Arsip untuk Juni, 2007

Slogan Kebumen Beriman yang merupakan kepanjangan dari Bersih, Indah dan Nyaman bukanlah kata tanpa makna. Selain berarti kota yang bersih, kota yang indah dan kota yang nyaman juga bemakna iman secara religious yaitu “meyakini dengan sepenuh hati, diikrarkan dengan lisan dan diimplementasikan dalam kehidupan”.

Masyarakat Kebumen telah lama memulai pencarian jati diri ini, dengan berbagai kegiatan budaya baik swadaya masyarakat maupun dibiayai oleh Dinas P dan K. Swadaya masyarakat budaya dilakukan secara tidak formal dari kumpulan orang di lesehan-lesehan peduli budaya Kebumen, semisal kegiatan rutin Arisan Teater yang digagas oleh kawan-kawan teater mahasiswa STAINU dan beberapa group teater di Kebumen.

Meskipun demikian gencar usaha pencarian jati diri Kebumen, sampai hari ini belum ditemukan juga ciri khas Kebumen bahkan sampai soal paling sederhana, makanan apa yang khas Kebumen?

Dari logat bahasanya Kebumen terbagi dua, sebelah timur aliran sungai Lukulo berbahasa dengan dominan ‘o’, dan bandek (Poko’e) dan di sebelah barat aliran sungai Lukulo dominan vokal “a” dan “k” medok, (Pokoke), dan dia antara aliran sungai Lukulo dan aliran sungai Kedungbener ini bahasanya “campur bawur”, ada yang memakai Poko’e ada yang memakai Pokoke, sedangkan sebelah utara Gunung Krakal masyarakat lebih fasih berbicara dengan logat Wonosobo dengan memanjangkan fonem akhir.

Kebiasaan dan adat istiadat di Kebumen juga beragam, penduduk yang tinggal di sebelah barat sungai Lukulo lebih suka “nanggap” Calung, dan Ebleg sedangkan, penduduk yang tinggal di sebelah timur sungai Lukulo lebih suka “nanggap” Wayang atau Ndolalak untuk acara resepsi.

Orang Kebumen yang tinggal di sebelah timur aliran sungai Lukulo disebut “Wong wetan kali”, diantaranya Kecamatan Kutowinangun, Ambal, Mirit lebih terkesan “mriyayi” sedang di Kecamatan Padureso, Poncowarno dan Alian lebih kental logat Wonosobo. Sebaliknya orang Kebumen yang tinggal di sebelah barat aliran sungai Lukulo disebut “Wong kulon kali”, diantaranya Kecamatan Pejagoan, Klirong, Sruweng, Petanahan, Kuwarasan, Gombong, lebih terkesan “merakyat”, meskipun tidak seluruhnya.

Tetapi secara menyeluruh masyarakat Kebumen sangat taat beribadah, dan patuh terhadap para Kyai di daerahnya masing-masing, ini terbukti dengan banyaknya jumlah masjid, pondok pesantren dan madrasah di Kebumen. oleh karenanya Kebumen dikenal dengan kota Santri.

Dari dua pembagian wilayah geografis di daerah Kebumen ini, kita bisa membaca bahwa sebenarnya Kebumen adalah daerah “Jepitan” dari dua budaya besar “Bagelen” dengan “Banyumas” yang terlebih dahulu mapan dan  menonjol dengan ciri khas daerahnya. Budaya bagelen adalah budaya di daerah Purworejo, budaya ini logat bahasanya “Mbandek” poko’e, dan cenderung lebih halus dan sopan, hal ini bersebab Purworejo dekat kepada Yogyakarta, yang merupakan daerah bangsawan keraton penuh “Anggah Ungguh” Jawa yang halus. Wetan Kali di Kebumen lebih halus dan mriyayi dikarenakan lebih dekat kepada budaya besar “Ngayogyokarto” wajar jika orang wetan kali lebih tata krama secara bahasa karena dipenuhi dengan aturan-aturan kepriyayen. .

Sedangkan daerah kulon kali lebih mendekati budaya Banyumas yang sangat merakyat, bahasa Banyumas adalah bahasa keseharian kaum Tani, yang jarang menggunakan kata basa basi sehingga terkesan keras karena langsung ke pokok persoalan, juga karena tidak ada perbedaan bahasa yang signifikan untuk berkomunikasi dengan atasan maupun bawahan. Artinya orang kulon kali lebih “Mbawor” dan seadanya karena tidak ada aturan-aturan khusus yang mengikat.

Pertemuan dua wilayah geografis ini dideklarasikan pada tanggal 1 Januari  70 tahun yang lalu, dengan bersatunya Kebumen dan Karanganyar, hari inilah yang kemudian dijadikan patokan sebagai hari jadi Kebumen yang diperingati tiap tahun.

Yang menarik dicermati dari masyarakat Kebumen adalah keluwesannya dalam menerima budaya apapun yang masuk, walaupun konsekuensinya Kebumen sampai hari ini belum menemukan jati dirinya. Seperti juga daerah lain di pulau jawa, Kebumen sangat menerima tradisi Jawa, hal ini masih dominan dilakukan oleh masyarakat Kebumen, seperti ritual suran di Banyumudal, dan Watubarut setiap Jum’at Kliwon sore di bulan sura (Muharram). Tetapi ketika Islam masuk,  budaya itu juga diterima tanpa reserve. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya pondok pesantren yang menjadi basis pendidikan Islam. Tidak hanya itu tradisi barat yang “kafir” pun bisa juga diterima di Kebumen tanpa syarat. Keterbukaan dalam menerima berbagai macam budaya lain ini bukan berarti di Kebumen masyarakatnya adem ayem saja.

Di balik keluwesan itu tersimpan bara sekam yang siap menyembul ke permukaan jika kondisi menuntut. Seperti kerusuhan 65 di Kebumen antara Tentara dengan PKI, kemudian keluwesannya dalam menerima DI/TII yang sampai menimbulkan pemberontakan, kemudian kuatnya pasukan Angkatan Oemat Islam di Somalangu, dan terakhir kerusuhan 98 antara pribumi dan non pribumi terlepas dari permainan politik manapun. Jika kita lebih mendalami akar budaya dari seluruh rangkaian sejarah dan apapun yang terjadi di Kebumen maka kita akan segera bisa menarik kesimpulan bahwa sebetulnya budaya Kebumen adalah budaya perlawanan.

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

Budaya Perlawanan

Budaya perlawanan ini juga bisa kita tarik dari sejarah desa Kebumen yang berawal dari nama Ki Bumi, yang sebetulnya bernama Pangeran Bumidirja, paman Raja Kartasura, Amangkurat III yang melarikan diri dari Keraton karena kekejaman dan kesewenang-wenangan Raja Amangkurat kepada rakyat Kartasura. Raja Amangkurat melakukan politik “Tumpes Karang” untuk siapapun yang tidak menyepakati dan tidak mau menerima perintahnya, termasuk permaisurinya, dia menghabisis 6000 ulama Jawa, Pamannya sendiri Pangeran Pekik, bahkan putera mahkotanya sendiri Tejoningrat yang dianggap “mbalelo” karena berhubungan dengan Roro Hoyi dibunuh.

Pamannya yaitu Pangeran Bumidirja yang tidak setuju perbuatan keponanaknya diam-diam meninggalkan keraton dan melakukan penyamaran dengan nama Ki Bumi, beliau lari ke arah barat  yang sekarang disebut sebagai Kebumen, dia ambil dari kata Ki-Bumi ditambah ater an. Ki-Bumi-an dalam lidah Jawa nama ini lebih fasih dengan nama Kebumen. Dalam pelariannya ini Ki Bumi bermaksud untuk menggalang kekuatan melawan keponakannya sendiri yang sewenang-wenang.

Dari awal mula berdirinya daerah Kebumen sesungguhnya dapat kita tarik kesimpulan bahwa akar budaya Kebumen adalah “perlawanan”. Perlawanan ini bukan saja dalam artian politis, memberontak terhadap penguasa tetapi juga dalam melakukan kerja-kerja kerakyatan.

Kita lihat saja sejarah yang berulangkali mencatat berbagai gejolak di Kebumen, mulai dari Kerusuhan yang diakibatkan oleh Pembantaian PKI oleh militer di Tahun 1965, kemudian disusul adanya isu bahwa Angkatan Oemat Islam (AOI) di Somalangu yang semula merupakan kumpulan Barisan Islam pembela negara mati-matian menjadi pejuang gerilyawan dalam mengusir penjajah, tetapi setelah merdeka dianggap melakukan boikot terhadap militer, dan dianggap memberontak, hanya karena mereka tidak bersedia bergabung bersama TNI, kemudian mereka di dianggap pemberontak dan ditumpas oleh TNI.

Masuknya DI/TII Kartosuwiryo dalam pemahaman keagamaan sebagian orang Kebumen, yang kemudian menimbulkan anggapan salah terhadap masyarakat Kebumen, akhirnya terjadi penumpasan terhadap kelompok DI/TII di Kebumen bersamaan dengan penumpasanny di seluruh Indonesia.

Kerusuhan terakhir terjadi tahun 1998, yaitu  kerusuhan yang terindikasi bersebab dari konflik ras, Pribumi dan non pribumi, kerusuhan ini memakan korban 46 bangunan hangus terbakar. Kejadiannya bermula dari pelayan sebuah Toko milik China di kompleks Stanplat Colt, yang diisukan dianiaya oleh majikannya, pelayan ini kemudian lari ke kerumunan orang di Stanplat yang kebanyakan pribumi, mereka langsung bergerak menuju Toko dan membakar ban bekas, dan memasukkannya ke dalam toko, seisi toko beserta bangunannya ludes terbakar. Kejadian ini menimbulkan perhatian orang banyak, dalam suasana panas dan “dendam” terhadap orang non pribumi yang –selama ini terkenal tidak ramah, sombong, dan cenderung menghina orang pribumi–, mereka berlarian ke seluruh toko milik non pribumi yang ada di Kebumen, dalam waktu semalam 46 toko ludes terbakar..

Kejadian-kejadian ini makin membuktikan bahwa akar budaya, dan selama ini tidak pernah di ungkap adalah budaya perlawanan berdampingan dengan budaya bagelen-banyumasan yang terkenal. Keningratan sebagai ciri budaya bagelen, dan kerakyatan sebagai ciri Banyumas terintegrasi secara sadar dalam diri orang-orang Kebumen.

Perlahan-lahan namun pasti budaya jepitan ini membentuk sub-budaya tersendiri yaitu budaya Kebumen. Meskipun baru berumur 70 tahun, tetapi sub-budaya ini berpotensi membentuk budaya tersendiri yang mandiri. Semoga.

Kebumen, 25 Maret 2006 Penulis Mustholih Brs Staf Pengajar STAINU Kebumen

Iklan

Apa saja yang telah anda kerjakan hari ini? Anda bangun tidur, lalu Salat Subuh (bagi yang Islam dan menjalankan salat). Mungkin ada sedikit waktu merapikan kamar sebelum mandi dan sarapan, lalu berangkat menjalankan aktivitas luar rumah, ketemu orang-orang di jalan, ngobrol, kerja, dan seterusnya.
Pernahkah anda berpikir, buat apa semua rutinitas itu kita lakukan? Buat apa anda mendesain sebuah webpages (kalau anda seorang web designer), menghitung laba-rugi (kalau anda seorang akuntan), dan lain-lain, termasuk buat apa saya dan weblogger lain mau repot-repot membikin dan mengisi halaman blognya? Benarkah sekadar mencari penghasilan material? Kepuasan batin? Naluri sebagai hewan primata berkecerdasan tinggi buat memenuhi kebutuhan fisik dan mental yang tiada pernah terpuaskan? Atau sebuah laku ibadah yang musti dijalani sebagai umat dari Sang Maha Pencipta?
Abraham Maslow (1908-1970) adalah seorang psikolog yang mencoba menemukan jawaban sistematis atas pertanyaan tersebut melalui teorinya yang tersohor, yakni teori hirarki kebutuhan. Menurut Maslow, kunci dari segala aktifitas manusia adalah keinginannya untuk memuaskan kebutuhan yang selalu muncul dan muncul. Kebutuhan manusia terdiri atas lima lapis berjenjang vertikal yaitu (dari bawah) : kebutuhan fisiologis (physiological needs), kebutuhan akan rasa aman dan kepastian (safety and security needs), kebutuhan akan cinta dan hubungan antar manusia (love and belonging needs), kebutuhan akan penghargaan dan pengakuan (esteem needs), dan kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs).
Maslow menyusun lima jenis kebutuhan tersebut secara berjenjang karena, seperti yang dia amati, beberapa kebutuhan baru menampakkan diri ketika kebutuhan pada level bawahnya terpenuhi, dan sebaliknya. Sebagai contoh, kalau anda seorang pengangguran tak berduit dan tidak ada orang yang bersedia menanggung kebutuhan hidup kamu padahal perut sangat lapar, pikiran kamu akan dipenuhi keinginan untuk memperoleh makanan (kebutuhan fisiologis) dan cenderung untuk melepaskan sementara kebutuhan lain, misalnya kebutuhan akan rasa aman (anda nyolong bakpao di pasar dengan risiko digebuki massa), atau kebutuhan akan rasa harga diri (berapa sih harga diri yang anda korbankan dengan menjadi maling bakpao?). orang Jawa melukiskan keadaan ini dengan istilah “Wong ngelih pikirane ngalih”.
Kebutuhan fisiologis (physiological needs) adalah kebutuhan yang paling mendasar. Oksigen untuk bernapas, air untuk diminum, makanan, tidur, buang hajat kecil maupun besar, dan seks merupakan contoh kebutuhan fisiologis.
Segera setelah kebutuhan dasar terpenuhi, orang mulai ‘cari-cari’. Kebutuhan level kedua, yakni kebutuhan akan rasa aman dan kepastian (safety and security needs) muncul dan memainkan peranan dalam bentuk mencari tempat perlindungan, membangun privacy individual, mengusahakan keterjaminan finansial melalui asuransi atau dana pensiun, dan sebagainya.
Kebutuhan level ketiga adalah kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki (love and belonging needs). Ketika kita menginginkan sebuah persahabatan, menjadi bagian dari sebuah kelompok, dan yang lebih bersifat pribadi seperti mencari kekasih atau memiliki anak, itu adalah pengaruh dari munculnya kebutuhan ini setelah kebutuhan dasar dan rasa aman terpenuhi.
Level keempat dalam hirarki adalah kebutuhan akan penghargaan atau pengakuan (esteem needs). Maslow membagi level ini lebih lanjut menjadi dua tipe, yakni tipe bawah dan tipe atas. Tipe bawah meliputi kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, perhatian, reputasi, kebanggaan diri, dan kemashyuran. Tipe atas terdiri atas penghargaan oleh diri sendiri, kebebasan, kecakapan, keterampilan, dan kemampuan khusus (spesialisasi). Apa yang membedakan kedua tipe adalah sumber dari rasa harga diri yang diperoleh. Pada self esteem tipe bawah, rasa harga diri dan pengakuan diberikan oleh orang lain. Akibatnya rasa harga diri hanya muncul selama orang lain mengatakan demikian, dan hilang saat orang mengabaikannya.
Situasi tersebut tidak akan terjadi pada self esteem tipe atas. Pada tingkat ini perasaan berharga diperoleh secara mandiri dan tidak tergantung kepada penilaian orang lain. Dengan lain kata, sekali anda bisa menghargai diri anda sendiri sebagai apa adanya, anda akan tetap berdiri tegak, madheg pandhito, bahkan ketika orang lain mencampakkan anda!
Aktualisasi diri
Inilah puncak sekaligus fokus perhatian Maslow dalam mengamati hirarki kebutuhan. Terdapat beberapa istilah untuk menggambarkan level ini, antara lain growth motivation, being needs, dan self actualization.
Maslow melakukan sebuah studi kualitatif dengan metode analisis biografi guna mendapat gambaran jelas mengenai aktualisasi diri. Dia menganalisis riwayat hidup, karya, dan tulisan sejumlah orang yang dipandangnya telah memenuhi kriteria sebagai pribadi yang beraktualisasi diri. Termasuk dalam daftar ini adalah Albert Einstein, Abraham Lincoln, William James, dam Eleanor Roosevelt.
Berdasar hasil analisis tersebut, Maslow menyusun sejumlah kualifikasi yang mengindikasikan karakteristik pribadi-pribadi yang telah beraktualisasi :
1. Memusatkan diri pada realitas (reality-centered), yakni melihat sesuatu apa adanya dan mampu melihat persoalan secara jernih, bebas dari bias.
2. Memusatkan diri pada masalah (problem-centered), yakni melihat persoalan hidup sebagai sesuatu yang perlu dihadapi dan dipecahkan, bukan dihindari.
3. Spontanitas, menjalani kehidupan secara alami, mampu menjadi diri sendiri serta tidak berpura-pura.
4. Otonomi pribadi, memiliki rasa puas diri yang tinggi, cenderung menyukai kesendirian dan menikmati hubungan persahabatan dengan sedikit orang namun bersifat mendalam.
5. Penerimaan terhadap diri dan orang lain. Mereka memberi penilaian tinggi pada individualitas dan keunikan diri sendiri dan orang lain. Dengan kata lain orang-orang yang telah beraktualisasi diri lebih suka menerima kamu apa adanya ketimbang berusaha mengubah diri kamu.
6. Rasa humor yang ‘tidak agresif’ (unhostile). Mereka lebih suka membuat lelucon yang menertawakan diri sendiri atau kondisi manusia secara umum (ironi), ketimbang menjadikan orang lain sebagai bahan lawakan dan ejekan.
7. Kerendahatian dan menghargai orang lain (humility and respect)
8. Apresiasi yang segar (freshness of appreciation), yakni melihat sesuatu dengan sudut pandang yang orisinil, berbeda dari kebanyakan orang. Kualitas inilah yang membuat orang-orang yang telah beraktualisasi merupakan pribadi-pribadi yang kreatif dan mampu menciptakan sesuatu yang baru.
9. Memiliki pengalaman spiritual yang disebut Peak experience. Peak experience atau sering disebut juga pengalaman mistik adalah suatu kondisi saat seseorang (secara mental) merasa keluar dari dirinya sendiri, terbebas dari kungkungan tubuh kasarnya. Pengalaman ini membuat kita merasa sangat kecil atau sangat besar, dan seolah-olah menyatu dengan semesta atau keabadian (the infinite and the eternal). Ini bukanlah persoalan klenik atau takhayul, tetapi benar-benar ada dan menjadi kajian khusus dalam Psikologi Transpersonal, suatu (baru klaim) aliran keempat dalam ilmu psikologi setelah psikoanalisis, behaviorisme, dan humanisme, yang banyak mempelajari filosofi timur dan aspek-aspek kesadaran di luar kesadaran normal (Altered States of Consciousness, ASC). Peak experience bisa jadi merupakan argumen ilmiah yang valid untuk menjelaskan fenomena para rasul yang menerima wahyu dari Allah, atau pengalaman sufistik bersatunya diri dengan suatu suatu obyek (merging, dalam hal ini dengan Illah-nya), yang dikenal dengan istilah Jawa Manunggaling Kawula lan Gusti (ini sekadar opini penulis).
Melihat berbagai kualifikasi yang ‘sulit’ tersebut, tidak heran kalau tidak banyak orang di dunia ini yang mencapai level aktualisasi diri. Maslow bahkan mengatakan kalau jumlah pribadi-pribadi yang telah beraktualisasi diri tidak lebih dari dua persen saja dari seluruh populasi dunia! Tidak usah terlalu dipikirkan. Bisa mencapai taraf aktualisasi diri memang bagus, tetapi untuk sekadar bisa merasa bahagia dan menikmati hidup, kita hanya perlu menjadi diri sendiri apa adanya dan bermanfaat bagi orang lain. Insyaallah.

BIOGRAFI SINGKAT ABRAHAM MASLOW

.
Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, NY pada tanggal 1 April 1908 sebagai sulung dari tujuh bersaudara dari pasangan imigran yahudi Rusia. Selepas SMU Dia mengambil studi hukum di City College of New York (CCNY), sebelum minatnya kemudian beralih pada bidang psikologi, yang dipelajarinya hingga meraih gelar PhD pada tahun 1934 di University of Wisconsin. Setahun kemudian Dia kembali ke New York dan bekerjasama dengan E.L. Thorndike untuk melakukan riset tentang seksualitas manusia (human sexuality) dan menjadi pengajar penuh di Brooklyn College.
Maslow banyak berhubungan dengan intelektual-intelektual Eropa yang baru bermigrasi ke Amerika Serikat seperti Alfred Adler, Erich Fromm, dan Karen Horney. Pada tahun 1951 Maslow berjumpa dengan Kurt Goldstein, seseorang yang mengenalkannya kepada ide tentang aktualisasi diri – yang menjadi bibit dari teorinya tentang hirarki kebutuhan. Pada periode ini pula Dia, bersama beberapa psikolog lain seperti Carl Roger “memproklamirkan” aliran ketiga (third force) dari psikologi yang dikenal sebagai humanisme.
Tidak cukup “bermain-main” dengan humanisme, menjelang akhir hayatnya Maslow mengenalkan lagi satu aliran yang dikenal sebagai mazhab keempat, yakni Psikologi Transpersonal, yang berbasis pada filosofi dunia timur dan mempelajari hal-hal semacam meditasi, fenomena parapsikologi, dan kesadaran level tinggi (Altered States of Consciousness, ASC). Maslow meninggal pada 8 Juni 1970 di California karena serangan jantung, setelah kesehatannya memburuk pada tahun-tahun terakhir hidupnya.
Diambil dari : http://www.ship.edu/%7Ecgboeree/maslow.html
posted by hermanu at 6:42 PM

Psikologi Pembelajaran

Posted: Juni 24, 2007 in Artikel Kiriman

Ahli-ahli filsafat yang datang kemudian menolak teori salinan. Menurut mereka perwakilan (salinan) mungkin tidak merupakan objek asal dan sekiranya kita hanya mengetahui salinan, adalah sukar untuk menentukan bahawa salinan itu adalah tepat. Ahli-ahli falsafah realisme (realism) seperti Thomas Reid menolak konsep salinan dan mencadangkan bahawa kita mengetahui tentang sesuatu objek secara langsung tanpa melalui perwakilan atau salinan. Masalah dengan penerangan ini ialah; jika kita mengetahui sesuatu secara langsung, mengapa kita selalu membuat kesilapan. Contohnya, sesuatu bintik pada lantai kita sangkakan adalah seekor serangga yang sebenarnya adalah titik cat yang tertinggal.

Kemudian terdapat ahli-ahli falsafah idealisme (idealisme) yang menolak sama sekali objek. Bagi mereka apa yang terdapat dalam minda kita ialah idea; semua pengetahuan kita terdiri daripada idea dan bukan perkara atau benda.

Psikologi Awal

Pendiri psikologi moden bermula di Eropah dengan Wilhelm Wundt yang pertama menubuhkan makmal psikologi. Tumpuan psikologi awal ialah mengkaji aspek-aspek sensasi (sensation), persepsi (perception) dan tumpuan. (attention). Hermann Ebbinghaus, seorang Jerman, merupakan ahli psikologi yang pertama mengkaji pembelajaran secara saintifik.  Pada tahun 1879, dia menggunakan dirinya sendiri sebagai subjek dalam eksperimen yang mengkaji pembelajaran dan ingatan.

Beliaulah yang memperkenalkan ujian ‘kaitan bebas’ (free association) yang menguji kaitan antara perkataan yang diberikan oleh penyelidik dan perkataan yang perkataan yang berikan oleh subjek. “Nyatakan perkataan pertama yang muncul dalam minda kamu apabila saya mengatakan _______ “.  Jadi tujuan psikologi ialah untuk mengkaji bagaimana manusia membuat perkaitan antara perkataan atau idea.

Ebbinghaus juga terkenal dengan eksperimen yang menunjukkan fenomena ingatan dikalangan manusia. Dalam tahun 1885, dia menjalankan satu eskperimen yang menunjukkan bahawa kadar lupaan lebih ketara pada permulaan (55% selepas 1 jam) dan berkurangan seterusnya (14% selepas 31 hari).

Ahli-ahli falsafah yang datang kemudian menolak teori salinan. Menurut mereka perwakilan (salinan) mungkin tidak merupakan objek asal dan sekiranya kita hanya mengetahui salinan, adalah sukar untuk menentukan bahawa salinan itu adalah tepat. Ahli-ahli falsafah realisme (realism) seperti Thomas Reid menolak konsep salinan dan mencadangkan bahawa kita mengetahui tentang sesuatu objek secara langsung tanpa melalui perwakilan atau salinan. Masalah dengan penerangan ini ialah; jika kita mengetahui sesuatu secara langsung, mengapa kita selalu membuat kesilapan. Contohnya, sesuatu bintik pada lantai kita sangkakan adalah seekor serangga yang sebenarnya adalah titik cat yang tertinggal.

Kemudian terdapat ahli-ahli falsafah idealisme (idealisme) yang menolak sama sekali objek. Bagi mereka apa yang terdapat dalam minda kita ialah idea; semua pengetahuan kita terdiri daripada idea dan bukan perkara atau benda.

Psikologi Awal

Pengasas psikologi moden bermula di Eropah dengan Wilhelm Wundt yang pertama menubuhkan makmal psikologi. Tumpuan psikologi awal ialah mengkaji aspek-aspek sensasi (sensation), persepsi (perception) dan tumpuan. (attention). Hermann Ebbinghaus, seorang Jerman, merupakan ahli psikologi yang pertama mengkaji pembelajaran secara saintifik.  Pada tahun 1879, dia menggunakan dirinya sendiri sebagai subjek dalam eksperimen yang mengkaji pembelajaran dan ingatan.

Beliaulah yang memperkenalkan ujian ‘kaitan bebas’ (free association) yang menguji kaitan antara perkataan yang diberikan oleh penyelidik dan perkataan yang perkataan yang berikan oleh subjek. “Nyatakan perkataan pertama yang muncul dalam minda kamu apabila saya mengatakan _______ “.  Jadi tujuan psikologi ialah untuk mengkaji bagaimana manusia membuat perkaitan antara perkataan atau idea.

Ebbinghaus juga terkenal dengan eksperimen yang menunjukkan fenomena ingatan dikalangan manusia. Dalam tahun 1885, dia menjalankan satu eskperimen yang menunjukkan bahawa kadar lupaan lebih ketara pada permulaan (55% selepas 1 jam) dan berkurangan seterusnya (14% selepas 31 hari).

Ahli-ahli falsafah yang datang kemudian menolak teori salinan. Menurut mereka perwakilan (salinan) mungkin tidak merupakan objek asal dan sekiranya kita hanya mengetahui salinan, adalah sukar untuk menentukan bahawa salinan itu adalah tepat. Ahli-ahli falsafah realisme (realism) seperti Thomas Reid menolak konsep salinan dan mencadangkan bahawa kita mengetahui tentang sesuatu objek secara langsung tanpa melalui perwakilan atau salinan. Masalah dengan penerangan ini ialah; jika kita mengetahui sesuatu secara langsung, mengapa kita selalu membuat kesilapan. Contohnya, sesuatu bintik pada lantai kita sangkakan adalah seekor serangga yang sebenarnya adalah titik cat yang tertinggal.

Kemudian terdapat ahli-ahli falsafah idealisme (idealisme) yang menolak sama sekali objek. Bagi mereka apa yang terdapat dalam minda kita ialah idea; semua pengetahuan kita terdiri daripada idea dan bukan perkara atau benda.

Psikologi Awal

Pengasas psikologi moden bermula di Eropah dengan Wilhelm Wundt yang pertama menubuhkan makmal psikologi. Tumpuan psikologi awal ialah mengkaji aspek-aspek sensasi (sensation), persepsi (perception) dan tumpuan. (attention). Hermann Ebbinghaus, seorang Jerman, merupakan ahli psikologi yang pertama mengkaji pembelajaran secara saintifik.  Pada tahun 1879, dia menggunakan dirinya sendiri sebagai subjek dalam eksperimen yang mengkaji pembelajaran dan ingatan.

Beliaulah yang memperkenalkan ujian ‘kaitan bebas’ (free association) yang menguji kaitan antara perkataan yang diberikan oleh penyelidik dan perkataan yang perkataan yang berikan oleh subjek. “Nyatakan perkataan pertama yang muncul dalam minda kamu apabila saya mengatakan _______ “.  Jadi tujuan psikologi ialah untuk mengkaji bagaimana manusia membuat perkaitan antara perkataan atau idea.

Ebbinghaus juga terkenal dengan eksperimen yang menunjukkan fenomena ingatan dikalangan manusia. Dalam tahun 1885, dia menjalankan satu eskperimen yang menunjukkan bahawa kadar lupaan lebih ketara pada permulaan (55% selepas 1 jam) dan berkurangan seterusnya (14% selepas 31 hari).

Falsafah dan Psikologi

Seperti bidang-bidang sains lain, psikologi berasal sebahagian daripada falsafah. Psikologi yang dikaji secara saintifik bermula pada akhir abad ke 19 dan umur bidang ini adalah lebih kurang 100 tahun; agak muda jika dibanding dengan disiplin-disiplin lain. Tumpuan disiplin psikologi pada awalnya ialah mengkaji dan memahami bagaimana manusia atau organisme mengetahui atau belajar. Kemudian, psikologi terbahagi-bahagi kepada sub-disiplin lain seperti psikologi perkembangan, psikologi sosial, psikologi organisasi, psikologi kaunseling dan lain-lain.

Ahli-ahli falsafah telah lama cuba menerangkan apa itu pengetahuan/ilmu, bagaimana manusia menguasai pengetahuan/ilmu atau mengetahui sesuatu dan bagaimana manusia menggunakan pengetahuan itu. Mungkin teori yang tertua berkenaan pengetahuan ialah Teori Salinan (Copy Theory) yang dicadangkan oleh ahli falsafah Yunani Alcmaeon, Empedocles dan Democritus pada abad ke4 & ke5 sebelum masihi. Menurut teoro ini kita melihat sesuatu objek and salinan objek itu terbentuk dalam minda kita. Oleh itu kita mengetahui objek itu melalui salinan yang berada dalam minda kita.

diambil dari http://www.homestead.com/peoplelearn/psychlearncontent1.html

Buka Google, ketik “penelitian sholeh tahajjud”, kemudian baca semua file yang ada, berikan komentar anda dalam perspektif psikologi pembelajaran di blog ini.

Mustolih Brs