Arsip untuk Januari, 2009

Tentang Wakil Bupati Kebumen

Posted: Januari 26, 2009 in Artikelku

Telah terpilih wakil bupati Kebumen, Aan (Rustriyanto), pemilihan diwarnai berbagai kejadian, pengumpulan massa, pengunduran anggota Pansus, ancaman pidana terhadap kasus-kasus hukum anggota DPRD, ketidakhadiran fraksi golkar, dll.
Intinya semakin membuktikan bahwa politik itu adalah permainan, dan dalam permainan siapa yang menguasai lapangan dialahyang menang. Jangan harap anda mendapatkan pembuktian teori dari sebuah hipotesisi dalam politik, segalam macam hipotesis tidak berlaku di sana. Jangan berharap anda menghitung berdasarkan benar dan salah, karena kebenaran dalam politik adalah yang menang. Maklum taraf belajar politik bangsa kita memang baru sampai di situ. Kita harus benar-0benar maklum perbedaan ilmuwan dengan politikus. Kalau ilmuwan itu boleh salah tetapi tidak boleh bohong, sedangkan politikus itu tidak boleh salah, meskipun dengan cara bohong. Semoga kita segera kembali ke dalam kesadaran kita. Amin.

Iklan

Menerima Kemiskinan dengan Qana’ah

Posted: Januari 20, 2009 in Artikelku

Rasulullah bahkan berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah aku miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin”, Artinya kemiskinan adalah nikmat. Miskin tidak dapat disamakan dengan Faqir, dalam ilmu tasawwuf, faqir adalah kebutuhan tertinggi manusia terhadap Allah, bukan kebutuhan terhadap kehidupan duniawi. Kita sering mendengarkan anjuran untuk menjadi orang kaya, dengan perintah Haji dan zakat misalnya. Hal ini bukan berarti untuk beribadah haji atau zakat menunggu kita untuk berhaji atau berzakat. Karena kemauan haji dan zakat adalah kesadaran iman, bukan kesadaran menjadi kaya. Hidup ini bukalah kekayaan itu senditi, tetapi menikmati perjalanan hidup dengan penuh syukur, itulah hakikat hidup ini.

Saya bukan hendak melarang orang untuk kaya, yang ingin saya tandaskan adalah bahwa tujuan hidp ini bukanlah sama sekali harta, sehingga untuk menempuh perjalanan selanjutnya anda kira perlu dibebani dengan beban-beban dunia. Bicara saja sulit, apalagi menggunakannya, perkembangan  sesuatu yang tidak penting dengan menghamburkan uang

Pertimbangan Moral Menyikapi Israel

Posted: Januari 19, 2009 in Artikelku

‘Moralitas itu perasaan, tidak rasional’ Kohlberg menganggap moralitas itu sebagai petimbangan seseorang dalam melakukan perbuatan antara baik dan buruk.

Moralitas berhubungan dengan nurani, tidak dapat dimasukkan ke dalam otak, jadi perasaan suka dan tidak suka terhadap sesuatu, misalnya pada menyikapi Israel, maka pertimbangan moralitas yang digunakan adalah soal suka dan tidak suka, kalau suka Israel maka moralitas yang bicara cenderung mengecam Hamas, meskipun Israel melakukan pembantaian manusia yang dari sisi moral yang lain, tidak dibenarkan, membunuh orang tanpa sebab yang jelas adalah pelanggaran moral.

Jika suka Hamas (Palestina), maka Israel akan dihujat habis-habisan, menjadi satu-satunya tumpuan kesalahan, Israel biadab, tidak bermoral dan kurang ajar.

Artinya kita tidak dapat menggunakan pertimbangan otak dalam menyikapi sesuatu secara moral, tetapi melalui perasaan, suka atau tidak suka. Demikian sebuah pendapat. Brs.

Orang Miskin

Orang Miskin

Observasi yang dilakukan penulis di sebuah SD di Yogyakarta, menemukan fenomena menarik yang juga dialami oleh SD-SD lainnya. Formasi kelas yang seragam, guru menjadi sentral dalam kelas, dan matinya kreatifitas siswa, karena harus mendengarkan gurunya terus-menerus tanpa henti sampai siswa merasa bosan. Hal ini mengakibatkan potensi siswa, kreativitas, inovasi dan adventure tidak berkembang. Akibatnya siswa mengetahui segala sesuatu dari belajar di kelas, tetapi tidak melihat dan mengalami pengetahuannya. Hal ini membuat kondisi pendidikan di Indonesia juga tidak kreatif, tidak inovatif dan menjadikan siswa penakut, dan mewarisi watak inlander (nomor dua).

 

 

Gedung-gedung sekolah di Indonesia yang menjadi satu-satunya harapan dalam ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ justeru menjadi penjara-penjara bagi para siswa. Perubahan kurikulum tidak disertai dengan profesionalisme guru. Pola lama dalam praktek pembelajaran terus berlangsung, tidak peduli kurikulum berubah berbasis kompetensi atau kurikulum tingkat satuan pendidikan yang seringkali dipelesetkan kurikulum terserah sekolah panjenengan. Harapan suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan berbasis kompetensi, tidak kunjung tercipta, guru masih mengejar menghabiskan materi pembelajaran daripada kompetensinya.

Ditambah sedikitnya guru yang mau mengembangkan diri secara sungguh-sungguh. Pelatihan, workshop dan lokakarya pembelajaran sering diikuti, tetapi ilmu tentang pola pembelajaran yang didapat hanya untuk guru sendiri tidak dipraktekkan dengan alasan sarana masih kurang, atau birokrasi sekolah tidak mengijinkan, ada yang mempraktekkannya di sekolah, tetapi hanya bertahan satu bulan setelah itu kembali dengan pola lama.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaaran (RPP) yang menjadi panduan guru di kelas, tidak dipatuhi dan di antara sekolah satu dengan lainnya seragam. Tujuan pembelajaran, indikator, metode dan strateginya sama, padahal input siswa, keadaan sarana-prasarana, dan kondisi kelas jelas berbeda. Terutama di sisi metode yang selama ini tercantum dalam RPP itu-itu saja, seperti ceramah, diskusi, demonstrasi, penugasan dan bermain peran seakan-akan tidak ada metode selain yang tersebut tadi. Dan dalam praktek pembelajarannya di kelas guru ternyata memilih metode ceramah, dengan pertimbangan waktunya lebih praktis, tidak membutuhkan biaya, tidak memerlukan media, pokoknya simple dan praktis meskipun sebetulnya membuat guru lebih lelah.

Pengutamaan terhadap metode ceramah ini tidak ideal menurut Edgar Gale, dalam piramida pengalaman yang disusunnya indera pendengaran mendapat kapasitas memory paling pendek dalam otak manusia, artinya jika hanya mendengar maka orang cenderung lupa. Yang paling lama tersimpan dalam memory adalah pengalaman langsung, artinya jika mengalami sendiri maka orang cenderung selalu ingat. Adagium terkenal dalam bahasa Inggris berbunyi demikian: I hear I forget (Saya mendengar saya lupa),  I see I remember a little (Saya melihat saya ingat sedikit), I hear and see I remember (Saya melihat dan mendengar saya jadi ingat), I do I am a master (saya melakukan saya menjadi ahli) tidak menjadi perhatian para guru.

Musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) yang seharusnya menjadi forum untuk bertukar kreatifitas metode pembelajaran, penggunaan media, dan perbaikan kualitas pembelajaran, justeru dijadikan sarana untuk copy paste penyusunan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang menjadi tugas sekolah para guru itu. Mereka tidak berbekal kreatifitas yang akan dishare dalam musyawarah, mereka justeru berbekal flashdisk untuk mengcopy paste silabus dan RPP dan setelah diubah nama sekolah, guru pengampu dan kepala sekolahnya salinan silabus, dan RPP itu telah menjadi karyanya. Seringkali terjadi kesalahan ketik dalam sebuah RPP mata pelajaran terjadi sama di beberapa sekolah.

Alih-alih berbicara kualitas, pengelola sekolah yang banyak merangkap menjadi guru justeru sibuk meningkatkan kapasitas kemewahan dan kenyamanan gedung mereka sibuk mengajukan proposal untuk pembangunan gedung-gedung sekolah mereka, seakan-akan dengan gedung yang mewah, siswanya menjadi berkualitas. Padahal selama masih terjadi siswa merasa senang dan merdeka setelah bel terakhir berbunyi, maka selama itu pula siswa terbelenggu dalam penjara-penjara mereka. Siswa yang terpenjara secara demikian adalah siswa yang jumud (mandeg), siswa yang kebebasan kreatifitasnya hilang, mereka mengikuti pelajaran dengan strategi asal guru senang (AGS).

Gedung sekolah yang mewah, sarana dan prasarana yang lengkap bukanlah satu-satunya jaminan sekolah berkualitas. Kesungguhan siswa belajar, semangat menggebu mencapai cita-cita, dan rentetan karya-karya siswa justeru faktor pokok dalam kualitas sebuah sekolah.

Padahal sekian juta siswa Indonesia setiap hari menghabiskan waktunya berjam-jam di sekolah dengan lesu, mereka tidak sadar telah masuk ke dalam penjara yang diciptakan guru-guru mereka. Tidak ada kreatifitas, daya cipta menurun, imajinasi mereka diganggu dengan kompetensi yang harus mereka kuasai, padahal tidak minat sama sekali, meskipun mereka berbakat di bidang eksak mereka tetap membutuhkan kebebasan imajinasi, dengan imajinasinya mereka mungkin mampu membuat terobosan matematis terhadap kebuntuan ilmu tertentu.

 

Siswa Miskin Karya

Standarisasi kualitas nasional dengan UASBN tidaklah mampu mengukur kualitas pendidikan kita secara sempurna, karena hanya aspek kognitif saja yang menjadi tolok ukur di sana, sedangkan untuk standarisasi aspek afektif dan psikomotor tidak muncul. Untuk mengukur aspek psikomotor harus menggunakan karya, dan inilah kemiskinan pendidikan kita. Siswa kita miskin karya karena mereka terlalu kaya kognisi. Apalagi UASBN semakin memperkuat kemiskinan karya tersebut karena siswa sibuk menghadapi ketakutannya terhadap kegagalan kognisi yang sebenarnya tidak perlu terlalu dirisaukan jika tidak lulus UASBN.

Justeru dampak negatif UASBN yang perlu dirisaukan, sekolah memiliki kepentingan gengsi dengan nilai UASBN oleh karenanya sekolah melakukan berbagai hal dengan membentuk tim sukses UASBN demi gengsi sekolah, les ditambah meskipun harus mengorbankan mata pelajaran lain, bahkan banyak sekolah melakukan kecurangan ‘sedikit’ atau ‘terang-terangan’ di depan siswanya. Pihak dinas pendidikan kabupaten juga memiliki kepentingan gengsi kabupatennya berkualitas apa tidak, sehingga kalau ada sekolah yang ‘sedikit’ curang dibiarkan saja, dinas pendidikan pripinsi juga memiliki kepentingan gengsi.

Demi gengsi siswa menjadi korban, kecurangan yang dilakukan sekolah dengan berbagai strategi mulai dari yang ‘sedikit’ curang sampai yang curang ‘betulan’ semuanya menyebabkan dampak psikologis siswa, akan muncul dalam alam bawah sadar siswa bahwa demi mencapai tujuan tertentu diperbolehkan dengan berbagai cara termasuk curang. Hanya demi gengsi.

 

Perkaya Karya

Dalam kosmologi Jawa konsep keseimbangan alam adalah teori jagat raya ini. Air bergejolak pasti mencari posisi tenang keseimbangan, bandul ayunan akan mencari posisi tengahnya, alam akan mencari keseimbangannya sendiri. Jika sesuatu tidak seimbang akan ada ketidakberesan dalam alam kosmos ini. Demikian juga dalam diri setiap manusia, kondisi fisik dengan raga harus seimbang, di dalam ilmu kesehatan China ada istilah Yin dan Yang yang mengatur kosmos tubuh dan jiwa manusia, Yin dan Yang harus seimbang, ketidakseimbangan Yin dan Yang akan menyebabkan sakit. Dalam konsep Islam juga demikian manusia menjadi unggul di atas Iblis dan Malaikat karena manusia memiliki pasangan seimbang antara unsur Iblis dan Malaikat. Iblis memiliki nafsu tetapi tidak memiliki akal, malaikat memiliki akal tetapi tidak memiliki nafsu, sedangkan manusia memiliki akal dan nafsu, keseimbangan antara kedua unsur itu menjadikan manusia menjadi sempurna (Insan Kamil).

Kaum empiris yang memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga sesuatu yang inmateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang in materi tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi ( theosopi) yang meyakini bahwa ada lebih luas dari sekedar materi, mereka mayakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal atau hati.

Tentu yang dimaksud dengan pengetahuan lewat hati disini adalah penngetahuan tentang realita inmateri eksternal, kalau yang internal seperti rasa sakit, sedih, senang, lapar, haus dan hal-hal yang iintuitif lainnya diyakini keberadaannya oleh semua orang tanpa kecuali.

Untuk menjawab pertanyaan Proses spiritual dalam hati Filusuf Ilahi Mulla Shadra r.a. berkata,

“Sesungguhnya ruh manusia jika lepas dari badan dan berhijrah menuju Tuhannya untuk menyaksikan tanda-tanda-Nya yang sangat besar, dan juga ruh itu bersih dari kamaksiatan-kemaksiatan, syahwat dan ketarkaitan, maka akan tampak padanya cahaya makrifat dan keimanan kepada Allah dan malakut-Nya yang sangat tinggi. Cahaya itu jika menguat dan mensubstansi, maka menjadi substansi yang qudsi, yang dalam istilah hikmah teoritis oleh para ahli hikmat disebut dengan akal efektif dan dalam istilah syariat kenabian disebut ruh yang suci. Dengan cahaya akal yang kuat, maka terpancar di dalamnya -yakni ruh manusia yang suci- rahasia-rahasia yang ada di bumi dan di langit dan akan tampak darinya hakikat-hakikat segala sesuatu sebagimana tampak dengan cahaya sensual mata (alhissi) gambaran-gambaran konsepsi dalam kekuatan mata jika tidak terhalang tabir”.

Tabir dalam pembahasan ini adalah pengaruh-pengaruh alam tabiat dan kesibukan-kesibukan dunia, karena hati dan ruh -sesuai dengan bentuk ciptaannya- mempunyai kelayakan untuk menerima cahaya hikmah dan iman jika tidak dihinggapi kegelapan yang merusaknya seperti kekufuran, atau tabir yang menghalanginya seperti kemaksiatan dan yang berkaitan dengannya. (Syaifan Nur, 2002,150)

Keseimbangan dalam aspek pikiran dan perbuatan mutlak dituntut dalam kawasan pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia yang masih mengunggulkan aspek kognitif dan mengabaikan unsur psikomotor mengindikasikan terjadinya ketidakseimbangan tersebut. KBK yang disempurnakan dalam KTSP secara substansi telah mulai mengarah ke keseimbangan antara unsur kognitif dan psikomotor tersebut. Tetapi UASBN justeru menghalanginya.

Untuk itu reformasi pendidikan tidak boleh berhenti hanya di sini, tetapi sampai terjadi keseimbangan antara gagasan (kognitif) dan karya (psikomotor) tercipta. Dalam kondisi kaya kognisi tetapi miskin karya ini pendidikan harus memperkaya karya siswa, bukan karya tulis seperti yang selama ini dilombakan di tingkat pelajar, tetapi karya nyata dalam bentuk percobaan-percobaan, penelitian-penelitian langsung sampai pada karya yang dapat dinikmati masyarakat luas tercipta lebih banyak dan sempurna.

Kita dapat mencontoh negara Jepang yang siswa-siswa SMP-nya dapat membuat mainan berteknologi canggih, meskipun hanya mainan, tetapi karyanya dapat menjadi penghasilannya di kemudian hari, meskipun ia tidak melanjutkan ke bangku sekolah yang lebih tinggi.

SMK memang sudah mengarah ke sana, tetapi mata pelajaaran di SMK perlu dirombak dan disesuaikan dengan kondisi dan potensi alam Indonesia, di bidang otomotif misalnya mengapa tidak dimulai dari membuat mesin sederhana bagi para petani yang lebih dekat dengan keseharian bangsa kita, tidak hanya memperbaiki motor dan mobil impor yang sebenarnya jauh dari keseharian asli bangsa kita, (ingat asli Indonesia belum mampu menciptakan motor dan mobil sendiri tetapi masyarakatnya pemakai motor terbesar di Asia), sehingga dengan membuat mesin-mesin sederhana bagi petani ini lulusannya nanti tidak hanya menunggu panggilan kerja, tetapi mampu menciptakan pekerjaan sendiri bahkan lingkungannya. Brs

Tanah Impian untuk Israel

Posted: Januari 12, 2009 in Artikelku

Peperangan di Gaza adalah ambisi religious Israel dalam merebut paksa tanah yang dijanjikan 3000 tahun yang lalu sebagai tanah impian yaitu Palestina, konon di dalam Taurat tertulis tanah impian itu berada di balik laut mati, saat nabi Musa dan bani Israel berada di padang seberang laut mati. Tanah itu adalah Palestina. Palestina memang unik, Jarusalem kota kecil yang menjadi sejarah bagi tiga agama besar, Yahudi, Kristen dan Islam, di dalamnya terdapat tiga tempat bersejarah Masjid Aqsha tempat Nabi Muhammad melakukan mikraj ke sidratul muntaha, tempat suci kedua bagi umat Islam, karena pernah menjadi kiblat bagi orang Islam. Betlehem, tempat kelahiran Nabi Isa (Yesus) merupakan tempat suci bagi umat Kristen, dan di dekat masjid Aqsha terdapat tembok ratapan, tempat umat Yahudi meratap dan berdo’a kepada Allah.
Dari sejarah masing-masing agama, mereka memiliki akar bahasa yang satu yaitu Bahasa Semit, bahkan tiga agama yang sering berseteru itu juga memiliki Bapak yang satu yaitu Nabi Ibrahim (Abraham), Nabi Musa (Moses) dan kristen dari keturunan Nabi Ishaq (ISaak), lalu Ya’kub, bani Israel berasal dari Nabi Ya’kub (Jakob), lalu sampai Nabi Isa (Yesus), dan Nabi Muhammad (Ahmed) berasal dari keturunan nabi Ismail (Samuel). Agama-agama besar yang berasal dari Tuhan yang satu yang Samawi itu, sama-sama mengajarkan Tauhid (Tuhan yang satu), mengapa umatnya saling berperang saling membunuh, itu semua juga telah dinash oleh Allah saat dimulai penciptaan manusia, Malaikat bertanya, Ya Allah apakah engkau akan menciptakan manusia yang suka berperang (mengalirkan darah) m dan merusak (berbuat kerusakan), sebagai khalifah di bumi? DIjawab oleh Allah, aku lebih mengetahui daripada engkau para malaikat. Jadi konflik itu adalah konflik sejarah, yang dikemas dalam perebutan tanah, tanah yang dijanjikan dengan jalan menjajah, bahkan menghilangkan nyawa manusia tak berdosa, anak-anak, perempuan, orang jompo, adalah tindakan yang tidak bermoral dan lebih hina daripada binatang.
Semua masyarakat dunia, jika ingin tetap ingin mempertahankan predikat kemanusiaannya harus mengecam Israel..

Tradisi Intelektual di Kebumen

Posted: Januari 6, 2009 in Artikelku

Kota kecil di sebelah barat Purworejo dan Yogyakarta yang berbudaya jepitan antara dua budaya besar, ini belum bertradisi intelektual. Tahun ini Pemda memang memang  memberikan dana penelitian untuk 8 kelompok peneliti, tetapi pemberian dana ini masih terkesan sebagai proyek, belum menjadi kondisi tradisi intelektual. Artinya pemeang kebijakan di tingkat Kabupaten Kebumen memang ada keinginan agar tradisi intelektual di Kebumen makin mendalam, tetapi masih jauh api dari panggang.

Direktur Lembaga Intelektual dan Penelitian yang berkantor di STAINU Kebumen menyatakan “Selama belum ada kajian intensif terhadap persoalan-persoalan hakiki kehidupan bermasyarakat, dan buku-buku yang tersedia masih seperti sekarang ini, maka tradisi intelektual di Kebumen belum akan tercipta.

Oleh: Drs. Zamris Habib, M.Si, Drs. Waldopo, M.Pd, dan Dra. Indrayanti Ch. M.Pd.

 

Kajian Hasil Penelitian, Tugas mata kuliah, Pengembangan dan Peningkatan Kualitas Pembelajaran, Dosen Pengampu: Prof. Pardjono, Msc. Ph.D

Disusun Oleh: Mustolih (07712259006), Rifa Suci Wulandari             (07712259009)

 

A.    Ringkasan Hasil Penelitian

Menyadari potensi televisi sebagai media yang dapat  menyampaikan pesan-pesan pendidikan secara efektif dan mampu mempengaruhi  perilaku seseorang, serta menunjang usaha pemerintah dalam menanamkan nilai-nilai budi pekerti, sejak tahun 1984 Pustekkom Diknas telah memproduksi  film-film dan sinetron bagi siswa sekolah yang berisikan nilai-nilai budi pekerti seperti Bina Watak, Bina bakat, Aku Cinta Indonesia (ACI) dan Laskar Anak Bawang, dan sampai sekarang masih terus mengembangkan program-program pendidikan. Berdasarkan uraian di atas, tentulah merupakan obyek studi yang menarik untuk diteliti mengenai film televisi apakah yang paling disukai oleh anak-anak. Oleh sebab itu, dengan penelitian ini akan digali informasi mengenai tanggapan anak-anak terhadap film-film anak-anak yang mereka tonton di televisi. Dari target 960 responden, ternyata di lapangan diperoleh 1069 responden yang isian kuesionernya memenuhi syarat untuk dianalisis. Dari 1069 orang responden tersebut, 542 orang (50,7%) berdomisili di dalam kota (DK) dan 527 orang (49,3%) berdomisili di  pinggiran kota (PK). Dari hasil kuesioner diperoleh hasil sebagai berikut:

 

1.      Profil Responden

Dari 1069 orang responden 46,49% berjenis kelamin laki-laki dan 53,51% berjenis kelamin perempuan. Pendidikan ibu responden lebih dari dua pertiga (65%) berpendidikan SLTA dan perguruan tinggi, SLTP dan SD 32% dan hanya 3% yang tidak bersekolah. Pekerjaan ayah hampir sepertiga (32%) adalah pegawai negeri/ BUMN, 29% karyawan swasta, 13 % pedagang/pengusaha, 12% buruh, 5% guru, 4% anggota TNI/Polri, 3% petani/nelayan dan 2% sisanya tidak bekerja.

 

2.      Data Film

Hampir sepertiga responden (31%) menyukai film berjudul Doraemon, Crayon Sinchan (13%), dan Dragon Ball (8%). Kera Sakti, Keluarga Cemara dan Panji manusia Millineum masing-masing disukai oleh 5% responden, Detektif Conan 4% dan sisanya secara berturut turut mereka menyukai  film yang berjudul Digimon Adventure, Samurai X, Bidadari, Kobochan, Ninja Hatori, dan Ghost Buster. Masih banyak film-film lainnya diminati oleh kurang dari 1% seperti: Pokemon, Bittle Borg, Chabelita, ABCD, Jinny Oh Jinny, P-Man, Makibao, Sailor Moon, Winnie The Pooh, Anak Ajaib, Dr. Slump, Mario Broos, Laskar Anak Bawang, Mickey Mouse, Mojako, Mr. Hologram, Power Puff Girl, Saras 008, Zsuzaku Akochan, Ari, Dul Joni, Fireman, Jin dan Jun, Kumba, LUV, Mortal Combat, Phantom, dan X-Men.

Sebagian besar responden menyukai film-film tersebut dengan alasan karena faktor ceriteranya yang menarik.. Alasan ini terutama terlihat pada film Doraemon, Crayon Sinchan, Dragon Ball, Detektif Conan dan lain-lain. Alasan berikutnya berupa tokoh pemainnya yang lucu dan menarik. Hal ini terutama terlihat pada film Doraemon, Crayon Sinchan, Detektif Conan dan lain-lain. Alasan lainnya karena banyaknya adegan keajaiban-keajaiban, pemandangan yang indah, lagu-lagunya yang enak didengar serta pakaiannya yang menarik.

 

3.      Tokoh Film Anak-Anak  yang Paling Disukai

Tokoh yang paling banyak penggemarnya adalah Doraemon (23%) dan Sinchan (15%).  Tokoh-tokoh  lainnya yang diminati oleh lebih dari 1% responden secara berturut-turut adalah Panji (8%), Songgoku (7%), Sun Go Kong (4%), Kobochan (3%), Nobita, Cemara, Detektif Conan, Abah,  P -Man dan  Sizuka. Tokoh-tokoh lain yang disukai namun peminatnya kurang dari 1% (di bawah 10 orang) antara lain: Samurai X, Saras , Patamon, Yamato, Digimon, Yoshua, Taichi, Pikacu, Pokemon, Jun, Makibao, Tomy, Batman, Chabelita dan Agil, Bubles, Dr. Slump, Sailor Moon, Samsir, dan Susako.

Alasan responden menyukai tokoh-tokoh film di atas yang paling dominan adalah karena kebaikan, kelucuan dan keberaniannya. Sebagai contoh  Doraemon disukai karena kelucuan dan kebaikannya, Sinchan karena kelucuan dan keberaniannya, Panji karena kebaikan dan keberaniannya, dan Songgoku karena keberaniannya. Alasan lainnya yang mereka kemukakan adalah karena wajahnya yang tampan serta pakaiannya yang menarik. Sebagai contoh Sunggokong (dalam film Kera Sakti) disukai karena karena wajahnya yang tampan serta pakaiannya yang menarik.

 

4.      Pelajaran yang dapat Diambil dari Film-Film Anak-Anak

Para responden menyatakan bahwa  ada hal-hal positif  (pelajaran) yang dapat mereka peroleh dari film anak-anak yang mereka tonton di televisi. Hal-hal positif (pelajaran) yang dapat mereka peroleh antara lain:

a.       Tidak boleh berbohong, diakui oleh 40% responden.

b.      Tidak boleh menjadi anak penakut, diakui oleh 39%% responden.

c.       Menghargai sesama teman (walaupun mereka berbeda dalam hal kekayaan, agama, kepintaran dan pendapat). Hal ini diakui oleh 37% responden.

d.      Tidak boleh nakal dan harus sopan kepada orang yang lebih tua, diakui oleh 31% responden.

e.       Hormat kepada orang tua, diakui oleh 27% responden.

f.       Harus mengerjakan keperluan sendiri seperti merapikan tempat tidur, membersihkan sepatu dan mengatur jadwal belajar. Hal ini diakui oleh 27%% responden.

g.      Harus sabar dan tidak cepat marah, diakui oleh 26% responden..

h.      Wajib berbakti kepada Tuhan. Hal ini diakui oleh 18%% responden.

 

5.      Jenis Film Anak-Anak yang Disukai

Ternyata sebagian besar responden (74%) menyukai film kartun, 21% menyukai film yang bukan kartun dan 5% sisanya menyukai keduanya.

 

B.     Kajian terhadap Hasil Penelitian

Tak satupun pakar komunikasi ataupun pendidikan yang meragukan akan potensi yang dimiliki televisi jika dimanfaatkan sebagai media pendidikan. Namun sayang, kebanyakan kita masih belum menyadari hal ini, sehingga kepemilikan pesawat TV yang kini mudah dijumpai hampir di setiap rumah kurang diberdayakan untuk kepentingan tersebut. Padahal sebenarnya banyak tayangan-tayangan televisi yang berisikan materi pendidikan/pembelajaran dan hiburan yang bila ditonton akan sangat bermanfaat bagi putra-putri kita dalam meningkatkan kualitas hasil pendidikan/pembelajarannya dengan sangat murah misalnya melalui film-film anak untuk menanamkan pendidikan budi pekerti.

Pendidikan budi pekerti sering diartikan dengan pendidikan akhlak. Budi pekerti dan akhlak merupakan dua istilah yang memiliki kesamaan essensi. Di dalam akhlak terkandung nilai-nilai budi pekerti, baik yang bersumber dari ajaran agama maupun dari kebudayaan manusia. Budi pekerti mencakup pengertian watak, sikap, sifat, moral yang tercermin dalam tingkah laku baik dan buruk yang terukur oleh norma-norma sopan santun, tata krama dan adat istiadat. Sedangkan akhlak diukur dengan menggunakan norma-norma agama (Departemen Agama, 2000: 2-3). Secara lebih terperinci lagi (Depdiknas, 2000: 5) menjelaskan bahwa tujuan pendidikan budi pekerti adalah mengkaji dan menginternalisasi nilai, mengembangkan keterampilan sosial yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya akhlak mulia dalam diri peserta didik serta mewujudkannya dalam prilaku sehari-hari dalam konteks sosio-kultural yang berbhineka sepanjang hayat.

Apa yang dihadirkan televisi bersifat audiovisual, sehingga sangat membantu pemirsa untuk cepat mengerti dan mencernakan pesan yang diterimanya. Dari layar televisi dapat dipahami lebih mudah dan mendalam, karena siswa mendengar dan melihat pernyataan dari berbagai pihak yang langsung terlibat berikut gambaran visual yang menarik dan mengena urutan peristiwanya. (Darwanto, 2007:45-46)

Siaran televisi memiliki daya penetrasi yang sangat kuat terhadap kehidupan manusia sehingga ia mampu mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dalam rentang waktu yang relatif singkat. Dengan jangkauannya yang begitu luas, siaran televisi memiliki potensi yang luar biasa untuk dimanfaatkan semaksimal bagi kepentingan pendidikan/pembelajaran (Widarto, 1994: 7). Dalam hal ini film-film anak-anak di TV merupakan salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan untuk penanaman budi pekerti. Menurut Perin (1977: 7) Pemanfaatan televisi sebagai media pendidikan sebenarnya tidak mahal karena dalam waktu yang bersamaan program tersebut bisa dimanfaatkan oleh peserta didik dalam jumlah yang sangat besar dan dalam daerah jangkauan yang luas: “they are so available and so inexpensive (where) seeing the number of consumers is large”. Dari hasil penelitiannya (Dwyer, 1978: 11) melaporkan bahwa 94% materi pendidikan/ pembelajaran diserap peserta oleh didik melalui indera penglihatan dan pendengaran. Sedangkan 6% sisanya melalui indera pengecap, peraba dan penciuman. Sehingga apabila guru mampu mengelola dan memanfaatkan media ini dengan baik tentu hasil pembelajaran peserta didik akan meningkat.

Hasil penelitian diatas mengupas tentang tanggapan anak-anak terhadap film-film anak di TV sebagai sarana pendidikan budi pekerti dengan cukup bagus. Tetapi kurang begitu menyoroti tentang pemanfaatan media ini dalam pembelajaran oleh guru secara aplikatif. Padahal sebenarnya banyak tayangan-tayangan televisi yang berisikan materi pendidikan/pembelajaran yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan kualitas hasil pendidikan/pembelajaran dengan sangat murah, Dengan menyaksikan tayangan program-program televisi anak dapat menyerap materi-materi pendidikan/pembelajaran juga hiburan. Jika media ini dimanfaatkan dengan tepat akan sangat menunjang keberhasilan pembelajaran.

 

C.    Implikasi pemanfaatan media TV terutama film-film anak sebagai sarana pendidikan budi pekerti di SD.

 

Sampai saat ini guru-guru SD kurang memanfaatkan peran media sebagai sarana penunjang pembelajaran, seperti media TV. Film-film anak di TV sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang menarik. Televisi mampu memberikan rangsangan, membawa serta, memicu, membangkitkan, mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu, memberikan saran-saran, memberikan warna, mengajar, menghibur, memperkuat, menggiatkan, menyampaikan pengaruh dari orang lain, memperkenalkan berbagai identitas atau ciri sesuatu sehingga dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa (Brown, 1977: 347). Selain itu, media televisi juga merupakan wahana yang kuat pengaruhnya dalam pembentukan pola fikir, sikap dan tingkah laku disamping menambah pengetahuan dan memperluas wawasan masyarakat (Harjoko, 1994: 4). Menurut Oemar Hamalik (1989: 1) keberhasilan suatu proses belajar mengajar tidak lepas dari peran media didalamnya, sebab media adalah suatu bagian integral dari proses pendidikan di sekolah.

Seiring dengan kemajuan jaman dan perkembangan arus globalisasi, maka media televisi mempunyai peran yang sangat besar untuk mempengaruhi perkembangan pendidikan anak, terutama dalam proses pembentukan karakter. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting untuk mendampingi anak menonton televisi, karena program TV akan berpengaruh pada kejiwaan anak yang cenderung meniru atau mencoba apa yang dilihatnya. Media televisi mempunyai peran besar dalam mendidik dan mempengaruhi perkembangan jiwa anak sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran. Tetapi pemanfaatan media ini untuk kepentingan pengajaran sebaiknya memperhatikan kriteri-kriteria sebagai berikut:

1.      Ketepatannya dengan tujuan pengajaran; artinya media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan.

2.      Dukungan terhadap isi bahan pelajaran; artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep, dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa.

3.      Kemudahan memperoleh media; artinya media yang diperlukan mudah diperoleh oleh guru pada waktu mengajar.

4.      Keterampilan guru dalam menggunakanya; apapun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru yang dapat menggunakanya dalam proses pengajaran.

5.      Tersedia waktu untuk menggunakanya; sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung.

6.      Sesuai dengan taraf berpikir siswa; memilih media untuk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berpikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dapat dipahami oleh para siswa (Nana Sudjana, 2002: 4 – 5).

 

Dengan memasukkan televisi ke dalam kelas, siswa akan lebih terangsang untuk belajar dari televisi apalagi jika yang ditayang adalah film yang disukai anak-anak. Sayangnya masih jarang stasiun televisi yang menayangkan film-film anak-anak ini saat jam pelajaran, sehingga guru-guru sia-sia membawa televisi ke dalam kelas. Film anak-anak justeru ditayang pada jam-jam di luar sekolah sehingga televisi sebagai media pembelajaran di sekolah masih ‘jauh api dari panggang’. Pada jam-jam sssekolah (07.00-12.00), tayangan yang banyak di televisi adalah telenovela, sinetron yang sudah pernah ditayang sebelumnya, dan film-film dewasa lainnya, yang ini diperuntukkan bagi ibu-ibu rumah tangga di rumah yang tidak memiliki aktifitas di luar rumah. Film-film anak-anak ditayang pada jam 06.00 – 07.30 lalu sore hari pada 16.00 – 17.30 dan pagi hari hanya pada hari-hari minggu.

 

E.     Sumber/Daftar Pustaka

 

Sumber artikel: http://pustekkom.depdiknas.go.id/index.php diakses tanggal 11 November 2008.

 

Brown, Ray J. (1977). Children and television. Beverly Hills, California: Sage Publication INC.

 

Darwanto, Drs. S.S,. (2007), Televisi Sebagai Media Pendidikan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

 

Departemen Pendidikan Nasional. (2000). Pedoman Umum Pendidikan Budi Pekerti Untuk Pendidikan Dasar dan Menegah. Jakarta: Ditjen Dikdasmen.

 

Departemen Agama. (2000). Budi Pekerti Dalam Mata Pelajaran pendidikan agama, Konsep Operasional. Jakarta: Direktorat Pembinaan, Kelembagaan, Agama Islam.

 

Dwyer Francis M. (1978). Strategis for Improving Visual Learning. State-College, Pensylvania: Learning Services.

 

Hardjoko, Wiryo Sri, Pendayagunaan radio dan televisi dalam pendidikan. Makalah bahan Seminar/Lokakarya Nasional Teknologi Pendidikan 1-3 Februari 1994 (Jakarta: IPTPI, CTPI dan Pustekkom Depdiknas, 1994).

 

Nana Sudjana & Ahmad Rivai. (2002). Media pengajaran. Jakarta: Sinar Baru Algensindo.

 

Oemar Hamalik. (1989). Media pendidikan. Bandung: Aditya Bakti.

 

Perin Donald G. (1977). Instructional Television: Synopsis of Television in Education. New Jersey: Educationa Technology Publication.

 

Widarto Suprapti. “Pendayagunaan Siaran Televisi untuk Pendidikan Sumber Daya Manusia”, Makalah Bahan Seminar Lokakarya Nasional Teknologi Pendidikan Tentang: Media Massa Elektronik dan Pendidikan Sumber Daya Manusia, 1-3 Februari 1994. Jakarta: IPTPI, CTPI, Pustekkom, 1994).