Membangun Budaya Baca Tulis di Masyarakat

Posted: Juni 25, 2008 in Artikelku

Indonesia ketinggalan jauh dari negara-negara lain, karena masyarakatnya melulu dijerat dengan persoalan keseharian dan sibuk dengan tujuan-tujuan praktis, dan meninggalkan visi dan misi ke depan. Kenaikan harga BBM, harga-harga yang melambung tinggi, kebutuhan dasariyah hidup yang serba memaksa, pendidikan yang kian amburadul, ditambah berita-berita media yang menjebak.

Kenaikan harga BBM di tengah keseharian masyarakat yang dalam sulit, usaha kecil menengah yang makin menjerit, memaksa kita untuk memikirkan hal-hal yang sangat praktis, bayangkan seorang professor yang seharusnya bertugas menemukan karya-karya besar, ia kini terlibat dalam antrian panjang menunggu isi BBM di sebuah Pom Bensin, atau ia harus mengatur kembali perjalanannya ke luar kota, karena perubahan anggaran. Karya-karya besar para profesor tidak akan pernah ditemukan, karena profesor-profesor itu sibuk dengan urusan-urusan keseharian. Apalagi yang bukan profesor.

Media televisilah yang paling banyak melakukan penayangan dan paling banyak penikmatnya, tetapi hal itu tidak digunakan untuk kemajuan bangsa, ia justeru meninabobokan pemirsanya untuk menyaksikan hal-hal yang tidak berguna, seperti infotainment, laporan kejahatan (kriminal) yang menayangkan kekerasan, dan mengajarkan anak-anak untuk bertindak kasar dan familier dengan kekerasan. Bahkan para profesor itu mungkin juga suka dengan tayangan televisi, dan tidak menemukan hasil penelitian apa-apa terhadap tayangan televisi itu.

“Masyarakat  yang maju adalah masyarakat baca, bukan masyarakat pemirsa” Kata Soejatmoko 30 tahun yang lalu saat pelantikannya menjadi rektor di Universitas PBB di Jepang. Soejatmoko orang Indonesia yang maju dan berpikiran maju, ia tidak pernah menempuh pendidikan kesarjanaan yang formal, tetapi ia setiap hari menghabiskan waktunya untuk membaca. Kini Indonesia tertinggal jauh dari negara lain, karena masyarakat Indonesia bukan masyarakat pembaca dan penulis tetapi masyarakat pemirsa dan pembual.

Kita harus mengubah keadaan ini menjadi lebih bermakna, pendidikan harus diubah bukan sekedar mencetak ijazah dan isi (kepala dan hati)nya kosong, tidak hanya perguruan tinggi swasta bahkan perguruan tinggi negeri sekarang berlomba memperbanyak jumlah mahasiswa non-reguler untuk meningkatkan income pada pengelola (dosen, TU dan pimpinan), kualitas nomor 99.

Para pendidik harus meningkatkan diri meskipun dalam kesulitan hidup, jangan lepaskan perhatian kepada penemuan-penemuan baru, dan lakukan penelitian-penelitian tidak hanya karena ada proyek penelitian, tetapi karena berminat dan berhasrat. Para dosen harus jangan hanya berhenti pada retorika lama yang menyeatkan para mahasiswa, tetapi harus mengubah diri menjadi lebih dinamis dan provokatif. Mendorong mahasiswa untuk mengeksplorasi pengetahuan dan mempraktekkan pengetahuannya di masyarakat. Bukan mengeksploitasi mahasiswa untuk kepentingan dosennya. Mendorong mahasiswa untuk suka membaca lebih baik daripada menyuruh mahasiswa membaca.

Gairah membaca ini akan terbangun dalam masyarakat pembaca, oleh karenanya “Jual TV anda” dan belilah koran untuk menggantikannya. Anak-anak adalah emas, harta tak terkira tinggi harganya, jangan jadikan ia sampah yang mengotori pojok kursi negeri ini. Yang menghambat orang untuk membaca dan tidak sedap dilihat. Disiplin untuk tidak melihat TV ini harus ditingkatkan melebihi disiplin masuk kerja, atau disiplin untuk makan teratur. Ini akan memajukan Indonesia. Buat Pak SBY, anda jangan hanya bicara. Lakukan!!

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s