayah estetika dan proses kreatif.

Kondisi ini akan berlaku, jika pemahaman agama tidak terkungkung dalam sebuah bangunan struktur yang merujuk pada penafsiran tunggal. Dalil-dalil yang mengacu pada pemahaman yang dangkal pada kebebasan dan pembebasan ekspresi dalam seni memang harus ditafsir-ulangkan. Pembacaan tidak lagi bersifat heuristik, tetapi hermeneutik, dengan mengacu tiadanya prasangka dan proses penafsiran atau pembacaan itu merupakan bagian dari sejarah itu sendiri, seperti ide hermeneutika yang pernah digagas Gadamer.

Dengan landasan kemanusiaan, pembacaan terhadap realitas keagamaan itu bisa pula menggunakan strategi dekonstruksi Derrida, dengan paradigma bahwa sebuah teks itu tidak utuh. Ia memiliki celah dan jarak pemaknaan. Bisa pula dengan discourse Foucault dengan melihat asal pengetahuan dan konteks terjadinya teks. Umpamanya, jika agama formal melarang menvisualkan manusia, maka posisi seni tidak lagi terlarang menvisualkan manusia, dengan mempertimbangkan kembali bahwa manusia tidak lagi manifestasi dari ‘Tuhan’. Ada jarak pemaknaan dan rentang waktu dan bergesernya penafsiran. Di sisi lain, religiusitas dikembalikan pada posisi asali, tidak lagi apriori pada ‘the other’ atau manusia lain di luar keyakinan sendiri.

Hal itu karena dengan merujuk pada sifat Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang tidak lagi memberikan previliese dengan mengedepankan binary oposotion dalam pemihakan kebenaran atau memberi keistimewaan pada pihak-pihak tertentu, maka konsepsi religiusitas itu tidak hanya membentur dinding konsep status quo. Sebab, ambiguitas pada realitas bisa memberikan nilai tambah bahwa seni, sastra dan budaya bisa menelusup dalam bayang Tuhan dalam memahami realitas kemanusiaan. Ia, seni dan sastra religius, bisa jadi tidak sekedar pengejawantahan nilai-nilai agama. Religiusitas menjelma ruh atau nyawa dari konstruksi kebudayaan yang mengusung humanisme.

Mungkin yang perlu dikedepankan di sini, bahwa proses penciptaan karya-karya religius tidak harus terjebak pada dogma agama. Ia bersifat bebas dan merupakan proses pembebasan juga. Bisa menggunakan lambang-lambang agama formal sebagai bahan, hanya saja ada pertanggung jawaban estetik. Dalam hal ini, bisa berupa sebagai pengangkatan pada celah dan sisi yang perlu diperbaiki dari agama itu, yang mungkin lebih menekankan pada aturan-aturan rutinitas dan tidak sampai pada penghayatan yang menyusup hingga tulang sumsum, dengan sentral masih berkutat dan berpihak pada sisi kemanusiaannya.

Erich From dalam To Have or To Be pernah menegaskan, religiustitas merupakan ornamen dari watak sosial yang harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan religius yang sudah melekat pada diri manusia, sebagai kebutuhan asasi. Ia mesti tidak berkaitan dengan sistem yang berhubungan dengan Tuhan atau berhala, melainkan pada sistem pemikiran atau tindakan yang memberikan pada individu suatu kerangka oroentasi dan suatu objek kebaktian. Hal ini mengacu pula pada konsep agama yang membebaskan yang digagas Fromm dalam Religion dan Psychoanalysis. Seperti juga yang ditulis Nietzsche dalam Also Sprach Zarathustra: “Aku butuh Tuhan yang mengerti bagaimana menari”.

Dalam sastra Indonesia modern, sastra religius yang paling baik masih dipegang oleh cerpen AA Navis dalam Robohnya Surau Kami. Dalam cerpen yang kental dengan tradisi Minang yang memang ketat dalam masalah agama, cerpen itu sepenuhnya mengusung nilai-nilai religiusitas yang tidak mempermasalahkan aspek religius dalam penyebutan Tuhan dalam agama formal, tetapi lebih menekankan pada faktor manusianya, dengan jalan menggugah keberadaan manusia itu sendiri dalam sistem religi yang berkembang di sana. Bahkan, dalam satu sisi, cerpen ini mempertanyakan nilai terdalam dari sistem religi itu, dengan memunculkan nilai-nilai religiustitas yang perlu ditumbuhkembangkan. Bahkan, ‘surau’ bisa pula dianggap sebagai penanda dari sebuah kebobrokan sistem yang hanya mengedepankan sebuah tatanan formal dan mapan dari sebuah agama.

Tradisi Sastra Sufi

Dalam tradisi sastra klasik yang berkembang di Indonesia, karya-karya yang ada menyaran pada sastra didaktis, sastra yang berpretensi pada masalah pengemban misi pendidikan, tuntunan dan ajaran. Kenyataan itu bisa ditemui dalam tradisi Jawa Klasik dan Melayu Klasik.

Mungkin hal itu bisa dimaklumi, karena dalam tradisi sastra klasik Indonesia, sastra memang sebagai alat. Bahkan ada yang lebih ektrem, dengan acuan yang terpenting adalah tujuan (ghayah) dari pada jalan atau alat (washilah). Konsepsi antara ghayah dan washilah itu menjadi tidak sehat dan mengganggu, ketika di antara keduanya ada yang mendapatkan posisi istimewa. Perlu ditegaskan, ketika kondisi realitas sudah hiperrealitas, maka pembongkaran pada dikotomi itu sebuah keharusan. Dengan mengandaikan dalam ghayah terdapat inti dari washilah dan sebaliknya. Sebab hasil akhir itu sangat dipengatuhi proses ‘menjadi’. Bahkan ‘proses’ itu menjadi penentu. Dalam sastra. perdebatan antara bentuk dan isi ini memang sudah selesai.

Berkaitan dengan masalah dualitas itu, akan sedikit tertolong jika mengacu pada tradisi sastra sufi, terutama sastra sufi yang berkembang di Timur Tengah. Dalam Manthiqut Thair karya Faridudin Athtar, nuansa religiusitas masih sangat kental, dengan kandungan estetika yang brilian. Bahkan, terkait masalah hubungan antara fisik dan batin, Athtar pernah berkata:

Ketika jiwa disatukan dengan raga, maka ia pun bagian dari keseluruhan itu: Belum pernah ada pesona yang mengagumkan seperti itu. Jiwa punya peranan dalam apa yang rendah; terbentuklah paduan antara tanah liat yang pekat dan ruh yang murni. Karena paduan ini, insan pun menjadi yang paling mengagumkan dari segala rahasia.

Hal senada juga terdapat dalam rubai Omar Qayyam, Diwan Al Hallaj, Masnawi Rumi, Mujanat Rabiah Adawiyah dan beberapa sastrawan sufi lainnya. Seperti yang ditegaskan Ibn Arabi (tokoh sufi, pencetus paham wahdatul wujud):

Hariku telah mampu untuk setiap bentuk
dialah padang bagi seekor kijang
dan sebuah biara bagi Nasrani
Dialah pula bagi berhala dan Ka’bah bagi berhaji
Dialah lembar dari Taurat dan Kitab Quran yang suci
Ke mana pun onta-onta cinta itu berangkat
Ke sana jualah agama dan imanku melekat

Lewat keindahan, realitas absolut yang menjadi tujuan terwujud dan termanifestasikan. Jika acuannya pembebasan, pembebasan esoterik itu dalam terlaksana. Dalam sastra sufi, tidak lagi dibedakan antara alat dan tujuan. Posisi keduanya sama, tidak ada yang diperalat. Apalagi, para sufi itu menyuarakannya dalam kondisi fana’ (ekstase ketuhanan).

Dalam puisi Barat modern yang menghadirkan lanskap spiritual dan religiusitas juga cukup banyak. Diantanya, seperti penyair Welsh Dylan Thomas. Berikut kutipan puisinya:

Terlalu bangga untuk mati, hancur dan buta ia mati
jalan yang paling gelap, dan tak bisa ditolak
orang lembut dan dingin berani dalam kebanggan yang sempit
merasa tidak berdosa, ia takut pada kematiannya
karena ia membenci tuhannya, tetapi siapakah ia adalah biasa
Orang tua lagi ramah berani dalam kebanggan yang menyala

Dalam tradisi sastra Jawa, bisa dilihat pada beberapa karya klasik. Posisi estetika juga masih menjadi pertaruhan, kendatipun mendapat muatan yang luar biasa. Konvensi macapat yang meliputi guru gatra, guru wilangan dan guru lagu juga masih tertata. Hal itu ampak pada karya-karya Yosodipuro I, Yosodipuro II, Ronggowarsito, Paku Buwana IV dan Mangkunegara IV. Dalam karya-karya mereka, kendatipun unsur didaktik tentang religi dan pengajaran juga kental, tetapi alur keindahan yang menjadi jiwa dari wailayah estetika tetap dipertahankan dan menjadi acuan. Seperti yang tersirat dalam Wedhatama:

Samengko ingsun tutur
sembah catur supaya lumuntur
Dhingin raga, cipta, jiwa, rasa, kaki
ing kana lamun tinemu

Perlu ditekankan, dalam tradisi sastra sufi atau suluk dalam tradisi Jawa, posisi formalitas agama memang diabaikan, seperti ide yang ada pada puisi Rumi di awal tulisan ini, sebab dalam jenis sastra sufi memang bermain dalam wilayah-wilayah ‘menembus batas’. Umumnya, sastra sufi memamng mengedepankan sisi terdalam dari manusia, karena sikap kemanusiaan manusia itu bisa menjadi ukuran kedekatan seorang manusi dengan Tuhannya. Dalam tradisi sastra sufi, konsepsi humanisme dalam kerangka sastra religius menemukan bentuknya yang paling konkrit dan jelas.

Sebuah Tantangan

Maraknya sastra religius belakangan ini memang menggembirakan. Hanya saja, ada sebuah tantangan besar yang perlu dipikirkan terkait dengan mutu atau kualitas sastra religius itu. Sebab, bagaimanapun sastra itu bermain dalam wilayah estetika. Dari sini, ada semacam agar aspek religiusitas yang merambah segala relung-relung terdalam dari manusia dengan segala absurditasnya juga mendapat tempat yang seimbang dalam sastra religius, tanpa ada pemaksaan pada aspek-aspek dogmatik dan terjebak pada khotbah. Sebab, bagaimanapun wilayah seni dan sastra berbeda dengan wilayah agama.

   Dikutip dari: http://islamlib.com/

Kebutuhan Akan Rasa Aman

Posted: Juli 10, 2007 in Artikel Kiriman

Manusia sejak lahir oleh Tuhan telah dilengkapi oleh beberapa macam kebutuhan. Untuk itu manusia telah dilengkapidengan macam piranti hidup, sehingga manuia dalam menjalani kehidupan akan diberi kemudahan dalam memenuhi segala kebutuhan yang ada. Dalam hal ini, banyak berbagai macam kebutuhan manusia yang tidak begitu saja dibiarkan, sebaliknya ia akan berusaha agar kebutuhan tersebut dapat tercapai.
Oleh karena itu, marilah kita bahas mengenai masalah kebutuhan (need) yang ada pada diri manusia, “Abraham Maslow” mengemukakan ada 5 kebutuhan hidup manusia. Yang menurutnya merupakan suatu hirarki dari yang paling rendah (kebutuhan fisiologis dasar) sampai paling tinggi (kebutuhan aktualisasi diri).yaitu sebagai berikut :
1. Kebutuhan aktualisasi diri dan pemenuhan diri
2. Kebutuhan untuk dihargai
3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
4. Kebutuhan akan rasa aman dan tentram
5. Kebutuhan fisiologis dasar
Itulah 5 macam hirarki kebutuhan, tetapi di sini akan dibahas mengenai kebutuhan akan rasa aman. Untuk itu tidak akan dibahas satu persatu kelima macam kebutuhan tersebut, hanya akan membahas kebutuhan rasa aman yaitu apa sih kebutuhan akan rasa aman dan tentram itu ?
Kebutuhan akan rasa aman dan tentram mencakup lingkungan yang bebas dari segala bentuk ancaman, pekerjaan yang jelas, keamanan atas alat atau instrumen yang dipergunakan dalam beraktivitas.
Dari hirarki kebutuhan tersebut dapat dilihat bahwa prioritas pemenuhan kebutuhan sangat ditentukan oleh tingkatan kebutuhan yang ada.

Pekerjaan
Seiring dengan adanya berbagai kebutuhan individu, maka alasan individu untuk bekerja menjadi banyak pengikutnya sehingga pekerjaan memiliki makna tertentu bagi individu. Dilihat dari sudutd pandang psikologi, maka suatu pekerjaan memiliki beberapa makna sebagai berikut :
1. Instrumen (Instrumental)
Bekerja adalah suatu alat atau instrumen, hal ini dibagi menjadi dua bagian yaitu sebagai alat untuk mendapatkan penghasilan dan sebagai alat untuk melakukan aktivitas. Dalam hal ini bekerja merupakan instrumen untuk beraktivitas, sangatlah jelas bagi kita bahwa dengan kita bekerja maka semua kegiatan seolah-olah menjadi terprogram.
2. Kesenangan (Enjoyment)
Sejalan dengan aktivitas yang dilakukan sebagai konsekuensi logis dari bekerja, maka tidak jarang individu menemukan berbagai kesenangan dalam bekerja. Dengan kesenangan yang dimilikinya maka individu akan berfungsi secara optimal sehingga bermanfaat bagi perkembangan jiwanya dan juga memudahkannya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.
3. Pemenuhan diri (Self fulfillment)
Setiap orang ingin mengaplikasikan semua talenta yang dimiliki. Dengan bekerja maka individu memiliki kesempatan untuk mengaplikasikan semua kemampuan yang dimilikinya atau dengan kata lain bekerja memungkinkan seseorang untuk dapat mengaktualisasikan dirinya. Lewat pekerjaan, menghasilkan suatu karya cipta dan akan memperoleh pengakuan atau hasil karya tersebut, sehingga akan semakin memiliki diri yang positif dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
4. Institusi Sosial (Social institution)
Pekerjaan akan menciptakan suatu institusi sosial. Dengan bekerja individu akan terikat dalam suatu institusi sosial yang memiliki aturan main sendiri yang berbeda dengan yang lain, sehingga dengan bekerja relasi sosial akan terbukan lebar dan terjalin hubungan interpersonal.

Dengan melihat makna suatu pekerjaan bagi individu dan mengingat asas kesamaan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang layak, maka kita semua dapat memahami jika Lembaga Bantuan Hukum (LBH) penyandang cacat Indonesia mendesak pada semua perusahaan yang beroperasi di Indonesia untuk melaksanakan kewajiban kuota tenaga kerja penyandang cacat. Pentingnya suatu pekerjaan baik cacat atau tidak cacat adalah memiliki makna yang lebih mendalam dari sekedar masalah finansial.

Kesiapan dan Kemampuan
Untuk dapat bersaing dengan para pekerja tidak cacat maka para penyandang cacat harus mempersiapkan segala hal untuk dapat menampilkan potensi yang dimiliki. Hal ini berlaku untuk semua pencari pekerjaan, termasuk penyandang cacat, oleh sebab itu harus mempersiapkan hal-hal sebagai berikut :
a. Tingkatan pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan anda melalui pelatihan ataupun kursus-kursus yang sesuai
b. Aktif mencari lowongan pekerjaan yang sesuai. Gunakan berbagai jalur dan teknik mencari pekerjaan, misal lewat institusi penyandang cacat, relasi, media massa, dan lain-lain
c. Cari tahu dan kenali perusahaan-perusahan yang berpotensi mempekerjakan para penyandang cacat
d. Manfaatkan teknologi secara maksimal untuk membantu anda misal komputer
e. Jika dipanggil wawancara kerja maka buatlah wawancara tersebut menjadi mudah bagi interviewer (perusahaan) dengan memberitahukan hal-hal apa saja yang harus mereka siapkan untuk anda
f. Berpakainlah secara pantas sesuai dengan jabatan atau pekerjaan yang dilamar
g. Bawalah surat lamaran beserta resume dan contoh hasil karya yang telah anda buat (jika ada) pada saat wawancara
h. Antisipasi sikap-sikap negatif terhadap anda. Fokuskan diri anda hanya pada hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Dengan ini perusahaan akan lebih mengenali potensi anda
i. Atasi pertanyaan yang memojokkan secara elegan
Dalam kasus seperti di atas hendaknya perusahaan tidak melakukan PHK dan menggantikan kedudukan pekerja dengan orang lain yang tidak cacat.
Dari kebutuhan di atas bila ditambah dengan kebutuhan mengabdi kepada Allah, manusia akan dijadikan dorongan, pemicu dan motivasi untuk bekerja, beramal dan berjuang dengan sungguh-sungguh agar apa yang menjadi harapannya dapat tercapai dengan sukses. Iapun berharap dalam hidupnya agar terpenuhi kebutuhan keamanan dan rasa aman dirinya.
Itulah yang dapat saya tuliskan, mudah-mudahan bermanfaat bagi para pembaca.

Disusun oleh : Nur’aeni Fijriyah, NIM: 2051212, Prog./Jurusan: S1 / PAI / IV STAINU Kebumen

Mustofa Kamal Pasha, Drs. B. Ed, Prof. Dr. Lasijo, MA., Drs. Mudijana, M.Si., Ilmu Budaya Dasar, Citra Karsa Mandiri, Yogyakarta, 2000

Oleh Ubadillah

Perpeloncoan di saaat masa orientasi sekolah sudah tak asing lagi .Bahkan budaya ini terus saja di intodusir sebagai bagian dari reproduksi kekerasan .
kasus SPTDN misalnya contoh konkrit tentang lemabaga pencetak pemimpin birokrasi indonesia.tapi benarkan tradisi perpeloncoan ini merupakan ekspresi kebutuhan aktualisasi diri?
A.Aapa perpeloncoan itu?
perpeloncoan adalah sebuah istilah dan isu yang telah mendapatkan perhatian serius selama kurang lebih 20 tahun belakangan ini. perpeloncoan  dapat terjadi di mana saja, bahkan di lingkungan sekolah sekalipun. Meskipun demikian, apabila kita berbicara mengenai perpeloncoan, maka akan ditemukan suatu kenyataan bahwa masih banyak siswa sekolah yang tidak memahami pengetian dan dampak yang dapat ditimbulkan dari perpeloncoan . Pada akhirnya, terdapat suatu fenomena dimana banyak siswa tidak menyadari apabila dirinya sedang menjadi pelaku, atau bahkan korban perpeloncoan. Untuk itu, langkah awal yang harus diambil adalah memahami terlebih dahulu pengetian dari perpeloncoan  itu sendiri. 
 
Papalia, et. Al. (2004) menyatakan bahwa perpeloncoan  adalah perilaku agresif yang disengaja dan berulang untuk menyerang target atau korban, yang secara khusus adalah seseorang yang lemah, mudah diejek dan tidak bisa membela diri. Sedangkan bila kita mengkhususkan perpeloncoan yang terjadi di lingkungan sekolah (school bulyying) maka dapat diambil sebuah pengertian yang diberikan oleh Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005). Mereka mengartikan School bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut. 
Ada 5 kategori perilaku perpeloncoan tersebut, yaitu :
1. Kontak Fisik Langsung
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain
2. Kontak Verbal Langsung
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip.
3. Perilaku non-verbal langsung
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya disertai oleh perpeloncoan fisik atau verbal.
4. Perilaku non-verbal tidak langsung
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng.
5. Pelecehan seksual
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah perilaku-perilaku yang dapat dikategorikan sebagai perilaku agresi fisik dan bisa juga verbal.
 
Mengapa Melakukan perpeloncoan ?
Mengapa sampai seorang siswa dapat melaku perilaku perpeloncoan  terhadap siswa lain, yang seharusnya dapat menjadi teman sepermainan mereka?. Dalam penelitian Riauskina, Djuwita, dan Soesetio, (2005) disebutkan korban mempunyai persepsi bahwa pelaku melakukan perpeloncoan karena tradisi, balas dendam karena dia dulu diperlakukan sama (menurut korban laki-laki), ingin menunjukkan kekuasaan, marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan, mendapatkan kepuasan (menurut korban perempuan), dan iri hati (menurut korban perempuan). Adapun korban juga mempersepsikan dirinya sendiri menjadi korban perpeloncoan karena penampilan yang menyolok, tidak berperilaku dengan sesuai, perilaku dianggap tidak sopan, dan tradisi. 
 
Apa Dampak dari perpeloncoan?
perpeloncoan mungkin merupakan bentuk agresivitas antarsiswa yang memiliki akibat paling negatif bagi korbannya. Hal tersebut disebabkan karena dalam peristiwa perpeloncoan terjadi ketidakseimbangan kekuasaan dimana para pelaku memiliki kekuasaan yang lebih besar sehingga korban merasa tidak berdaya untuk melawan mereka. Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa korban bullying akan cenderung mengalami berbagai macam gangguan yang meliputi kesejahteraan psikologis yang rendah (low psychological well-being), penyesuaian sosial yang buruk, gangguan psikologis, dan kesehatan yang memburuk (Rigby, dalam Riauskina, Djuwita, dan Soesetio, 2005). Korban bullying juga bisa mengalami penyesuaian sosial yang buruk sehingga ia terlihat seperti membenci lingkungan sosialnya, enggan ke sekolah, selalu merasa kesepian, dan sering membolos sekolah. Apabila kita melihat lebih jauh lagi maka korban bullying juga dapat memancing timbulnya gangguan psikologis rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder). 
 
perpeloncoan ternyata tidak hanya menimbulkan dampak negatif dalam segi psikologis, namun juga dari segi fisik. Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) menyebutkan bahwa salah satu dampak dari perpeloncoan yang jelas terlihat adalah kesehatan fisik. Beberapa dampak fisik yang biasanya ditimbulkan perpeloncoan adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bagi para korban perpeloncoan yang mengalami perilaku agresif langsung juga mungkin mengalamin luka-luka pada fisik mereka. 
 
perpeloncoan Menghambat Aktualisasi Diri
Seorang psikolog terkemuka bernama Abraham Maslow menyebutkan bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Maslow menjelaskan bahwa seseorang baru dapat melakukan aktualisasi diri, yaitu keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri, apabila orang tersebut telah merasa bahwa kebutuhan fisiologis (seperti makan dan minum), rasa aman, kebutuhan sosial, dan kebutuhan akan harga diri telah terpenuhi dengan baik. 
 
Seorang siswa yang menjadi korban perpeloncoan dapat mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan lingkungannya, selalu merasa ketakutan dan tidak aman, bahkan merasa bahwa dirinya tidak lagi mempunyai harga diri akibat perilaku perpeloncoan yang diterimanya. Memahami teori Maslow maka hal tersebut dapat membuat siswa korban bullying kesulitan untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya. Salah satu contohnya adalah sebuah kisah nyata yang penulis dapatkan dari seorang siswa. Ia adalah seorang anak yang mempunyai potensi besar dalam bidang sepakbola sehingga dirinya memutuskan untuk bergabung dalam eskul sepakbola di sekolahnya dengan harapan dapat lebih mengembangkan potensinya. Namun apa yang terjadi? Ternyata sejak bergabung di eskul tersebut, dirinya kerap kali menjadi korban perpeloncoan dari kakak-kakak kelas yang juga anggota eskul tersebut. Pada akhirnya, akibat rasa takut dan cemas yang terus menerus oleh perilaku perpeloncoan yang diterimanya, membuat dirinya kesulitan untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya. Sayang sekali bukan?. Padahal siswa tersebut sebenarnya dapat membantu sekolahnya untuk mencetak prestasi dalam bidang sepakbola dengan potensi yang dimilikinya namun karena perpeloncoan, hal tersebut tidak dapat terwujud.
 
MOS Asyik Tanpa Perpeloncoan
Membaca pemaparan di atas, tergambarkan secara jelas bahwa tidak ada manfaat apabila seorang siswa melakukan perilaku bullying terhadap siswa lainnya. Selain mengakibatkan dampak negatif terhadap korbannya, seorang perilaku bullying juga dapat dicekal oleh hukum pidana, seperti yang terjadi pada beberapa praja IPDN yang menjadi tersangka dalam kasus kematian Cliff Muntu, Praja IPD asal Manado. Tentu saja penulis yakin tidak ada di antara kita yang mau bernasib demikian. Lalu hal apa yang dapat dilakukan oleh seorang siswa untuk menghapus perilaku perpeloncoan di sekolah?. Sebagai siswa, banyak sekali sebenarnya peranan yang dapat diambil untuk dapat berperan aktif dalam menghapus perilaku bullying di sekolah. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan tidak menjadi seorang pelaku. Tingkatkan rasa empati ( kemampuan yang tinggi untuk mengalami dan memahami emosi orang lain ) kita terhadap orang lain. Cobalah untuk merasakan emosi yang mungkindirasakan oleh seseorang yang menjadi korban perpeloncoan. Kemudian bayangkan apabila diri kita sendiri yang menjadi korban perpeloncoan. Tidak menyenangkan bukan?. Oleh karena itu, apabila kita tidak mau diperlakukan perpeloncoan oleh seseorang maka janganlah melakukan perpeloncoan terhadap orang lain. Setelah yakin bahwa diri kita tidak akan menjadi seorang pelaku perpeloncoan maka peran selanjutnya yang dapat dilakukan adalah menyebarkan informasi mengenai pengertian dan dampak negatif dari bullying kepada orang lain, khususnya sesama siswa sekolah. Hal ini dapat kita lakukan misalnya dengan menjadi penggagas sekaligus pelaksana Masa Orientasi Sekolah dengan tema MOS TANPA perpeloncoan. Pada kegiatan MOS tanpa perpeloncoan maka tujuan acara benar-benar diarahkan kepada membantu dan membimbing para siswa baru untuk dapat melewati proses adaptasi dengan baik. Acara dapat dikemas dengan berbagai kegaiatan-kegiatan yang mengasyikan, menarik, dan tentu saja bebas dari perilaku bullying. Apabila dirasakan ada kegiatan-kegiatan MOS tahun sebelumnya yang kurang bermanfaat dan menjurus kepada perilaku bulperpeloncoan maka jangan ragu untuk menghilangkannya. Gantilah dengan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat dan melibatkan interaksi antara siswa baru dengan siswa lama. Dengan demikian, suatu lingkungan yang menyenangkan dan kondusif untuk belajar akan semakin cepat dan mudah terbentuk. Selalu ingat dalam pikiran masing-masing, bahwa siswa baru adalah adik-adik kita yang membutuhkan bimbingan. Bukan suatu objek yang dapat kita perlakukan semau kita. Apabila hal ini dapat terlaksana maka niscaya semua siswa akan menjadikan lagu Paramitha Rusady sebagai lagu kesayangan karena masa sekolah mereka adalah masa-masa yang paling indah, tanpa bullying.
 
Sumber:
 
Hurlock, E.B. (1973). Adolescent Development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha, LTD. Jackson, S. & Rodriguez-Tome, H. (1993). Adolescence and Its Social Worlds. UK: LEA Ltdingin Publishers.
 
Papalia, Diane E., Olds, Sally W., & Feldman, Ruth D. (2004). Human Development (9th Ed.). New York: McGraw-Hill, Inc.
 
Riauskina, I. I., Djuwita, R., dan Soesetio, S. R. (2005). ”Gencet-gencetan” di mata siswa/siswi kelas 1 SMA: Naskah kognitif tentang arti, skenario, dan dampak ”gencet-gencetan”. Jurnal Psikologi Sosial, 12 (01), 1 – 13

 

M.ALI ZAIN S1/4/PAI
Didalam pembahasan mengenai tentang psikologi terdapat ilmu tentang kebutuhdasar.adapun kebutuhan tersebut meliputi ;
1.MOTIVASI
telah banyak penelitian yang berkaitan dengan karakteristik kepribadian.namun buktiyang berkaitan dengan sifat hubunga ini masih belum jelas para ahli psikologi yang percaya bahwa motifasi memberikan ragam dalam intensitas perilaku manusia,serta arah terhadap perilaku tersebut.karena tujuan pernelitian ini adalah untuk meneliti hubungan antara motifasi,sikap terhadap mengajar dan konsep diri bagi calon guru / pengajar.suatu kebutuhan hanya bias dipuaskan bila kebutuhan yang pada tingkatan yang lebih renda telah terpenuhi yang diatur dalam suatu hilarki yang disebut repotensi misalnya,seseorang tidak akan berhasil memenuhi kebutuhan aktualisasi diri (pengembangan diri) bila taraf pertama yang paling fundamental tidak terpenuhi.
*Sikap dan Motifasi
para ahli menyatakan tentang adanya dua variable sikap,yaitu: (a) sikap terhadap mengajar (young,1973,hal 194),dan (b) konsep diri (Le Benne dan Gresene,1965)keduanya disatukan erat dengan motifasi yang dapat memberikan arah terhadap perilaku individu.
2.KONSEP DIRI
Konsep diri memiliki energi yang berpengaruh terhadap perilaku pengajar,menghasilkan kegiatan pembelajaran yang penuh semangat,dan adanya rasa percaya bahwa pembelajaran tersebut bermanfaat.sejalan dengan Traver,purkey (1975) menyatakan bahwa alas an konsep diri dikaitkan dengan motifasi adalah bahwa motif dibelakang seluruh perilaku seorang guru dapat memelihara serta meningkatkan pemahaman dirinya sebagai manusia,dan sebagai seorang guru.sebagai contoh,seorang mahasiswa yang menilai dirinya efisien,cekatan,dan tangkas akan berperilaku sangat berbeda dengan mahasiswa yang merasa malas,bertanggung jawab dan merasa bodoh.perbedaan perilaku mahasiswa akan tergantung pada apakah melihat dirinya sebagai mahasiswa periang,sabar dan penuh semangat atau mahasiswa yang emosional,egois dan tak acuh.dengan demikian konsep diri mahasiswa akan sangat berperan penting dalam mempengaruhi perilakunya didalam kelas dan menentukan hasil belajar(snygg&cmbs,1965)
Para ahli meneliti pada suatu universitas dengan menggunakan(1)kuisioner yang berkaitan dengan motivasi kerja,digunakan untuk mengukur skala motivasi:rasa aman,rasa memiliki,dan aktualisasi diri mahasiswa(2)kuisioner yang berkaitan dengan
Sifat mengajar,digunakan untuk mengukur sikap calon guru terhadap tanggung jawab siswa,kerjasama siswa dan kemandirian siswa daalm belajar,dan (3)kuisioner yang berkaitan dengan konsep diri digunakan untuk mengukur:sikap social mahasiswa,perilaku social,kebiasaan,orientasi social,dan stabilitas emosional mahasiswa.
Karena ini menyangkut tentang aktualisasi diri mahasiswa sebagai seorang pengajar/pendidik yang profesional maka keduanya antara motivasi dengan konsep diri merupakan suatu satu kebutuhan yang dasar untuk keberhasilan dalam suatu pembentukan kepribadian seorang mahasiswa/calon pendidik.

DARI GUBERNUR KE GUBERNUR

Posted: Juli 3, 2007 in Artikelku

By Mustolih Brs,

Pada masa pra sejarah orang berpolitik untuk mendapatkan keamanan. Sekelompok orang yang hidup dalam teritori tertentu masih hidup dalam ancaman binatang buas dan keganasan alam. Mereka belum mengenal alat dan kehidupan mereka nomaden (tidak bertempat tinggal), mereka hidup berpindah-pindah dari satu lahan subur ke lahan subur lainnya, hidup mereka selalu berada di bawah ancaman binatang buas seperti ular dan harimau. Ditambah keganasan alam seperti dinginnya air hujan, teriknya matahari, halilintar tumbangnya pohon-pohon membuat mereka bersatu.
Hanya satu yang menjadi tujuan mereka yaitu bertahan hidup, mereka bahu membahu dalam menghadapi musuh bersama yaitu binatang buas dan keganasan alam. Tidak ada perebutan untuk menjadi pemimpin, bahkan menjadi pemimpin pada masa itu pediren (saling menunjuk) karena dengan menjadi pemimpin kelompok berarti dia harus berani mempertaruhkan nyawa untuk melindungi kelompoknya dari serangan binatang buas. (Kepemimpinan semacam ini sangatlah ideal di masa sekarang)
Setelah batu dikenal sebagai alat dan senjata mereka menjadi kelompok masyarakat yang berburu, siang hari mereka memburu binatang buas untuk dimakan dan malam hari mereka tinggal di gua-gua, keadaan pelan-pelan menjadi aman, binatang buas banyak yang takluk, dan alam (bumi) mulai di kelola jadilah mereka masyarakat menanam (bercocok tanam).
Meskipun keadaan sudah aman dan alam mulai bersahabat tetapi semangat penaklukan (spirit of struggle) akibat berburu itu tidak hilang dari mereka, terjadilah persaingan kekuatan individu dalam kelompok untuk menjadi orang yang diakui sebagai sang penakluk. Mereka berkelahi mengadu kekuatan untuk menjadi pemimpin dalam kelompok, yang menang itulah yang terpilih menjadi pemimpin.
Sejak saat itulah politik yang berarti perebutan kekuasaan dikenal dalam skala yang kecil, kelompok. Setelah memenangkan persaingan dalam sebuah kelompok orang itu tidak merasa puas, dia mulai melakukan ekspansi penaklukan ke kelompok-kelompok lain. Terjadilah perang suku, atau kabilah. Semakin lama kelompok-kelompok lain banyak yang takluk di bawah pengaruh sang penakluk. Dia mendeklarasikan wilayah yang dikuasainya menjadi sebuah koloni besar, yang dalam perjalanan waktu kemudian menjadi sebuah negara.
Pemimpin sebuah Negara yang awalnya terdiri dari banyak kelompok ini, pun belum merasa puas dengan daerah penaklukannya mulailah mereka menaklukan negara-negara lain. Terjadilah penjajahan suatu negara atas negara lain. Perang Dunia I, dan II menjadi puncak penaklukan dari sang penakluk. Sang penakluk ini sekarang bisa kita sebut saja sebagai dunia barat. Mereka membuat negara lebih dahulu kemudian baru membentuk bangsa.

Politik Kemerdekaan
Berbeda dengan Indonesia, dia menjadi sebuah negara bukan karena spirit of struggle atau semangat penaklukan, tetapi Indonesia menjadi sebuah negara bangsa karena adanya kepentingan bersama dari masyarakat yang terjajah. Seluruh masyarakat Indonesia menggalang persatuan untuk menghadapi musuh bersama yaitu penjajahan, dan mempunyai tujuan bersama yaitu kemerdekaan.
Sumpah Pers yaitu bersatunya segenap yong (pers) dari seluruh penjuru nusantara menjadi tonggak sejarah terbentuknya bangsa sebelum terjadi bentuk sebuah negara. Perjuangan politik selanjutnya setelah sumpah pers inilah yang membentuk sebuah negara yag diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Politik pada masa ini adalah cara bagaimana untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi, kepentingan bersama mereka satu yaitu mengusir penjajah persaingan antar kelompok dalam bangsa yang telah terbentuk melalui sumpah pers sama sekali tidak terjadi. Sama persis dengan keadaan pra sejarah ketika musuh bersamanya adalah biatang buas dan keganasan alam. Tetapi pasca 17 Agustus 1945, mulailah terjadi persaingan antar kelompok dalam bangsa sendiri.

Politik Menjajah Bangsa Sendiri
Politik dalam pengertian terminologi adalah cara untuk mencapai suatu tujuan, secara linguistik politik berasal dari kata policy yang berarti kebijaksanaan. Politik juga dimaknai sebagai perebutan kekuasaan. Sebenarnya hal itu bisa menjadi sebuah rumusan yang cukup comphrehensif jika kita berpolitik secara dewasa. Negara terdiri dari wilayah teritori, pemerintahan dan masyarkat. Wilayah (entah berupa daratan atau lautan) menjadi batas-batas dari kedaulatan sebuah negara, yang didiami oleh sekelompok masyarakat yang memilih seorang pemimpin sebagai badan pemerintahan. Proses suatu masyarakat memilih pemimpin inilah yang sekarang ini disebut politik.
Kedewasaan berpolitik menjadi syarat mutlak bagi seorang politisi, ukuran kedewasaan berpolitik ini bisa dilihat ketika seorang politisi kalah dalam sebuah proses pemilihan. Apakah dia kemudian menerima dengan legowo, atau membuat sebuah rekayasa untuk menjatuhkan lawannya.
Kita bisa melihat Amerika Serikat dalam pemilihan presiden yang bertarung memperebutkan suara di Amerika Serikat Al Gore dengan George Walker Bush, begitu tahu bahwa Gore kalah dalam penghitungan suara dia langsung memberikan ucapan selamat kepada lawannya Bush, hal itu menunjukkan sportifitas berpolitik. Berbeda dengan kondisi di Indonesia ketika kalah dalam pemilihan dia akan membuat organ tandingan, atau kalau konteksnya negara membuat negara tandingan.
Sekarang ini politik di Indonesia dipahami sebagai perebutan kekuasaan semata-mata, bahkan terkadang mengorbankan kepentingan bangsa yang lebih besar. Tentu saja hal demikian bukanlah sikap yang dewasa secara politis.
Bedanya politik pra sejarah dengan sekarang adalah kalau dulu seorang pemimpin berani mengorbankan nyawa untuk keselamatan kelompok (negara), sekarang seorang pemimpin justeru mengorbankan kelompok untuk keselamatan dirinya.

Peran Pers dalam Percaturan Politik
Jawa Tengah tahun 2008 mendatang akan melangsungkan proses pemilihan pemimpin di Jawa Tengah. Jika kita merujuk pada masa pra sejarah, calon-calon pemimpin-pemimpin itu akan diadu dalam sebuah arena untuk bertarung siapa yang menang dialah yang menjadi pemimpin, hal ini tidak mengorbankan rakyatnya atau kelompoknya, sekaligus menunjukkan keberanian berkorban untuk melindungi kelompoknya.
Tetapi konteks demokrasi menabukan hal tersebut, demokrasi meniscayakan anti kekerasan (non violence) demokrasi menyiasati “pertarungan” itu dengan melibatkan rakyatnya, siapa yang didukung oleh suara terbanyak dialah yang akan menjadi pemimpin dalam kelompok itu.
Di Jawa Tengah kans perebutan gaungnya mulai terasa. Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto habis masa bhaktinya, jago-jago calon gubernur mulai pasang pesona. Mereka menggunakan media sebagai strategi menarik simpati pendukungnya.
Masing-masing sistem pemilihan terdapat kelemahan dan kelebihannya, kelebihan dari system beradu kekuatan fisik (sekarang bukan fisik tetapi kecerdasan dengan debat kandidat) adalah pemimpin yang terpilih adalah seorang dengan kualitas kekuatan yang paling tinggi. Sedangkan kelemahannya tentu saja pada tidak terlibatnya rakyat dalam proses pemilihan seorang pemimpin. Sedangkan kelebihan dari system demokrasi adalah setiap warga akan terwakili dalam menentukan pemimpinnya, sementara kelemahannya hitungan kekuatan seseorang berada pada “cacah jiwa” dari rakyatnya, hal ini sangat rentan terhadap pembelian suara. Dan menafikan kualitas dari pemimpin yang bakal dipilihnya. Akibatnya orang yang terpilih adalah orang dengan “kekuatan” rendah.
Di mana peran pers dalam konteks pemilihan pemimpin (Jawa Tengah sekarang Pilkada) ini? Hemat penulis pers harus mengambil ruang-ruang kosong yang belum terisi, misalnya, Pertama Pers harus mampu mengukur sejauh mana calon pemimpin ini memiliki “keberanian untuk mengorbankan diri” nya untuk keselamatan rakyat yang dipimpinnya. Kedua, Pers harus menelusur secara jeli kemungkinan penyelewengan yang dilakukan calon pemimpin jangan sampai ia tega “mengorbankan rakyat”nya untuk kesejahteraan dirinya sendiri.
Dua hal ini akan banyak turunannya, dan menjadi pekerjaan rumah. Kampanye pers dalam dua ruang dia atas mempunyai dua sisi tajam, pertama Jika keberanian calon untuk mengorbankan nyawanya untuk rakyatnya sedikit, dan kemungkinan untuk mengorbankan nyawa rakyatnya besar tentu saja kampanye yang dilakukan pers adalah jangan pilih mereka. Jika keberaniannya berkorban besar dan kemungkinan mengorbankan itu kecil maka kampanye yang dilakukan adalah pilihlah mereka.
Tetapi inilah pekerjaan sulit dari insan pers, hampir semua calon gubernur mempunyai keberanian berkorban yang besar sebelum jadi gubernur, artinya keberanian calon ini ditunjukkan saat kampanye, tetapi kadang-kadang justeru setelah duduk di kursi kekuasaan keberanian berkorban ini berubah menjadi keberanian mengorbankan ‘orang’ lain.
Oleh karena itu dua hal ini penting untuk menjadi garapan Pers tidak hanya Pra Pilkada tetapi justeru pasca Pilkada. Agar ke depan pemimpin yang terpilih tidak sekali-sekali mengorbankan nyawa rakyatnya untuk keselamatan pribadinya. Tidak seperti yang sudah-sudah. Wallahu a’lamu bishowab.
Kebumen, 30 Juni 2007
Penulis,
Mustolih Brs
Penulis adalah Aktifis Sosial di Kebumen, Staf Pengajar di STAINU Kebumen, Sekretaris Lakpesdam NU Kebumen, Sidang Redaksi Tabloid Blakasuta, dan Sekretaris Foksika PMII Cabang Kebumen.
Refferensi:
· Levi Strauss Strukturalisme, Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2001
· Goerge Rithzer, Sosiologi, Ilmu Berparadigma Ganda, Galang Press Yogyakarta.