Berteater Itu Ibadah

Posted: Februari 1, 2009 in Artikelku

Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Ayat ini menginspirasi penulis bahwa segala sesuatu harus dilandasi sebagai Ibadah. Termasuk dalam hal ini ketika berteater. Berteater adalah bentuk pengungkapan ekspresi diri, dalam menyikapi realitas sosial, budaya, politik, hukum dan lain-lain.
Penyikapan ini biasanya adalah sikap kritis para pekerja teater terhadap pemerintah, ini sah dan dilindungi undang-undang. Totalitas dalam teater dibutuhkan sama seperti dibutuhkannya khusuk dalam shalat. Seorang yang berteater dengan niat ibadah,¬†bagaikan seorang SUFI yang sedang melakukan kontemplasi (berdzikir) melalui tahapan-tahapan dzikir billafdzi (dzikir dengan lafadz, sambil menggoyang-goyangkan kepala) ini adalah tingkatan dzikir paling awam, dalam literatur Tasawwuf disebut syari’at, seperti seorang yang baru mengenal Islam lalu meneriakkan Allahu Akbar di mana-mana. Naik ke taraf dzikir bil qalb, mengingat Allah dengan hati, selalu dalam kondisi apapun, dalam siatuasi bagaimanapun hanya Allah yang tampak dalam hatinya, seorang yang telah melalui tahap ini, tidak lagi teriak-teriak Allahu Akbar di jalan-jalan, mereka melakukan dakwah dengan hati, bukan dengan lisan, tahap ini adalah tahap hakikat. Tahap terakhir yang hanya dapat dimiliki para wali adalah dzikir bil hal, setiap melihat keadaan langsung melihat Allah, Allah ada di mana-mana di semua tempat, di semua benda, karena semua hal, semua tempat, semua benda, semua makhluk hakikatnya hanyalah Allah semata, tahap ini disebut tahap ma’rifat. Gus Dur sudah sampai pada tahap ini, oleh karenanya setiap melihat realitas semuanya Allah, bahkan dalam kondisi seperti yang dialami Inul, Gus Dur melihat peran Allah di sana. Semua hanya Allah. Itulah tauhid sejati, tiada yang lain kecuali hanya Allah. Itulah makna La ilaaha Illa Allah, Itulah tahap Ma’rifat, seorang ma’rifat falsafi seperti Al Hallaj, atau Syekh Siti Jenar, melihat kebersatuan Allah dengan dirinya, dirinya lebur hilang dalam wujud Allah, seorang ma’rifat akhlaqi melihat bahwa ujung akhir manusia adalah menjadi insan kamil, (manusia sempurna).
Berteater sebagaimana penulis lakukan selama ini, adalah upaya dari rangkaian dzikir dari lafadz, qalb (hati) dan ahwal untuk menuju insan kamil.
Hidup….!! Teater menuju Insan Kamil atau mewujud dalam wahdatul wujud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s