Penelitian Film Anak-Anak Di TV Dalam Rangka Pengembangan Program Pendidikan Budi Pekerti

Posted: Januari 6, 2009 in Artikelku

Oleh: Drs. Zamris Habib, M.Si, Drs. Waldopo, M.Pd, dan Dra. Indrayanti Ch. M.Pd.

 

Kajian Hasil Penelitian, Tugas mata kuliah, Pengembangan dan Peningkatan Kualitas Pembelajaran, Dosen Pengampu: Prof. Pardjono, Msc. Ph.D

Disusun Oleh: Mustolih (07712259006), Rifa Suci Wulandari             (07712259009)

 

A.    Ringkasan Hasil Penelitian

Menyadari potensi televisi sebagai media yang dapat  menyampaikan pesan-pesan pendidikan secara efektif dan mampu mempengaruhi  perilaku seseorang, serta menunjang usaha pemerintah dalam menanamkan nilai-nilai budi pekerti, sejak tahun 1984 Pustekkom Diknas telah memproduksi  film-film dan sinetron bagi siswa sekolah yang berisikan nilai-nilai budi pekerti seperti Bina Watak, Bina bakat, Aku Cinta Indonesia (ACI) dan Laskar Anak Bawang, dan sampai sekarang masih terus mengembangkan program-program pendidikan. Berdasarkan uraian di atas, tentulah merupakan obyek studi yang menarik untuk diteliti mengenai film televisi apakah yang paling disukai oleh anak-anak. Oleh sebab itu, dengan penelitian ini akan digali informasi mengenai tanggapan anak-anak terhadap film-film anak-anak yang mereka tonton di televisi. Dari target 960 responden, ternyata di lapangan diperoleh 1069 responden yang isian kuesionernya memenuhi syarat untuk dianalisis. Dari 1069 orang responden tersebut, 542 orang (50,7%) berdomisili di dalam kota (DK) dan 527 orang (49,3%) berdomisili di  pinggiran kota (PK). Dari hasil kuesioner diperoleh hasil sebagai berikut:

 

1.      Profil Responden

Dari 1069 orang responden 46,49% berjenis kelamin laki-laki dan 53,51% berjenis kelamin perempuan. Pendidikan ibu responden lebih dari dua pertiga (65%) berpendidikan SLTA dan perguruan tinggi, SLTP dan SD 32% dan hanya 3% yang tidak bersekolah. Pekerjaan ayah hampir sepertiga (32%) adalah pegawai negeri/ BUMN, 29% karyawan swasta, 13 % pedagang/pengusaha, 12% buruh, 5% guru, 4% anggota TNI/Polri, 3% petani/nelayan dan 2% sisanya tidak bekerja.

 

2.      Data Film

Hampir sepertiga responden (31%) menyukai film berjudul Doraemon, Crayon Sinchan (13%), dan Dragon Ball (8%). Kera Sakti, Keluarga Cemara dan Panji manusia Millineum masing-masing disukai oleh 5% responden, Detektif Conan 4% dan sisanya secara berturut turut mereka menyukai  film yang berjudul Digimon Adventure, Samurai X, Bidadari, Kobochan, Ninja Hatori, dan Ghost Buster. Masih banyak film-film lainnya diminati oleh kurang dari 1% seperti: Pokemon, Bittle Borg, Chabelita, ABCD, Jinny Oh Jinny, P-Man, Makibao, Sailor Moon, Winnie The Pooh, Anak Ajaib, Dr. Slump, Mario Broos, Laskar Anak Bawang, Mickey Mouse, Mojako, Mr. Hologram, Power Puff Girl, Saras 008, Zsuzaku Akochan, Ari, Dul Joni, Fireman, Jin dan Jun, Kumba, LUV, Mortal Combat, Phantom, dan X-Men.

Sebagian besar responden menyukai film-film tersebut dengan alasan karena faktor ceriteranya yang menarik.. Alasan ini terutama terlihat pada film Doraemon, Crayon Sinchan, Dragon Ball, Detektif Conan dan lain-lain. Alasan berikutnya berupa tokoh pemainnya yang lucu dan menarik. Hal ini terutama terlihat pada film Doraemon, Crayon Sinchan, Detektif Conan dan lain-lain. Alasan lainnya karena banyaknya adegan keajaiban-keajaiban, pemandangan yang indah, lagu-lagunya yang enak didengar serta pakaiannya yang menarik.

 

3.      Tokoh Film Anak-Anak  yang Paling Disukai

Tokoh yang paling banyak penggemarnya adalah Doraemon (23%) dan Sinchan (15%).  Tokoh-tokoh  lainnya yang diminati oleh lebih dari 1% responden secara berturut-turut adalah Panji (8%), Songgoku (7%), Sun Go Kong (4%), Kobochan (3%), Nobita, Cemara, Detektif Conan, Abah,  P -Man dan  Sizuka. Tokoh-tokoh lain yang disukai namun peminatnya kurang dari 1% (di bawah 10 orang) antara lain: Samurai X, Saras , Patamon, Yamato, Digimon, Yoshua, Taichi, Pikacu, Pokemon, Jun, Makibao, Tomy, Batman, Chabelita dan Agil, Bubles, Dr. Slump, Sailor Moon, Samsir, dan Susako.

Alasan responden menyukai tokoh-tokoh film di atas yang paling dominan adalah karena kebaikan, kelucuan dan keberaniannya. Sebagai contoh  Doraemon disukai karena kelucuan dan kebaikannya, Sinchan karena kelucuan dan keberaniannya, Panji karena kebaikan dan keberaniannya, dan Songgoku karena keberaniannya. Alasan lainnya yang mereka kemukakan adalah karena wajahnya yang tampan serta pakaiannya yang menarik. Sebagai contoh Sunggokong (dalam film Kera Sakti) disukai karena karena wajahnya yang tampan serta pakaiannya yang menarik.

 

4.      Pelajaran yang dapat Diambil dari Film-Film Anak-Anak

Para responden menyatakan bahwa  ada hal-hal positif  (pelajaran) yang dapat mereka peroleh dari film anak-anak yang mereka tonton di televisi. Hal-hal positif (pelajaran) yang dapat mereka peroleh antara lain:

a.       Tidak boleh berbohong, diakui oleh 40% responden.

b.      Tidak boleh menjadi anak penakut, diakui oleh 39%% responden.

c.       Menghargai sesama teman (walaupun mereka berbeda dalam hal kekayaan, agama, kepintaran dan pendapat). Hal ini diakui oleh 37% responden.

d.      Tidak boleh nakal dan harus sopan kepada orang yang lebih tua, diakui oleh 31% responden.

e.       Hormat kepada orang tua, diakui oleh 27% responden.

f.       Harus mengerjakan keperluan sendiri seperti merapikan tempat tidur, membersihkan sepatu dan mengatur jadwal belajar. Hal ini diakui oleh 27%% responden.

g.      Harus sabar dan tidak cepat marah, diakui oleh 26% responden..

h.      Wajib berbakti kepada Tuhan. Hal ini diakui oleh 18%% responden.

 

5.      Jenis Film Anak-Anak yang Disukai

Ternyata sebagian besar responden (74%) menyukai film kartun, 21% menyukai film yang bukan kartun dan 5% sisanya menyukai keduanya.

 

B.     Kajian terhadap Hasil Penelitian

Tak satupun pakar komunikasi ataupun pendidikan yang meragukan akan potensi yang dimiliki televisi jika dimanfaatkan sebagai media pendidikan. Namun sayang, kebanyakan kita masih belum menyadari hal ini, sehingga kepemilikan pesawat TV yang kini mudah dijumpai hampir di setiap rumah kurang diberdayakan untuk kepentingan tersebut. Padahal sebenarnya banyak tayangan-tayangan televisi yang berisikan materi pendidikan/pembelajaran dan hiburan yang bila ditonton akan sangat bermanfaat bagi putra-putri kita dalam meningkatkan kualitas hasil pendidikan/pembelajarannya dengan sangat murah misalnya melalui film-film anak untuk menanamkan pendidikan budi pekerti.

Pendidikan budi pekerti sering diartikan dengan pendidikan akhlak. Budi pekerti dan akhlak merupakan dua istilah yang memiliki kesamaan essensi. Di dalam akhlak terkandung nilai-nilai budi pekerti, baik yang bersumber dari ajaran agama maupun dari kebudayaan manusia. Budi pekerti mencakup pengertian watak, sikap, sifat, moral yang tercermin dalam tingkah laku baik dan buruk yang terukur oleh norma-norma sopan santun, tata krama dan adat istiadat. Sedangkan akhlak diukur dengan menggunakan norma-norma agama (Departemen Agama, 2000: 2-3). Secara lebih terperinci lagi (Depdiknas, 2000: 5) menjelaskan bahwa tujuan pendidikan budi pekerti adalah mengkaji dan menginternalisasi nilai, mengembangkan keterampilan sosial yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya akhlak mulia dalam diri peserta didik serta mewujudkannya dalam prilaku sehari-hari dalam konteks sosio-kultural yang berbhineka sepanjang hayat.

Apa yang dihadirkan televisi bersifat audiovisual, sehingga sangat membantu pemirsa untuk cepat mengerti dan mencernakan pesan yang diterimanya. Dari layar televisi dapat dipahami lebih mudah dan mendalam, karena siswa mendengar dan melihat pernyataan dari berbagai pihak yang langsung terlibat berikut gambaran visual yang menarik dan mengena urutan peristiwanya. (Darwanto, 2007:45-46)

Siaran televisi memiliki daya penetrasi yang sangat kuat terhadap kehidupan manusia sehingga ia mampu mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dalam rentang waktu yang relatif singkat. Dengan jangkauannya yang begitu luas, siaran televisi memiliki potensi yang luar biasa untuk dimanfaatkan semaksimal bagi kepentingan pendidikan/pembelajaran (Widarto, 1994: 7). Dalam hal ini film-film anak-anak di TV merupakan salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan untuk penanaman budi pekerti. Menurut Perin (1977: 7) Pemanfaatan televisi sebagai media pendidikan sebenarnya tidak mahal karena dalam waktu yang bersamaan program tersebut bisa dimanfaatkan oleh peserta didik dalam jumlah yang sangat besar dan dalam daerah jangkauan yang luas: “they are so available and so inexpensive (where) seeing the number of consumers is large”. Dari hasil penelitiannya (Dwyer, 1978: 11) melaporkan bahwa 94% materi pendidikan/ pembelajaran diserap peserta oleh didik melalui indera penglihatan dan pendengaran. Sedangkan 6% sisanya melalui indera pengecap, peraba dan penciuman. Sehingga apabila guru mampu mengelola dan memanfaatkan media ini dengan baik tentu hasil pembelajaran peserta didik akan meningkat.

Hasil penelitian diatas mengupas tentang tanggapan anak-anak terhadap film-film anak di TV sebagai sarana pendidikan budi pekerti dengan cukup bagus. Tetapi kurang begitu menyoroti tentang pemanfaatan media ini dalam pembelajaran oleh guru secara aplikatif. Padahal sebenarnya banyak tayangan-tayangan televisi yang berisikan materi pendidikan/pembelajaran yang sangat bermanfaat dalam meningkatkan kualitas hasil pendidikan/pembelajaran dengan sangat murah, Dengan menyaksikan tayangan program-program televisi anak dapat menyerap materi-materi pendidikan/pembelajaran juga hiburan. Jika media ini dimanfaatkan dengan tepat akan sangat menunjang keberhasilan pembelajaran.

 

C.    Implikasi pemanfaatan media TV terutama film-film anak sebagai sarana pendidikan budi pekerti di SD.

 

Sampai saat ini guru-guru SD kurang memanfaatkan peran media sebagai sarana penunjang pembelajaran, seperti media TV. Film-film anak di TV sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang menarik. Televisi mampu memberikan rangsangan, membawa serta, memicu, membangkitkan, mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu, memberikan saran-saran, memberikan warna, mengajar, menghibur, memperkuat, menggiatkan, menyampaikan pengaruh dari orang lain, memperkenalkan berbagai identitas atau ciri sesuatu sehingga dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa (Brown, 1977: 347). Selain itu, media televisi juga merupakan wahana yang kuat pengaruhnya dalam pembentukan pola fikir, sikap dan tingkah laku disamping menambah pengetahuan dan memperluas wawasan masyarakat (Harjoko, 1994: 4). Menurut Oemar Hamalik (1989: 1) keberhasilan suatu proses belajar mengajar tidak lepas dari peran media didalamnya, sebab media adalah suatu bagian integral dari proses pendidikan di sekolah.

Seiring dengan kemajuan jaman dan perkembangan arus globalisasi, maka media televisi mempunyai peran yang sangat besar untuk mempengaruhi perkembangan pendidikan anak, terutama dalam proses pembentukan karakter. Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting untuk mendampingi anak menonton televisi, karena program TV akan berpengaruh pada kejiwaan anak yang cenderung meniru atau mencoba apa yang dilihatnya. Media televisi mempunyai peran besar dalam mendidik dan mempengaruhi perkembangan jiwa anak sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran. Tetapi pemanfaatan media ini untuk kepentingan pengajaran sebaiknya memperhatikan kriteri-kriteria sebagai berikut:

1.      Ketepatannya dengan tujuan pengajaran; artinya media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan.

2.      Dukungan terhadap isi bahan pelajaran; artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep, dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa.

3.      Kemudahan memperoleh media; artinya media yang diperlukan mudah diperoleh oleh guru pada waktu mengajar.

4.      Keterampilan guru dalam menggunakanya; apapun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru yang dapat menggunakanya dalam proses pengajaran.

5.      Tersedia waktu untuk menggunakanya; sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung.

6.      Sesuai dengan taraf berpikir siswa; memilih media untuk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan taraf berpikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dapat dipahami oleh para siswa (Nana Sudjana, 2002: 4 – 5).

 

Dengan memasukkan televisi ke dalam kelas, siswa akan lebih terangsang untuk belajar dari televisi apalagi jika yang ditayang adalah film yang disukai anak-anak. Sayangnya masih jarang stasiun televisi yang menayangkan film-film anak-anak ini saat jam pelajaran, sehingga guru-guru sia-sia membawa televisi ke dalam kelas. Film anak-anak justeru ditayang pada jam-jam di luar sekolah sehingga televisi sebagai media pembelajaran di sekolah masih ‘jauh api dari panggang’. Pada jam-jam sssekolah (07.00-12.00), tayangan yang banyak di televisi adalah telenovela, sinetron yang sudah pernah ditayang sebelumnya, dan film-film dewasa lainnya, yang ini diperuntukkan bagi ibu-ibu rumah tangga di rumah yang tidak memiliki aktifitas di luar rumah. Film-film anak-anak ditayang pada jam 06.00 – 07.30 lalu sore hari pada 16.00 – 17.30 dan pagi hari hanya pada hari-hari minggu.

 

E.     Sumber/Daftar Pustaka

 

Sumber artikel: http://pustekkom.depdiknas.go.id/index.php diakses tanggal 11 November 2008.

 

Brown, Ray J. (1977). Children and television. Beverly Hills, California: Sage Publication INC.

 

Darwanto, Drs. S.S,. (2007), Televisi Sebagai Media Pendidikan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.

 

Departemen Pendidikan Nasional. (2000). Pedoman Umum Pendidikan Budi Pekerti Untuk Pendidikan Dasar dan Menegah. Jakarta: Ditjen Dikdasmen.

 

Departemen Agama. (2000). Budi Pekerti Dalam Mata Pelajaran pendidikan agama, Konsep Operasional. Jakarta: Direktorat Pembinaan, Kelembagaan, Agama Islam.

 

Dwyer Francis M. (1978). Strategis for Improving Visual Learning. State-College, Pensylvania: Learning Services.

 

Hardjoko, Wiryo Sri, Pendayagunaan radio dan televisi dalam pendidikan. Makalah bahan Seminar/Lokakarya Nasional Teknologi Pendidikan 1-3 Februari 1994 (Jakarta: IPTPI, CTPI dan Pustekkom Depdiknas, 1994).

 

Nana Sudjana & Ahmad Rivai. (2002). Media pengajaran. Jakarta: Sinar Baru Algensindo.

 

Oemar Hamalik. (1989). Media pendidikan. Bandung: Aditya Bakti.

 

Perin Donald G. (1977). Instructional Television: Synopsis of Television in Education. New Jersey: Educationa Technology Publication.

 

Widarto Suprapti. “Pendayagunaan Siaran Televisi untuk Pendidikan Sumber Daya Manusia”, Makalah Bahan Seminar Lokakarya Nasional Teknologi Pendidikan Tentang: Media Massa Elektronik dan Pendidikan Sumber Daya Manusia, 1-3 Februari 1994. Jakarta: IPTPI, CTPI, Pustekkom, 1994).

Komentar
  1. lipat-brosur.com mengatakan:

    luar biasa artikel anda sungguh menarik dan menginspirasi saya sebagai pembaca

  2. niesha nurzeha mengatakan:

    terimakasih,sangat bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s