Arsip untuk Desember, 2008

Matematika Untuk Anak Balita

Posted: Desember 29, 2008 in Artikelku

Matematika sering kali dianggap pelajaran momok. Tak cuma si anak yang kebingungan, orang tua pun sering dibuat kalang kabut.
Segala daya dikerahkan para orang tua bagi anaknya. Mulai dari les sampai ikut bimbingan belajar. Tapi beberapa waktu terakhir ada lembaga yang khusus menyelenggarakan kursus matematika. Ada yang menggunakan Metode Kumon, sementara lainnya menggunakan alat bantu sempoa.
Kembangkan potensi individu
Sebenarnya nama Kumon adalah nama keluarga penemu metode belajar matematika, Toru Kumon. Guru matematika SMU di Jepang itu pada tahun 1954 pertama kali menyusun sendiri bahan pelajaran matematika untuk membimbing anaknya belajar matematika. Setelah terbukti memberi hasil memuaskan pada anaknya dan juga anak didik dan tetangga dekatnya, ia pun ingin menerapkan cara belajar dan bahan pelajaran ini kepada sebanyak mungkin anak. Tak heran dengan sifatnya yang universal, kini Metode Kumon telah dapat diterapkan di 40 negara, termasuk Indonesia.
Prinsip dasar metode yang disebarluaskan ke Indonesia pada Oktober 1993 ini adalah pengakuan tentang potensi dan kemampuan individual tiap siswa. “Maka, seseorang yang mendaftar kursus Kumon harus mengikuti tes penempatan,” tutur Suita Sary Halim, pimpinan penyelenggara kursus Kumon. Tes penempatan itu untuk mengetahui titik pangkal siswa, supaya siswa dapat mengerjakan bahan pelajaran sesuai dengan kemampuannya. Tak heran bila soal itu biasanya bisa selesai dalam batas waktu tertentu, biasanya hanya dalam hitungan menit.
Setelah itu, ia akan terus berlatih mengerjakan soal-soal latihan sesuai kemampuan, daya konsentrasi dan ketangkasan, bukan berdasar tingkat kelas formal atau usia siswa saja. Siswa SD kelas II bisa saja menghadapi soal latihan untuk SD kelas I, “Karena mungkin yang ia kuasai benar baru pelajaran di kelas I,” ujar Suita.
Sebagai contoh, mungkin saja ada siswa SD kelas II yang harus belajar penambahan yang termudah. Misalnya, 1 + 1 = 2, 2 + 1 = 3, 3 + 1 = 4, 4 + 1 = 5, 5 + 1 = 6, dst. Namun begitu jangan dianggap enteng karena ia harus menyelesaikan sebanyak 50 soal hitungan serupa hanya dalam waktu 2 menit. Latihan itu dilakukan berulang kali, sampai ia menguasai dan mampu di luar kepala menjawab soal serupa. Selanjutnya, ia akan meningkat ke bagian berikut, namun dengan tingkat perbedaan kesulitan yang sangat kecil, misalnya 1 + 2 = 3, 2 + 2 = 4, dan seterusnya.
Maka jangan kaget bila dalam kelas bisa ditemukan siswa dalam berbagai tingkat usia. Begitu pun, beberapa siswa yang duduk di tingkat kelas yang sama tidak berarti akan memulai mengerjakan soal latihan yang sama pula. “Kembali lagi karena masalah potensi dan kemampuan yang berbeda dari tiap siswa. Maka yang diterapkan adalah belajar perseorangan,” tutur Suita sambil menambahkan tiap siswa Kumon mendapat bahan pelajaran yang berbeda dengan siswa lainnya, baik jumlah lembar kerja maupun tingkat bahan pelajarannya.
Karena mulai belajar dari bagian yang tepat, dalam arti sesuai dengan kemampuannya, dan program dibuat secara perseorangan, siswa tidak akan menemui kesulitan belajar. Yang muncul justru perasaan senang belajar matematika. Penyebab yang lain karena di lembaga ini tidak tertutup kemungkinan untuk merevisi dan mengembangkan bahan pelajaran agar anak-anak tidak mengalami kesulitan dalam belajar dan tidak kehilangan semangat belajarnya. Selain itu prestasi antara satu siswa dengan yang lain tidak dibanding-bandingkan, sehingga kalaupun ada yang agak lambat mencapai kemajuan tidak akan merasa kecil hati dan putus asa.
Uniknya, berkat metode yang mengunggulkan kemampuan dan semangat belajar perseorangan itu, biasanya setelah 6 bulan – 1 tahun, siswa sudah bisa mencapai tingkat pelajaran di sekolahnya, setelah itu melampauinya.
Kemajuan dari hasil belajar siswa Kumon memang sangat bervariasi. Ada siswa yang menyelesaikan seluruh bahan pelajaran Metode Kumon, hingga level Q mengenai probabilitas dan statistika, dalam waktu 2 tahun 10 bulan. “Namun, sekecil apa pun kemajuannya, kami akan selalu mengakui setiap hasil yang telah mereka capai dan menunjukkan jalan agar pada diri setiap anak timbul rasa percaya diri dan keberanian,” ujar Suita sambil menambahkan pada umumnya prestasi siswa sesudah mengikuti kursus metode ini meningkat, terutama dari segi akademis.
Disiplin berlatih
Kumon menilai kunci keberhasilan belajar matematika adalah dengan banyak berlatih. Tak heran bila selama belajar dengan Metode Kumon siswa akan mendapat banyak porsi latihan. Dalam tiap satuan lembar kerja terdapat puluhan soal, sehingga untuk satu materi bahasan ia akan mengerjakan hingga ratusan soal latihan. Maka, untuk menyelesaikan seluruh topik bahasan, bila ia jadi siswa sejak tingkat pertama, jumlah soal latihan yang dikerjakannya tentu mencapai puluhan ribu!
Di Kumon, menurut Suita, siswa yang sudah punya kemampuan cukup yang bisa maju ke tingkat lebih tinggi. Bagi yang belum cukup akan terus mendapat pengulangan, sehingga nantinya ia tidak mendapat kesulitan saat mengerjakan bahan pelajaran yang lebih tinggi.
Selain itu Kumon memberlakukan sistem nilai 100, artinya tiap latihan harus benar dikerjakan semua sebelum bisa berganti lembar pelajaran. Siswa yang melakukan kesalahan harus memperbaiki sendiri sampai mendapat nilai 100. Cara ini dinilai efektif agar siswa tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.
Namun, kenaikan tingkat sering kali tidak terasa. Ini karena perubahan bahan pelajaran dibuat sedemikian kecil, bahkan halus dan sistematis. Bahan pelajaran meningkat seiring dengan kemampuan penalaran sendiri, jarang sekali ia harus minta bantuan pembimbing. Cara ini akan membentuk kebiasaan belajar mandiri yang berguna untuk menggali potensi diri-sendiri.
Selain materi pelajaran, waktu belajar siswa pun digodok matang. Siswa umumnya datang ke kelas 2 kali seminggu dengan waktu belajar rata-rata 30 menit, tergantung tingkat bahan pelajarannya. “Namun, di luar hari kelas, mereka mendapat PR dengan jumlah yang tepat sesuai kemampuannya setiap hari,” ujar Dani Wulansari, staf lembaga Metode Kumon.
Semua cara belajar itu diterapkan pada seluruh peserta kursus tanpa memandang usia, karena Kumon memang bisa diikuti oleh siswa pada usia berapa pun. “Pendaftarannya pun terbuka setiap saat,” ujar Dani sambil menambahkan sebaiknya siswa mempelajari metode ini sejak usia dini, karena hasilnya tentu akan lebih memuaskan. Yang terutama dirasakan adalah kemampuan berpikir matematis akibat latihan mengkoordinasikan angka-angka menggunakan otak dan tangan. Khususnya latihan hitungan dengan Metode Kumon akan terasa sangat membantu untuk mengenal matematika tingkat SMP dan SMA, sehingga ia akan dengan mudah mengerjakan soal-soal persamaan, pemfaktoran, juga diferensial dan integral.
Dengan demikian, Metode Kumon bukan hanya meningkatkan penguasaan matematika, tapi juga berbagai kemampuan belajar pada anak, mulai dari konsentrasi dan ketangkasan kerja, semangat kebiasaan belajar mandiri, kebiasaan belajar setiap hari. Bila ia bisa menyelesaikan soal latihan matematika dari sekolah dengan cepat, maka ia bisa menggunakan sisa waktu untuk mempelajari ilmu lain. Alhasil, pelajaran lain pun pasti akan meningkat.
Dari pasir sampai manik-manik
Konon dengan sempoa seorang anak dapat menjawab sederetan soal hitungan penjumlahan dan pengurangan hanya dalam beberapa menit. Yang dilakukannya cuma menjentak-jentikkan biji manik-manik sempoanya dengan cekatan.
Sempoa memang bukan barang baru. Diduga alat hitung ala abakus pertama dimiliki suku Babilonia dalam bentuk sebilah papan yang ditaburi pasir. Di atasnya orang bisa menorehkan berbagai bentuk huruf atau simbol. Tak heran bila ia disebut abakus yang dalam bahasa Yunaninya abakos, artinya ‘menghapus debu’. Ketika berubah fungsi menjadi alat hitung, bentuknya pun diubah. Permukaan pasir itu menjadi papan yang ditandai garis-garis lengkap dengan sejumlah manik-manik satuan, puluhan, ratusan, dan seterusnya.
Alat itu makin disempurnakan di zaman Romawi. Papannya dibuat berlekak-lekuk cekung agar saat menghitung manik-manik mudah digerakkan dari atas ke bawah.
Orang Cina mengembangkan “hsuan-pan” (nampan penghitung) alias abakus itu menjadi dua bagian. Pada jeruji atas dimasukkan dua manik-manik dan jeruji bawah lima manik-manik. Di abad pertengahan abakus makin tersebar luas, di antaranya sampai ke Eropa, Arab, dan seluruh Asia.
Abakus sampai di Jepang pada abad ke-16. Namun Jepang mengubah susunan manik-manik menjadi satu pada jeruji atas dan empat di jeruji bawah. Satu manik-manik jeruji atas bernilai lima dan empat di jeruji bawah (dimulai dari tengah ke kiri) bernilai satuan, selanjutnya puluhan, ratusan, dan seterusnya. Sedangkan di bagian tengah ke kanan untuk menghitung bilangan desimal. Rupanya abakus ala Jepang ini yang belakangan populer kembali, termasuk di Indonesia.
Menanam sempoa di otak
Munculnya mesin hitung elektronika di AS tahun 1946, rupanya tidak menggoyahkan kepopuleran sempoa. Malah anak yang sudah sangat fasih menghitung dengan metode sempoa telah dibuktikan mampu mengalahkan cara hitung dengan komputer.
Belakangan berbagai kursus mental aritmatika sempoa memang menjamur di kota-kota besar. Menurut salah satu penyelenggara kursus, yaitu Yayasan Aritmatika Indonesia (YAI) yang mengambil lisensi dari Malaysia, berhitung metode sempoa hanya melibatkan hitungan tambah, kurang, kali, dan bagi.
Satu paket belajar terdiri atas 10 tingkat yang kenaikannya harus melalui ujian. Pada tingkat I – III anak belajar penjumlahan dan pengurangan. Pada tingkat IV diajarkan perkalian dan pembagian. Bila satu tingkat selesai dalam tiga bulan, berarti untuk menamatkan 10 tingkat perlu waktu 30 bulan atau 2,5 tahun. Umumnya bila sudah sampai tingkat terampil, mungkin setelah belajar 6 bulan – 1 tahun, sekitar tingkat II atau III, murid diharapkan mampu menghitung tanpa alat bantu apa pun. Sepuluh baris pertanyaan perkalian tiga digit angka dengan tiga digit angka bisa selesai kurang dari 30 detik!
Hal ini bisa terjadi karena anak sudah hapal lokasi satuan, puluhan, ratusan, dst. Cukup dengan membayangkan posisi manik-manik sempoa sambil memainkan jari-jari tangannya, ia bisa menemukan hasil hitungan. Pada tingkat ini ia sudah mampu menghitung cepat di luar kepala. Visualisasi penggunaan sempoa sudah tertanam dalam otaknya.
Namun, ada catatan penting lain, menurut sistem YAI, pelatihan aritmatika sempoa paling sesuai untuk anak usia 6 – 12 tahun karena mereka sedang dalam taraf mempelajari metode dasar eksakta.
“Pikiran mereka masih jernih, belum terlalu dipengaruhi metode aritmatika lain,” tutur Ibu Tia, praktisi sistem YAI di Sanggar Kreativitas Bobo, Jakarta.
Akhirnya, selain bisa berhitung cepat, metode ini berguna untuk mengoptimalkan fungsi-fungsi otak, khususnya otak kanan yang meliputi daya analisis, ingatan, logika, imajinasi, reaksi tinggi, dll. Menurut teori mental aritmatika, pemahaman atas disiplin dasar eksakta ini akan membuat anak mampu menguasai dan menggunakan secara optimal seluruh potensi dan kreativitas dirinya, termasuk menyerap ilmu-ilmu lanjutannya nanti. Untuk kehidupan sehari-hari latihan ini akan melatih mental anak agar menjadi lebih tekun serta disiplin.
Ilmu kemampuan dasar
Kemampuan menghitung dengan cepat, tentu akan menunjang anak dalam pelajaran matematika di sekolah. Atas pertimbangan itu Kepala Sekolah SD Dharma Karya Drs. H. Masduki memasukkan metode ini dalam mata pelajaran di sekolah yang dipimpinnya. “Karena saya pernah melihat ada anak SMP yang menghitung masih dengan alat bantu jari-jari tangan.”
Selain itu, ia membaca di surat kabar rencana akan makin banyaknya diterapkan ilmu kemampuan dasar di tingkat pendidikan dasar. Menurut dia, “Salah satu ilmu kemampuan dasar adalah aritmatika yang meliputi penguasaan berhitung tambah, kurang, kali, bagi.” Bila landasan berhitungnya cukup kuat, siswa tentu tak akan menghadapi masalah dalam memahami matematika yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan GBPP.
SD Dharma Karya mengajarkan metode sempoa aritmatika sejak tahun ajaran baru silam dengan mengambil dua jam dari 10 jam pelajaran matematika. Metode ini diperkenalkan pada siswa kelas I hingga VI. “Repotnya, kalau diajarkan pada siswa di kelas V atau VI, mental berhitung mereka sudah terbentuk yaitu menghitung dengan alat bantu jari tangan, sedangkan jumlah jari tangan sangat terbatas. Tak heran, kalau sering kali matematika sulit dikuasai karena tidak ada bekal ilmu berhitung,” aku Wito, guru mata pelajaran metode sempoa.
Nantinya, murid kelas I sekarang saat duduk di kelas V akan mendapat pelajaran aritmatika sosial. “Siswa belajar menerapkannya dalam masalah sehari-hari, misalnya saat berbelanja,” tutur Wito yang mengaku sempat bekerja keras merakit sempoa sederhana untuk dipakai berlatih murid-muridnya.
Ternyata Wito punya target yang sama dengan YAI, yaitu memasukkan sempoa bayangan ke otak anak. Tugas pertamanya adalah bagaimana agar muridnya lancar mengoperasikan sempoa. Di otak setiap gerakan bisa punya makna dalam hitungan. Sehingga kalau pun tanpa sempoa siswa tak akan kesulitan dalam berhitung.
Menurut Wito, murid-muridnya tak pernah bosan belajar dengan sempoa. Murid-muridnya tak merasa sedang belajar, malah lebih merasa sedang bermain manik-manik sempoa.
Masduki tak mengingkari masalah yang mungkin muncul. Berbeda dengan kursus, di mana satu anak punya sempoa sendiri yang bisa dipakai berlatih di rumah, sempoa di sekolahnya hanya dipinjamkan pada siswa saat pelajaran. Belum lagi jumlah siswa satu kelas yang mencapai 35 orang, sehingga mungkin saja ada anak yang agak lambat menguasainya. “Namun, selalu ada jalan keluar, misalnya memberi pengajaran remedial atau pengayaan,” tutur Masduki yang, sama seperti guru dan orang tua mana pun, bertekad memberikan bekal terbaik untuk generasi penerusnya. (Shinta Teviningrum/Nanny Selamihardja)

Iklan

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera untuk kita.

 Semua Caleg yang terhormat, ada beberapa hal yang akan saya sampaikan kepada saudara berkaitan dengan makin dekatnya Pemilihan Umum.

Pertama, Anda telah berani untuk mengambil sebuah pilihan yaitu menjadi anggota legislatif, yang berarti bersedia menjadi wakil rakyat, dan bersedia juga untuk  mendengarkan keluhan-keluhan rakyat. Saya sangat menghormati pilihan ini, dan akan mendukung saudara dengan beberapa syarat berikut:

Perlu saudara ketahui bahwa partai politik kini tidak lagi populer, karena partai politik ‘disinyalir’ menjadi pusat kebobrokan negeri ini. Masyarakat sekarang ini malas untuk datang ke TPS mencoblos, karena mereka telah berkali-kali mencoblos, tetapi hasilnya harga-harga melambung di luar jangkauan daya mereka, cari makan sulit, biaya pendidikan makin tinggi, biaya berobat juga melangit, bencana berkali-kali melanda tanpa penanganan yang tuntas, korupsi bukannya berhenti, tetapi makin menggejala dan menjalar ke mana-mana. Anda telah memilih untuk masuk ke dunia yang kusut. Jika anda bersungguh-sungguh berjuang tanpa persiapan maka anda bagaikan orang buta yang mengurai benang kusut, di malam hari, di tengah hutan yang gelap gulita. Anda justeru dapat menjadi korban dari kekusutan benang republik ini. Maka pesan saya yang pertama, berhati-hatilah, kuasai medan, sehingga anda tidak terjebak dalam pusaran permainan.

Dengan memilih menjadi anggota legislatif maka beban seluruh rakyat (konstituen) saudara 50% berada di pundak, dengan tanggungjawab yang sedemikian berat dipundak saudara saya khawatir anda tidak dapat mencari nafkah untuk anak dan isteri di rumah, lalu anda mencari nafkahnya di gedung Dewan yang terhormat itu. Kalau itu yang terjadi maka sebetulnya saudara bukan hendak menjadi wakil rakyat, tetapi menjadi wakil rumah tangga, dan saudara tidak hendak memperjuangkan nasib rakyat, tetapi ‘melamar pekerjaan’ di kantor DPR. Pesan kedua saya, kuatkan terlebih dahulu finansial saudara di rumah, sediakan beras yang cukup beserta lauknya untuk anak isteri, agar saudara tidak menjadi ‘kuli’ bagi bos-bos kepentingan di gedung DPR, seperti para pengusaha, pemilik modal dan pihak asing yang menggunakan legitimasi DPR untuk memuluskan ambisinya.

Dengan bersedia menjadi anggota legislatif, maka anda telah bersepakat untuk tunduk kepada teori Jean Jacques Rosseau tentang konsep Negara yang terdiri dari trias politica yudikatif, legislatif dan eksekutif, hal mana ketiga unsur itu menjadi wujud demokrasi di negeri tercinta ini. Dengan memilih menjadi salah satu bagian dari implementasi teori Jean Jacques Rosseau yang ‘gila’ itu maka anda tidak berhak mengajukan pilihan teori Negara yang lain, baik itu komunis, islam, atau anarkhis, maka jika anda nanti terpilih, kemudian meneriakkan slogan-slogan ‘anti pancasila’ dan menawarkan konsep teori negara yang baru (komunis, liberalis dan Negara Islam), maka anda adalah munafiq terbesar di dunia, jika anda bersungguh-sungguh ingin mengubah Negara maka anda tidak selayaknya masuk menjadi bagian dari teori yang tidak saudara setujui, karena hal itu tak ubahnya macan ompong yang mengaum. Untuk itu pesan saya kepada saudara jangan sekali-kali menggunakan dalil agama untuk tujuan yang hanya macan ompong itu, karena agama sangat mulia tidak dapat digunakan untuk hal yang serendah itu. “Wala tasytaruu bi ayaty tsamanan qaliilaa”, Jangan jual ayat-ayatku dengan harga murah.

Dalam dunia politik, telah menjadi rahasia umum bahwa pemilihan itu selalu diwarnai politik uang (money politics), padahal praktek politik uang ini adalah perilaku iblis, jika saudara memang jantan, jangan gunakan cara yang tidak jantan untuk menjadi calon legislatif dengan menyogok pemilih dengan uang, menanglah dengan jantan dan kalahlah dengan jantan. Ingat bahwa penyogok dan yang disogok akan masuk neraka.

Terakhir, begitu saudara terpilih menjadi anggota legislatif, system yang baru telah menjerat saudara, sibuk melepaskan diri dari jerat-jerat dengan resiko melupakan tujuan semula, dan melupakan kosntituen atau membiarkan jerat-jerat system yang lama-lama terasa nikmat itu tetap kuat menjerat kita, bahkan suatu hati kita enggan melepaskan jerat-jerat itu, bahkan marah kalau ada orang lain yang hendak membantu melepaskan jerat dalam tubuh kita. Pesan saya tetaplah dalam kesadaran tertinggi saudara agar jerat-jerat setan itu tidak seluruhnya mengikat saudara sampai kehilangan kesadaran, kata Ronggowarsito “Bagus-baguse wong, yaku kang tansah eling lan waspada (Sebagus-bagus orang adalah yang senantiasa ingat dan waspada” Kepekaan saudara adalah kunci keberhasilan saudara sendiri.

Demikian surat terbuka ini saya kirikan, dengan harapan dapat dibaca oleh setiap anggota legislative dan calon anggota legislative. Meskipun demikian saudara yang telah membaca surat ini, dan tidak mempedulikan isinya tidak akan menjadikan kedudukan legislative saudara tergusur, atau pemilih saudara akan lari, atau pimpinan parpol akan merekol saudara, sekali-kali tidak, karena ini hanya himbauan dari jeritan hati. Di dengar ataupun tidak, tidak pernah akan mempengaruhi dunia.

Cukup sekian, surat terbuka ini.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thorieq

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

Pengirim

 

Mustolih Brs

Penggunaan materi pembelajaran dalam pendidikan, mengacu kepada filosofi materialisme, aliran filsafat barat yang kemudian pecah menjadi dua aliran besar. Materialisme Histories dan Materialisme Kritis, materialisme histories dikembangkan oleh Karl Marx tokoh sosialis yang tidak pernah menyebut demikian dalam filsafatnya, ia bahkan tidak mau disebut seorang sosialis, adalah Frederick Engel yang mengubah tulisan-tulisan Marx untuk propaganda sosialisme, dikataka bahwa Materialisme Histories Marx adalah asal mula sosialisme, dalam buku yang diterbitkan dua tahun setelah Marx meninggal Das Kapital habis-habisan bahwa, kapitalisme yang menjadi musuh sosialisme harus dibumihanguskan.

Lenin menggerakkan buruh untuk menumbangkan rezim kapitalis di Jerman, meskipun berakhir dengan kekalahan Lenin telah ikut mengubah dunia dengan menjadikan Uni Soviet negara komunis. Uni Soviet mengembangkan ideologi negaranya ke negara di sebelah selatannya yaitu India dan China, di India komunisme kalah dengan penjajah Inggeris dan di China komunisme menelorkan revolusi China. lahirkan negara komunis baru China.

Kapitalisme berangkat dari filsafat Hegel yang sukses ‘menyelesaikan’ semua pikiran manusia, sehingga para filosof setelah Hegel seakan tidak memiliki ruang pembahasan filsafatnya. Hegel unggul dengan filsafat dialektika, yaitu segala sesuatu itu adalah tesis, setelah itu pasti akan ada yang menjadi antitesis terhadap tesis pertama, maka akan muncul sintesis yang merupakan perpaduan antara Tesis dengan antitesis, sintesis itu dalam beberapa waktu berubah lagi menjadi tesis dalam kemapanannya, akan muncul antitesis sehingga muncul pula sintesis, demikianlah alur kehidupan manusia pelan-pelan menjadi meningkat.

Materialisme kritis yang berangkat dari filsafat material melahirkan kapitalisme, bahwa produksi harus dengan biaya seminimal mungkin dan menghasilkan untung sebanyak mungkin.
Positivisme yang menjadi bahan bagi ramuan positifisme, materialisme kritis, dan imperialisme melahirkan revolusi industri yang menandai kebangkitan kapitalisme global. Imperialisme menyergap negara-negara yang tidak menguasai tulis-menulis. Rempah-rempah mereka, hasil panen mereka, semua diambil oleh imperialis ke negaranya dan membiarkan rakyat jajahan dalam kemiskinan, sakit, dan kemelaratan.

Istilah materi dalam ‘materi pembelajaran’ di dunia pendidikan adalah produk dari filosofi materialistik yang memandang sesuatu dari aspek inderawi semata. Seakan-akan hidup ini hanya untuk mengumpulkan materi, benda, dan kekenyangan, dan boleh melupakan kemanusiaan, kehidupan setelah mati dan penciptaan. Hal ini melahirkan generasi bangsa (produk pendidikan) menjadi berjiwa materialistik, segala sesuatu diukur dari nilai materi dan uang. Pelan-pelan nilai gotong royong, tepo sliro, setia kawan, menipis bahkan hilang sama sekalidari hati sanubari generasi bangsa ini.

Individualisme mengemuka, sifat mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain, menggejala, tidak ada tenaga yang keluar untuk memperbaiki saluran air, sungai, sampah dan lain-lain kecuali diupah. Duh bangsa ini, berprihatinlah…!!!