Menerima Kemiskinan dengan Qana’ah

Posted: Januari 20, 2009 in Artikelku

Rasulullah bahkan berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah aku miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin”, Artinya kemiskinan adalah nikmat. Miskin tidak dapat disamakan dengan Faqir, dalam ilmu tasawwuf, faqir adalah kebutuhan tertinggi manusia terhadap Allah, bukan kebutuhan terhadap kehidupan duniawi. Kita sering mendengarkan anjuran untuk menjadi orang kaya, dengan perintah Haji dan zakat misalnya. Hal ini bukan berarti untuk beribadah haji atau zakat menunggu kita untuk berhaji atau berzakat. Karena kemauan haji dan zakat adalah kesadaran iman, bukan kesadaran menjadi kaya. Hidup ini bukalah kekayaan itu senditi, tetapi menikmati perjalanan hidup dengan penuh syukur, itulah hakikat hidup ini.

Saya bukan hendak melarang orang untuk kaya, yang ingin saya tandaskan adalah bahwa tujuan hidp ini bukanlah sama sekali harta, sehingga untuk menempuh perjalanan selanjutnya anda kira perlu dibebani dengan beban-beban dunia. Bicara saja sulit, apalagi menggunakannya, perkembangan  sesuatu yang tidak penting dengan menghamburkan uang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s