Antara Gerakan Advokasi Atau Merebut Kekuasaan

Posted: Juli 19, 2007 in Tak Berkategori

Oleh Mustolih Brs

Pasca tumbangnya reformasi, gerakan mahasiswa terfragmentasi dalam mazhab-mazhab politik. Ujungnya hanya dua, tetapi kakinya banyak dan di mana-mana. Mahasiswa yang berbasis agama islam di STAINU, STAIN, IAIN atau UIN saja terpecah menjadi banyak, ada PMII, HMI, KAMMI bahkan GMNI. Di kampus umum perebutan antara KAMMI, GMNI dan PMKRI yang tergabung dalam kelompok Cipayung terjadi secara sengit. Yang disebut lalu merupakan organisasi setingkat nasional. Famred, Forkot dan Jarkot, merupakan organ yang sering menghias media massa dalam aksi, selain PRD dan LMND.
Tahun 1998 menjadi tonggak bagi terbentuknya sejarah baru gerakan mahasiswa di Indonesia. Setelah bersama-sama menggulingkan Suharto mahasiswa kembali ke kelompok masing-masing dan membuat gerakan sendiri-sendiri, sama seperti di tahun 1965, mahasiswa yang bersatu membentuk kelompok-kelompok sendiri-sendiri untuk mengegolkan kepentingannya sendiri. Ada yang serius di gerakan advokasi menjadi intelektual organik, ada juga yang tetap asyik di jalanan menjadi ekstra parlementer, dan ada pula yang melirik-lirik kekuasaan, tetapi semuanya berujung satu hal eksistensi organ.
“Perebutan kekuasaan” organ mahasiswa itu mendasarkan pijakan pikirnya pada sisi-sisi lain dari wacana global, ada yang mengkiblat pada timur tengah ada yang berkiblat pada Chicaggo, ada yang Amerika sentris. Tidak hanya gerakan yang mengkiblat segala sesuatunya kepada asing, nyaris tak ada sesuatupun yang terjadi di Indonesia tanpa terpengaruh unsur asing.
Sampailah pada kesimpulan bahwa segala sesuatu yang terjadi di Indonesia tidak akan pernah lepas dari kaitan dengan negara-negara di luar Indonesia, bahkan bukan berbentuk negara tetapi pasar. Ketika pasar menguasai isu-isu politik, maka dipastikan di Indonesia terjadi kudeta. Lihatlah mulai dari pelengseran Sukarno, Suharto, Habibie, Abdurrahman Wahid semua diturunkan melalui jalur “abnormal”. Artinya segala tragedi politik di negeri Indonesia tidak bisa lepas dari setting globalisasi. Gerakan mahasiswa memahami akhir-akhir ini bahwa segala sesuatu saling terhubung dalam jaring kuasa dan jaring modal.
Pasca reformasi 1998 sebagian organ mahasiswa menjatuhkan pilihannya dalam gerakan advokasi rakyat, di mana mereka melakukan gerakan bersama-sama rakyat untuk membangkitkan kesadaran atas hak dan sebagai warga negara, dalam posisi ini negara diposisikan sebagai musuh, karena dianggap pemegang kebijkan yang menyangkut nasib hidup rakyat banyak, setelah advokasi terjadi gerakan-gerakan rakyat dalam kelompok-kelompok petani seperti di Batang, buruh, nelayan, korban penggusuran tanpa ganti rugi, seperti Kedugombo yang dilakukan untuk mengcounter kebijakan negara yang diwakili pemerintah.
Dalam melakukan gerakan-gerakan itu semua persiapan dan cara pernah dilakukan mulai pelatihan community organizer, live in, bahkan aksi jalanan, tetapi hanya itulah yang bisa dilakukan, buruh paling gajinya hanya dinaikkan, petani paling hanya diberi ganti rugi, nelayan paling hanya diberi bantuan, tetapi kesadaran in lander dalam diri rakyat tetap tertanam kuat, balum terjadi kesadaran kesetaraan dan persamaan hak kemanusiaan tak pernah berhasil ditanamkan, itu artinya gerakan itu selama masih berada dalam system lama tetap hanya akan sia-sia.

Mentok
Persiapan yang matang, keberhasilan mobilisasi massa dalam aksi-aksi ternyata tidak merubah apa-apa. Mentok ketika berhadapan dengan modal dan pola pikir kapitalistik.
Kenyataan ini begitu membuat kecewa para aktivis gerakan mahasiswa yang berada di jalur advokasi. Susah payah dan pengeluaran seluruh energi yang selama ini dilakukan bisa patah dengan sekali gebrakan yang dilakukan musuh dengan modal besar, nilai-nilai yang selama ini dipegang, nilai kemanusiaa, kejujuran, dan nilai demokratisasi, serta penghargaan terhadap orang lain sirna begitu saja, oleh dobrakan modal, gerakan yang menghabiskan banyak energi ini tidak merubah apa-apa, aksi rakyat habis-habisan dianggap sebagai hiburan gratis, sebab kebijakan negara bisa dibeli. Apalagi jika pihak negara donor sepakat. segalanya bisa diatur.
Apa yang harus dilakukan oleh gerakan mahasiswa dalam situasi seperti ini?, pertanyaan sederhana tetapi jawaban tak kunjung ditemukan. Ada dua pilihan yang dijatuhkan mahasiswa dalam situasi seperti ini. Pertama tetap berada di jalur ekstra parlementer, atau gerakan jalanan, ini berarti tetap menjadikan negara sebagai musuh bersama rakyat, dan dalam konteks turun ke bawah mereka menjadi pendidik bagi rakyat dengan melakukan penyadaran atas hak-hak mereka. Kedua
Adagium idealitas yangs selama ini dipegangi mahasiswa selamanya berlawanan dengan realitas, sebuah keberhasilan pembalikan kesadaran yang dilakukan oleh kapitalisme. Kesadaran berdasar atas realitas pertama kali dikemukakan oleh Karl Marx dengan konsep materialisme historiesnya. Karl Marx menurunkan ideas yang dilakukan oleh Hegel gurunya melalui daya pikir, dan mendasarkan segala kesadaran tindakan dari material itulah inti faham Marxisme, kelompok ekonomi kapitalistik membalik cita-cita social itu menjadi ideas dan masyarakat industri (industrial society) yang penuh persaingan, banyaknya ketimpangan, kemiskinan, kriminalitas sebagai material yang berarti realitas. Tanpa pernah berusaha mampu merubahnya.
Walaupun secara konstekstual paham Marxisme tidak lagi menemukan relevansinya di dunia sekarang, tetapi pemikirannya tetap dijadikan rujukan oleh sebagian organ gerakan mahasiswa,
Kemenangan kapitalisme atas sosialisme melahirkan ekonomi dunia yang berbasis pasar nyaris tak tertandingi, adik ideology yang bersaudara dengan kapitalisme yaitu Neo Liberal makin mendapat tempat di hati masyarakat dunia, nyaris tak ditemukan dunia tanpa unsur neoliberal di dalamnya. Bahkan ideology lain yang berlawanan dengan Neo Liberal semacam Islam, Sosialisme dan bahkan komunisme-pun tanpa disadari harus tunduk di bawah produk-produk neoliberal.

Relasional
Pemikiran untuk melawan gerak laju neoliberal ini nampak menghantui sebagian gerakan mahasiswa, hanya strategi dan caranya berbeda, sebuah tawaran paradigmatik akhir-akhir ini sedang digagas oleh sebagian gerakan mahasiswa untuk melihat persoalan lebih proporsional dan terbuka, yaitu pola relasional, di mana kita yang sepenuhnya sadar berada di bawah struktur kapitalistik neoliberal, dipaksa untuk melakukan pola-pola kapitalistik, walaupun sama sakali tidak kita inginkan.
Negara bukan lagi menjadi musuh utama, bahkan kalau bisa negara menjadi mitra perjuangan bagi gerakan perlawanan terhadap struktur kapitalistik neoliberal dengan membangun pola relasional. Oleh karenanya negara harus direbut. Dalam konteks ini peranan mahasiswa menjadi pendorong bagi gerakan transisi menuju demokraasi hanya menjadi “pemoles bibir” bagi gerakan sesungguhnya yaitu merebut aset negara untuk kemudian setelah dikuasai negara dipaksa melakukan perlawanan terhadap laju neoliberal, walaupun dengan pola ini rakyat menjadi taruhan. Artinya berhasil tidaknya gerakan perlawanan terhadap neoliberal dan pasar bebas sebagai panglimanya, tergantung besar kesadaran dan pengertian rakyat.
Perlawanan ini meniscayakan hutang negara harus dihapuskan, mengingat banyaknya hasil bumi yang telah dirampok negara yang mempropagandakan neoliberal. Untuk melakukan itu rakyat harus siap menerima resiko prihatin, karena negara-negara donor pelan-pelan akan meninggalkan Indonesia, para pegawai negeri harus siap tidak digaji selama beberapa bulan, para pejabat harus mau mengeluarkan sebagian kekayaannya untuk memberikan subsidi-subsidi bagi sektor ekonomi menengah ke bawah. Para konglomerat harus siap hengkang dari Indonesia, kecuali bersama-sama rakyat ikut prihatin, dalam waktu tidak lama, dengan melihat Sumber Daya Alam Indonesia yang subur tanpa tinandur, akan segera dirasakan masyarakat bangsa yang Gemah ripah loh jinawi tata titi tentrem kerta raharja. Amin. ***

Penulis adalah Sekretaris Foksika PMII Cabang Kebumen, periode 2005-2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s