Pelajar Kita Miskin Karya, Kaya Kognisi

Posted: Januari 14, 2009 in Artikelku

Orang Miskin

Orang Miskin

Observasi yang dilakukan penulis di sebuah SD di Yogyakarta, menemukan fenomena menarik yang juga dialami oleh SD-SD lainnya. Formasi kelas yang seragam, guru menjadi sentral dalam kelas, dan matinya kreatifitas siswa, karena harus mendengarkan gurunya terus-menerus tanpa henti sampai siswa merasa bosan. Hal ini mengakibatkan potensi siswa, kreativitas, inovasi dan adventure tidak berkembang. Akibatnya siswa mengetahui segala sesuatu dari belajar di kelas, tetapi tidak melihat dan mengalami pengetahuannya. Hal ini membuat kondisi pendidikan di Indonesia juga tidak kreatif, tidak inovatif dan menjadikan siswa penakut, dan mewarisi watak inlander (nomor dua).

 

 

Gedung-gedung sekolah di Indonesia yang menjadi satu-satunya harapan dalam ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ justeru menjadi penjara-penjara bagi para siswa. Perubahan kurikulum tidak disertai dengan profesionalisme guru. Pola lama dalam praktek pembelajaran terus berlangsung, tidak peduli kurikulum berubah berbasis kompetensi atau kurikulum tingkat satuan pendidikan yang seringkali dipelesetkan kurikulum terserah sekolah panjenengan. Harapan suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan berbasis kompetensi, tidak kunjung tercipta, guru masih mengejar menghabiskan materi pembelajaran daripada kompetensinya.

Ditambah sedikitnya guru yang mau mengembangkan diri secara sungguh-sungguh. Pelatihan, workshop dan lokakarya pembelajaran sering diikuti, tetapi ilmu tentang pola pembelajaran yang didapat hanya untuk guru sendiri tidak dipraktekkan dengan alasan sarana masih kurang, atau birokrasi sekolah tidak mengijinkan, ada yang mempraktekkannya di sekolah, tetapi hanya bertahan satu bulan setelah itu kembali dengan pola lama.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaaran (RPP) yang menjadi panduan guru di kelas, tidak dipatuhi dan di antara sekolah satu dengan lainnya seragam. Tujuan pembelajaran, indikator, metode dan strateginya sama, padahal input siswa, keadaan sarana-prasarana, dan kondisi kelas jelas berbeda. Terutama di sisi metode yang selama ini tercantum dalam RPP itu-itu saja, seperti ceramah, diskusi, demonstrasi, penugasan dan bermain peran seakan-akan tidak ada metode selain yang tersebut tadi. Dan dalam praktek pembelajarannya di kelas guru ternyata memilih metode ceramah, dengan pertimbangan waktunya lebih praktis, tidak membutuhkan biaya, tidak memerlukan media, pokoknya simple dan praktis meskipun sebetulnya membuat guru lebih lelah.

Pengutamaan terhadap metode ceramah ini tidak ideal menurut Edgar Gale, dalam piramida pengalaman yang disusunnya indera pendengaran mendapat kapasitas memory paling pendek dalam otak manusia, artinya jika hanya mendengar maka orang cenderung lupa. Yang paling lama tersimpan dalam memory adalah pengalaman langsung, artinya jika mengalami sendiri maka orang cenderung selalu ingat. Adagium terkenal dalam bahasa Inggris berbunyi demikian: I hear I forget (Saya mendengar saya lupa),  I see I remember a little (Saya melihat saya ingat sedikit), I hear and see I remember (Saya melihat dan mendengar saya jadi ingat), I do I am a master (saya melakukan saya menjadi ahli) tidak menjadi perhatian para guru.

Musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) yang seharusnya menjadi forum untuk bertukar kreatifitas metode pembelajaran, penggunaan media, dan perbaikan kualitas pembelajaran, justeru dijadikan sarana untuk copy paste penyusunan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang menjadi tugas sekolah para guru itu. Mereka tidak berbekal kreatifitas yang akan dishare dalam musyawarah, mereka justeru berbekal flashdisk untuk mengcopy paste silabus dan RPP dan setelah diubah nama sekolah, guru pengampu dan kepala sekolahnya salinan silabus, dan RPP itu telah menjadi karyanya. Seringkali terjadi kesalahan ketik dalam sebuah RPP mata pelajaran terjadi sama di beberapa sekolah.

Alih-alih berbicara kualitas, pengelola sekolah yang banyak merangkap menjadi guru justeru sibuk meningkatkan kapasitas kemewahan dan kenyamanan gedung mereka sibuk mengajukan proposal untuk pembangunan gedung-gedung sekolah mereka, seakan-akan dengan gedung yang mewah, siswanya menjadi berkualitas. Padahal selama masih terjadi siswa merasa senang dan merdeka setelah bel terakhir berbunyi, maka selama itu pula siswa terbelenggu dalam penjara-penjara mereka. Siswa yang terpenjara secara demikian adalah siswa yang jumud (mandeg), siswa yang kebebasan kreatifitasnya hilang, mereka mengikuti pelajaran dengan strategi asal guru senang (AGS).

Gedung sekolah yang mewah, sarana dan prasarana yang lengkap bukanlah satu-satunya jaminan sekolah berkualitas. Kesungguhan siswa belajar, semangat menggebu mencapai cita-cita, dan rentetan karya-karya siswa justeru faktor pokok dalam kualitas sebuah sekolah.

Padahal sekian juta siswa Indonesia setiap hari menghabiskan waktunya berjam-jam di sekolah dengan lesu, mereka tidak sadar telah masuk ke dalam penjara yang diciptakan guru-guru mereka. Tidak ada kreatifitas, daya cipta menurun, imajinasi mereka diganggu dengan kompetensi yang harus mereka kuasai, padahal tidak minat sama sekali, meskipun mereka berbakat di bidang eksak mereka tetap membutuhkan kebebasan imajinasi, dengan imajinasinya mereka mungkin mampu membuat terobosan matematis terhadap kebuntuan ilmu tertentu.

 

Siswa Miskin Karya

Standarisasi kualitas nasional dengan UASBN tidaklah mampu mengukur kualitas pendidikan kita secara sempurna, karena hanya aspek kognitif saja yang menjadi tolok ukur di sana, sedangkan untuk standarisasi aspek afektif dan psikomotor tidak muncul. Untuk mengukur aspek psikomotor harus menggunakan karya, dan inilah kemiskinan pendidikan kita. Siswa kita miskin karya karena mereka terlalu kaya kognisi. Apalagi UASBN semakin memperkuat kemiskinan karya tersebut karena siswa sibuk menghadapi ketakutannya terhadap kegagalan kognisi yang sebenarnya tidak perlu terlalu dirisaukan jika tidak lulus UASBN.

Justeru dampak negatif UASBN yang perlu dirisaukan, sekolah memiliki kepentingan gengsi dengan nilai UASBN oleh karenanya sekolah melakukan berbagai hal dengan membentuk tim sukses UASBN demi gengsi sekolah, les ditambah meskipun harus mengorbankan mata pelajaran lain, bahkan banyak sekolah melakukan kecurangan ‘sedikit’ atau ‘terang-terangan’ di depan siswanya. Pihak dinas pendidikan kabupaten juga memiliki kepentingan gengsi kabupatennya berkualitas apa tidak, sehingga kalau ada sekolah yang ‘sedikit’ curang dibiarkan saja, dinas pendidikan pripinsi juga memiliki kepentingan gengsi.

Demi gengsi siswa menjadi korban, kecurangan yang dilakukan sekolah dengan berbagai strategi mulai dari yang ‘sedikit’ curang sampai yang curang ‘betulan’ semuanya menyebabkan dampak psikologis siswa, akan muncul dalam alam bawah sadar siswa bahwa demi mencapai tujuan tertentu diperbolehkan dengan berbagai cara termasuk curang. Hanya demi gengsi.

 

Perkaya Karya

Dalam kosmologi Jawa konsep keseimbangan alam adalah teori jagat raya ini. Air bergejolak pasti mencari posisi tenang keseimbangan, bandul ayunan akan mencari posisi tengahnya, alam akan mencari keseimbangannya sendiri. Jika sesuatu tidak seimbang akan ada ketidakberesan dalam alam kosmos ini. Demikian juga dalam diri setiap manusia, kondisi fisik dengan raga harus seimbang, di dalam ilmu kesehatan China ada istilah Yin dan Yang yang mengatur kosmos tubuh dan jiwa manusia, Yin dan Yang harus seimbang, ketidakseimbangan Yin dan Yang akan menyebabkan sakit. Dalam konsep Islam juga demikian manusia menjadi unggul di atas Iblis dan Malaikat karena manusia memiliki pasangan seimbang antara unsur Iblis dan Malaikat. Iblis memiliki nafsu tetapi tidak memiliki akal, malaikat memiliki akal tetapi tidak memiliki nafsu, sedangkan manusia memiliki akal dan nafsu, keseimbangan antara kedua unsur itu menjadikan manusia menjadi sempurna (Insan Kamil).

Kaum empiris yang memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga sesuatu yang inmateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang in materi tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi ( theosopi) yang meyakini bahwa ada lebih luas dari sekedar materi, mereka mayakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal atau hati.

Tentu yang dimaksud dengan pengetahuan lewat hati disini adalah penngetahuan tentang realita inmateri eksternal, kalau yang internal seperti rasa sakit, sedih, senang, lapar, haus dan hal-hal yang iintuitif lainnya diyakini keberadaannya oleh semua orang tanpa kecuali.

Untuk menjawab pertanyaan Proses spiritual dalam hati Filusuf Ilahi Mulla Shadra r.a. berkata,

“Sesungguhnya ruh manusia jika lepas dari badan dan berhijrah menuju Tuhannya untuk menyaksikan tanda-tanda-Nya yang sangat besar, dan juga ruh itu bersih dari kamaksiatan-kemaksiatan, syahwat dan ketarkaitan, maka akan tampak padanya cahaya makrifat dan keimanan kepada Allah dan malakut-Nya yang sangat tinggi. Cahaya itu jika menguat dan mensubstansi, maka menjadi substansi yang qudsi, yang dalam istilah hikmah teoritis oleh para ahli hikmat disebut dengan akal efektif dan dalam istilah syariat kenabian disebut ruh yang suci. Dengan cahaya akal yang kuat, maka terpancar di dalamnya -yakni ruh manusia yang suci- rahasia-rahasia yang ada di bumi dan di langit dan akan tampak darinya hakikat-hakikat segala sesuatu sebagimana tampak dengan cahaya sensual mata (alhissi) gambaran-gambaran konsepsi dalam kekuatan mata jika tidak terhalang tabir”.

Tabir dalam pembahasan ini adalah pengaruh-pengaruh alam tabiat dan kesibukan-kesibukan dunia, karena hati dan ruh -sesuai dengan bentuk ciptaannya- mempunyai kelayakan untuk menerima cahaya hikmah dan iman jika tidak dihinggapi kegelapan yang merusaknya seperti kekufuran, atau tabir yang menghalanginya seperti kemaksiatan dan yang berkaitan dengannya. (Syaifan Nur, 2002,150)

Keseimbangan dalam aspek pikiran dan perbuatan mutlak dituntut dalam kawasan pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia yang masih mengunggulkan aspek kognitif dan mengabaikan unsur psikomotor mengindikasikan terjadinya ketidakseimbangan tersebut. KBK yang disempurnakan dalam KTSP secara substansi telah mulai mengarah ke keseimbangan antara unsur kognitif dan psikomotor tersebut. Tetapi UASBN justeru menghalanginya.

Untuk itu reformasi pendidikan tidak boleh berhenti hanya di sini, tetapi sampai terjadi keseimbangan antara gagasan (kognitif) dan karya (psikomotor) tercipta. Dalam kondisi kaya kognisi tetapi miskin karya ini pendidikan harus memperkaya karya siswa, bukan karya tulis seperti yang selama ini dilombakan di tingkat pelajar, tetapi karya nyata dalam bentuk percobaan-percobaan, penelitian-penelitian langsung sampai pada karya yang dapat dinikmati masyarakat luas tercipta lebih banyak dan sempurna.

Kita dapat mencontoh negara Jepang yang siswa-siswa SMP-nya dapat membuat mainan berteknologi canggih, meskipun hanya mainan, tetapi karyanya dapat menjadi penghasilannya di kemudian hari, meskipun ia tidak melanjutkan ke bangku sekolah yang lebih tinggi.

SMK memang sudah mengarah ke sana, tetapi mata pelajaaran di SMK perlu dirombak dan disesuaikan dengan kondisi dan potensi alam Indonesia, di bidang otomotif misalnya mengapa tidak dimulai dari membuat mesin sederhana bagi para petani yang lebih dekat dengan keseharian bangsa kita, tidak hanya memperbaiki motor dan mobil impor yang sebenarnya jauh dari keseharian asli bangsa kita, (ingat asli Indonesia belum mampu menciptakan motor dan mobil sendiri tetapi masyarakatnya pemakai motor terbesar di Asia), sehingga dengan membuat mesin-mesin sederhana bagi petani ini lulusannya nanti tidak hanya menunggu panggilan kerja, tetapi mampu menciptakan pekerjaan sendiri bahkan lingkungannya. Brs

Komentar
  1. pcnukebumen mengatakan:

    Kang Mustolih.
    Yo, monggo pie carane ben blog pcnu Kebumen rame?

  2. gerakanpmiikebumen mengatakan:

    gerakanpmiikebumen.wordpress.com

    tulung kang dibuka

  3. wa-one mengatakan:

    itu namanya onani intelektual, Bro….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s