Istilah ‘Materi’ Pembelajaran tidak Tepat Lagi

Posted: Desember 3, 2008 in Artikelku

Penggunaan materi pembelajaran dalam pendidikan, mengacu kepada filosofi materialisme, aliran filsafat barat yang kemudian pecah menjadi dua aliran besar. Materialisme Histories dan Materialisme Kritis, materialisme histories dikembangkan oleh Karl Marx tokoh sosialis yang tidak pernah menyebut demikian dalam filsafatnya, ia bahkan tidak mau disebut seorang sosialis, adalah Frederick Engel yang mengubah tulisan-tulisan Marx untuk propaganda sosialisme, dikataka bahwa Materialisme Histories Marx adalah asal mula sosialisme, dalam buku yang diterbitkan dua tahun setelah Marx meninggal Das Kapital habis-habisan bahwa, kapitalisme yang menjadi musuh sosialisme harus dibumihanguskan.

Lenin menggerakkan buruh untuk menumbangkan rezim kapitalis di Jerman, meskipun berakhir dengan kekalahan Lenin telah ikut mengubah dunia dengan menjadikan Uni Soviet negara komunis. Uni Soviet mengembangkan ideologi negaranya ke negara di sebelah selatannya yaitu India dan China, di India komunisme kalah dengan penjajah Inggeris dan di China komunisme menelorkan revolusi China. lahirkan negara komunis baru China.

Kapitalisme berangkat dari filsafat Hegel yang sukses ‘menyelesaikan’ semua pikiran manusia, sehingga para filosof setelah Hegel seakan tidak memiliki ruang pembahasan filsafatnya. Hegel unggul dengan filsafat dialektika, yaitu segala sesuatu itu adalah tesis, setelah itu pasti akan ada yang menjadi antitesis terhadap tesis pertama, maka akan muncul sintesis yang merupakan perpaduan antara Tesis dengan antitesis, sintesis itu dalam beberapa waktu berubah lagi menjadi tesis dalam kemapanannya, akan muncul antitesis sehingga muncul pula sintesis, demikianlah alur kehidupan manusia pelan-pelan menjadi meningkat.

Materialisme kritis yang berangkat dari filsafat material melahirkan kapitalisme, bahwa produksi harus dengan biaya seminimal mungkin dan menghasilkan untung sebanyak mungkin.
Positivisme yang menjadi bahan bagi ramuan positifisme, materialisme kritis, dan imperialisme melahirkan revolusi industri yang menandai kebangkitan kapitalisme global. Imperialisme menyergap negara-negara yang tidak menguasai tulis-menulis. Rempah-rempah mereka, hasil panen mereka, semua diambil oleh imperialis ke negaranya dan membiarkan rakyat jajahan dalam kemiskinan, sakit, dan kemelaratan.

Istilah materi dalam ‘materi pembelajaran’ di dunia pendidikan adalah produk dari filosofi materialistik yang memandang sesuatu dari aspek inderawi semata. Seakan-akan hidup ini hanya untuk mengumpulkan materi, benda, dan kekenyangan, dan boleh melupakan kemanusiaan, kehidupan setelah mati dan penciptaan. Hal ini melahirkan generasi bangsa (produk pendidikan) menjadi berjiwa materialistik, segala sesuatu diukur dari nilai materi dan uang. Pelan-pelan nilai gotong royong, tepo sliro, setia kawan, menipis bahkan hilang sama sekalidari hati sanubari generasi bangsa ini.

Individualisme mengemuka, sifat mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain, menggejala, tidak ada tenaga yang keluar untuk memperbaiki saluran air, sungai, sampah dan lain-lain kecuali diupah. Duh bangsa ini, berprihatinlah…!!!

Komentar
  1. smpntigacisitu mengatakan:

    Bagus pendapat ini, perlu dikaji kembali istilah materi pembelajaran dalam dunia pendidikan kita saat ini. Berdasarkan penafsiran Anda, istilah apa yang tepat sebagai pengganti istilah materi pembelajaran itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s