Budaya Menulis di Sekolah Dasar

Posted: Februari 16, 2009 in Artikelku

logo_smcetak
PENDIDIKAN

16 Februari 2009
Suara GurU

DALAM pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, menulis merupakan salah satu unsur penting pembelajaran. Menulis sebagai bentuk keterampilan aktif-produktif merupakan suatu aktivitas untuk mengomunikasikan pikiran secara tertulis.

Aktivitas menulis kreatif bagi siswa sekolah dasar (SD) terbilang masih rendah. Sebab, para siswa cenderung malas dan belum bisa menuangkan gagasan dan pemikiran dalam bentuk tulisan. Kelemahan tersebut diperkuat oleh faktor pendidik yang terbiasa menekankan teori daripada praktik.

Tak pelak, guru belum menerapkan kreativitas mengajar. Adalah ironis ketika gaung kreativitas guru makin santer dibicarakan, masih ada guru menggunakan metode konvensional dalam mengajar.

Padahal, membiasakan siswa menuangkan gagasan dalam tulisan merupakan langkah awal yang tepat sebagai proses penanaman budaya menulis kreatif. Untuk menghidupkan kemauan dan membiasakan siswa melatih keterampilan menulis, perlu formula dalam mengontruksi hal itu.

Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Pertama, menerapkan prinsip keteladanan. Seorang guru bahasa dan sastra Indonesia seharusnya membiasakan diri mengekspresikan diri dalam tulisan sebagai ruang keteladanan bagi siswa. Prinsip keteladanan guru sangat efektif diterapkan, mengingat anak SD/MI cenderung senang mengimitasi kebiasaan guru.

Kedua, membiasakan siswa berlatih menuliskan pengalaman empiris mereka, baik berupa puisi, prosa, maupun cerpen. Ketiga, menulis membutuhkan kekayaan kosakata dan gagasan menarik, maka guru perlu membiasakan siswa rajin membaca buku sebagai bekal menulis.

Keempat, menghidupkan majalah dinding di sekolah sebagai wadah penyalur kreativitas menulis siswa. Jangan lupa, berikan penghargaan kepada siswa dengan tulisan terbaik sebagai motivasi berkarya.

Beberapa langkah tersebut minimal dapat memberikan gambaran agar pembelajaran menulis tidak hanya berkutat pada segi teoretis. Pembelajaran menulis akan bermakna ketika telah menyentuh ranah implementasi.

Jadi, bisa diharapkan bukan sekadar hal utopis bagi siswa untuk bisa menuangkan gagasan dalam tulisan. Kunci sukses pembelajaran ada di tangan pendidik. Karena itu, jadilah pendidik yang pandai mengantarkan siswa memahami makna belajar. (53)

– Ismilah Ardianingrum, staf pengajar MIN Muktisari, Kebumen

Komentar
  1. Latief mengatakan:

    Syukron tas ilmu¥, brmanfaat bgt bwt ku.bwt yg læn jg psti bmanfaat, smoga tetap istiqomah menuliskn ilmu, Makasiiiiih bnyk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s