Arsip untuk Februari, 2009

Ponari, Dan Keajaiban Air

Posted: Februari 18, 2009 in Artikelku
Tag:

Ponari, dukun sakti cilik di Jombang dua minggu ini menjadi fenomena yang heboh. Dunia kedokteran digugat. Bagaimana rasionalisasi keampuhan dukun cilik beserta batu bledeknya dapat dilihat secara ilmiah dan rasional. Sichico Murata pengarang buku the true power of water,menyatakan bahwa air itu dapat menerima pesan. Buku yang merupakan hasil penelitian ini menyatakan bahwa dengan Hado orang dapat sembuh dari berbagai penyakit.
Sakit pada dasarnya adalah terdapatnya energi negatif yang bersarang dalam tubuh.
The True Power of Water membuktikan bahwa air dapat menerima pesan. Jika air diberi pesan (perlakuan) negatif maka ia akan menjadi bermuatan negatif, dan air yang diberi muatan positif akan menjadi energi positif.
Dua gelas yang berbeda, gelas yang satu ditempeli tulisan “Bangsat” dan gelas yang satunya lagi bertuliskan “Terima Kasih” diteliti setelah didinginkan terlebih dahulu. Ternyata yang diberi tulisan “Bangsat” sama sekali tidak membantuk kristal. Dan air dalam gelas yang diberi tulisan “Terima kasih” menjadi kristal yang indah. Bagaimana jika kedua air dalam gelas ini diminum? Pasti akan membawa pengaruh dalam tubuh. Apalagi tubuh manusia 75% terdiri dari air. Maka manusia semakin peka, semakin berfungsi potensi air dalam tubuhnya.
Dalam kasus Ponari ini sebuah batu yang dikatakan mempunyai energi luar biasa, mampu mengubah kondisi air menjadi obat penawar bagi segala macam penyakit. Air yang dicelup dengan batu Bledek milik Ponari itu dimasuki pesan positif oleh ribuan orang yang datang dan Ponari yang mungkin tida menyadari hal itu.
Mengubah air yang kita minum menjadi bermuatan positif juga penting. Agar tubuh senantiasa segar, tidak sakit dan mampu menerima pesan lebihbanyak dan lebih peka,
Ponari dan pengobatannya adalah keaslian masyarakat kampung yang anti modernisasi.(Brs)

Iklan

Budaya Menulis di Sekolah Dasar

Posted: Februari 16, 2009 in Artikelku

logo_smcetak
PENDIDIKAN

16 Februari 2009
Suara GurU

DALAM pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, menulis merupakan salah satu unsur penting pembelajaran. Menulis sebagai bentuk keterampilan aktif-produktif merupakan suatu aktivitas untuk mengomunikasikan pikiran secara tertulis.

Aktivitas menulis kreatif bagi siswa sekolah dasar (SD) terbilang masih rendah. Sebab, para siswa cenderung malas dan belum bisa menuangkan gagasan dan pemikiran dalam bentuk tulisan. Kelemahan tersebut diperkuat oleh faktor pendidik yang terbiasa menekankan teori daripada praktik.

Tak pelak, guru belum menerapkan kreativitas mengajar. Adalah ironis ketika gaung kreativitas guru makin santer dibicarakan, masih ada guru menggunakan metode konvensional dalam mengajar.

Padahal, membiasakan siswa menuangkan gagasan dalam tulisan merupakan langkah awal yang tepat sebagai proses penanaman budaya menulis kreatif. Untuk menghidupkan kemauan dan membiasakan siswa melatih keterampilan menulis, perlu formula dalam mengontruksi hal itu.

Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Pertama, menerapkan prinsip keteladanan. Seorang guru bahasa dan sastra Indonesia seharusnya membiasakan diri mengekspresikan diri dalam tulisan sebagai ruang keteladanan bagi siswa. Prinsip keteladanan guru sangat efektif diterapkan, mengingat anak SD/MI cenderung senang mengimitasi kebiasaan guru.

Kedua, membiasakan siswa berlatih menuliskan pengalaman empiris mereka, baik berupa puisi, prosa, maupun cerpen. Ketiga, menulis membutuhkan kekayaan kosakata dan gagasan menarik, maka guru perlu membiasakan siswa rajin membaca buku sebagai bekal menulis.

Keempat, menghidupkan majalah dinding di sekolah sebagai wadah penyalur kreativitas menulis siswa. Jangan lupa, berikan penghargaan kepada siswa dengan tulisan terbaik sebagai motivasi berkarya.

Beberapa langkah tersebut minimal dapat memberikan gambaran agar pembelajaran menulis tidak hanya berkutat pada segi teoretis. Pembelajaran menulis akan bermakna ketika telah menyentuh ranah implementasi.

Jadi, bisa diharapkan bukan sekadar hal utopis bagi siswa untuk bisa menuangkan gagasan dalam tulisan. Kunci sukses pembelajaran ada di tangan pendidik. Karena itu, jadilah pendidik yang pandai mengantarkan siswa memahami makna belajar. (53)

– Ismilah Ardianingrum, staf pengajar MIN Muktisari, Kebumen

Berteater Itu Ibadah

Posted: Februari 1, 2009 in Artikelku

Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Ayat ini menginspirasi penulis bahwa segala sesuatu harus dilandasi sebagai Ibadah. Termasuk dalam hal ini ketika berteater. Berteater adalah bentuk pengungkapan ekspresi diri, dalam menyikapi realitas sosial, budaya, politik, hukum dan lain-lain.
Penyikapan ini biasanya adalah sikap kritis para pekerja teater terhadap pemerintah, ini sah dan dilindungi undang-undang. Totalitas dalam teater dibutuhkan sama seperti dibutuhkannya khusuk dalam shalat. Seorang yang berteater dengan niat ibadah,┬ábagaikan seorang SUFI yang sedang melakukan kontemplasi (berdzikir) melalui tahapan-tahapan dzikir billafdzi (dzikir dengan lafadz, sambil menggoyang-goyangkan kepala) ini adalah tingkatan dzikir paling awam, dalam literatur Tasawwuf disebut syari’at, seperti seorang yang baru mengenal Islam lalu meneriakkan Allahu Akbar di mana-mana. Naik ke taraf dzikir bil qalb, mengingat Allah dengan hati, selalu dalam kondisi apapun, dalam siatuasi bagaimanapun hanya Allah yang tampak dalam hatinya, seorang yang telah melalui tahap ini, tidak lagi teriak-teriak Allahu Akbar di jalan-jalan, mereka melakukan dakwah dengan hati, bukan dengan lisan, tahap ini adalah tahap hakikat. Tahap terakhir yang hanya dapat dimiliki para wali adalah dzikir bil hal, setiap melihat keadaan langsung melihat Allah, Allah ada di mana-mana di semua tempat, di semua benda, karena semua hal, semua tempat, semua benda, semua makhluk hakikatnya hanyalah Allah semata, tahap ini disebut tahap ma’rifat. Gus Dur sudah sampai pada tahap ini, oleh karenanya setiap melihat realitas semuanya Allah, bahkan dalam kondisi seperti yang dialami Inul, Gus Dur melihat peran Allah di sana. Semua hanya Allah. Itulah tauhid sejati, tiada yang lain kecuali hanya Allah. Itulah makna La ilaaha Illa Allah, Itulah tahap Ma’rifat, seorang ma’rifat falsafi seperti Al Hallaj, atau Syekh Siti Jenar, melihat kebersatuan Allah dengan dirinya, dirinya lebur hilang dalam wujud Allah, seorang ma’rifat akhlaqi melihat bahwa ujung akhir manusia adalah menjadi insan kamil, (manusia sempurna).
Berteater sebagaimana penulis lakukan selama ini, adalah upaya dari rangkaian dzikir dari lafadz, qalb (hati) dan ahwal untuk menuju insan kamil.
Hidup….!! Teater menuju Insan Kamil atau mewujud dalam wahdatul wujud.