Perpeloncoan Saat MOS Aktualisasi Diri kah?

Posted: Juli 10, 2007 in Artikel Kiriman

Oleh Ubadillah

Perpeloncoan di saaat masa orientasi sekolah sudah tak asing lagi .Bahkan budaya ini terus saja di intodusir sebagai bagian dari reproduksi kekerasan .
kasus SPTDN misalnya contoh konkrit tentang lemabaga pencetak pemimpin birokrasi indonesia.tapi benarkan tradisi perpeloncoan ini merupakan ekspresi kebutuhan aktualisasi diri?
A.Aapa perpeloncoan itu?
perpeloncoan adalah sebuah istilah dan isu yang telah mendapatkan perhatian serius selama kurang lebih 20 tahun belakangan ini. perpeloncoan  dapat terjadi di mana saja, bahkan di lingkungan sekolah sekalipun. Meskipun demikian, apabila kita berbicara mengenai perpeloncoan, maka akan ditemukan suatu kenyataan bahwa masih banyak siswa sekolah yang tidak memahami pengetian dan dampak yang dapat ditimbulkan dari perpeloncoan . Pada akhirnya, terdapat suatu fenomena dimana banyak siswa tidak menyadari apabila dirinya sedang menjadi pelaku, atau bahkan korban perpeloncoan. Untuk itu, langkah awal yang harus diambil adalah memahami terlebih dahulu pengetian dari perpeloncoan  itu sendiri. 
 
Papalia, et. Al. (2004) menyatakan bahwa perpeloncoan  adalah perilaku agresif yang disengaja dan berulang untuk menyerang target atau korban, yang secara khusus adalah seseorang yang lemah, mudah diejek dan tidak bisa membela diri. Sedangkan bila kita mengkhususkan perpeloncoan yang terjadi di lingkungan sekolah (school bulyying) maka dapat diambil sebuah pengertian yang diberikan oleh Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005). Mereka mengartikan School bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut. 
Ada 5 kategori perilaku perpeloncoan tersebut, yaitu :
1. Kontak Fisik Langsung
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain
2. Kontak Verbal Langsung
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip.
3. Perilaku non-verbal langsung
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya disertai oleh perpeloncoan fisik atau verbal.
4. Perilaku non-verbal tidak langsung
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng.
5. Pelecehan seksual
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah perilaku-perilaku yang dapat dikategorikan sebagai perilaku agresi fisik dan bisa juga verbal.
 
Mengapa Melakukan perpeloncoan ?
Mengapa sampai seorang siswa dapat melaku perilaku perpeloncoan  terhadap siswa lain, yang seharusnya dapat menjadi teman sepermainan mereka?. Dalam penelitian Riauskina, Djuwita, dan Soesetio, (2005) disebutkan korban mempunyai persepsi bahwa pelaku melakukan perpeloncoan karena tradisi, balas dendam karena dia dulu diperlakukan sama (menurut korban laki-laki), ingin menunjukkan kekuasaan, marah karena korban tidak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan, mendapatkan kepuasan (menurut korban perempuan), dan iri hati (menurut korban perempuan). Adapun korban juga mempersepsikan dirinya sendiri menjadi korban perpeloncoan karena penampilan yang menyolok, tidak berperilaku dengan sesuai, perilaku dianggap tidak sopan, dan tradisi. 
 
Apa Dampak dari perpeloncoan?
perpeloncoan mungkin merupakan bentuk agresivitas antarsiswa yang memiliki akibat paling negatif bagi korbannya. Hal tersebut disebabkan karena dalam peristiwa perpeloncoan terjadi ketidakseimbangan kekuasaan dimana para pelaku memiliki kekuasaan yang lebih besar sehingga korban merasa tidak berdaya untuk melawan mereka. Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa korban bullying akan cenderung mengalami berbagai macam gangguan yang meliputi kesejahteraan psikologis yang rendah (low psychological well-being), penyesuaian sosial yang buruk, gangguan psikologis, dan kesehatan yang memburuk (Rigby, dalam Riauskina, Djuwita, dan Soesetio, 2005). Korban bullying juga bisa mengalami penyesuaian sosial yang buruk sehingga ia terlihat seperti membenci lingkungan sosialnya, enggan ke sekolah, selalu merasa kesepian, dan sering membolos sekolah. Apabila kita melihat lebih jauh lagi maka korban bullying juga dapat memancing timbulnya gangguan psikologis rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan gejala-gejala gangguan stres pasca-trauma (post-traumatic stress disorder). 
 
perpeloncoan ternyata tidak hanya menimbulkan dampak negatif dalam segi psikologis, namun juga dari segi fisik. Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005) menyebutkan bahwa salah satu dampak dari perpeloncoan yang jelas terlihat adalah kesehatan fisik. Beberapa dampak fisik yang biasanya ditimbulkan perpeloncoan adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bagi para korban perpeloncoan yang mengalami perilaku agresif langsung juga mungkin mengalamin luka-luka pada fisik mereka. 
 
perpeloncoan Menghambat Aktualisasi Diri
Seorang psikolog terkemuka bernama Abraham Maslow menyebutkan bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Maslow menjelaskan bahwa seseorang baru dapat melakukan aktualisasi diri, yaitu keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri, apabila orang tersebut telah merasa bahwa kebutuhan fisiologis (seperti makan dan minum), rasa aman, kebutuhan sosial, dan kebutuhan akan harga diri telah terpenuhi dengan baik. 
 
Seorang siswa yang menjadi korban perpeloncoan dapat mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dengan lingkungannya, selalu merasa ketakutan dan tidak aman, bahkan merasa bahwa dirinya tidak lagi mempunyai harga diri akibat perilaku perpeloncoan yang diterimanya. Memahami teori Maslow maka hal tersebut dapat membuat siswa korban bullying kesulitan untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya. Salah satu contohnya adalah sebuah kisah nyata yang penulis dapatkan dari seorang siswa. Ia adalah seorang anak yang mempunyai potensi besar dalam bidang sepakbola sehingga dirinya memutuskan untuk bergabung dalam eskul sepakbola di sekolahnya dengan harapan dapat lebih mengembangkan potensinya. Namun apa yang terjadi? Ternyata sejak bergabung di eskul tersebut, dirinya kerap kali menjadi korban perpeloncoan dari kakak-kakak kelas yang juga anggota eskul tersebut. Pada akhirnya, akibat rasa takut dan cemas yang terus menerus oleh perilaku perpeloncoan yang diterimanya, membuat dirinya kesulitan untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya. Sayang sekali bukan?. Padahal siswa tersebut sebenarnya dapat membantu sekolahnya untuk mencetak prestasi dalam bidang sepakbola dengan potensi yang dimilikinya namun karena perpeloncoan, hal tersebut tidak dapat terwujud.
 
MOS Asyik Tanpa Perpeloncoan
Membaca pemaparan di atas, tergambarkan secara jelas bahwa tidak ada manfaat apabila seorang siswa melakukan perilaku bullying terhadap siswa lainnya. Selain mengakibatkan dampak negatif terhadap korbannya, seorang perilaku bullying juga dapat dicekal oleh hukum pidana, seperti yang terjadi pada beberapa praja IPDN yang menjadi tersangka dalam kasus kematian Cliff Muntu, Praja IPD asal Manado. Tentu saja penulis yakin tidak ada di antara kita yang mau bernasib demikian. Lalu hal apa yang dapat dilakukan oleh seorang siswa untuk menghapus perilaku perpeloncoan di sekolah?. Sebagai siswa, banyak sekali sebenarnya peranan yang dapat diambil untuk dapat berperan aktif dalam menghapus perilaku bullying di sekolah. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan tidak menjadi seorang pelaku. Tingkatkan rasa empati ( kemampuan yang tinggi untuk mengalami dan memahami emosi orang lain ) kita terhadap orang lain. Cobalah untuk merasakan emosi yang mungkindirasakan oleh seseorang yang menjadi korban perpeloncoan. Kemudian bayangkan apabila diri kita sendiri yang menjadi korban perpeloncoan. Tidak menyenangkan bukan?. Oleh karena itu, apabila kita tidak mau diperlakukan perpeloncoan oleh seseorang maka janganlah melakukan perpeloncoan terhadap orang lain. Setelah yakin bahwa diri kita tidak akan menjadi seorang pelaku perpeloncoan maka peran selanjutnya yang dapat dilakukan adalah menyebarkan informasi mengenai pengertian dan dampak negatif dari bullying kepada orang lain, khususnya sesama siswa sekolah. Hal ini dapat kita lakukan misalnya dengan menjadi penggagas sekaligus pelaksana Masa Orientasi Sekolah dengan tema MOS TANPA perpeloncoan. Pada kegiatan MOS tanpa perpeloncoan maka tujuan acara benar-benar diarahkan kepada membantu dan membimbing para siswa baru untuk dapat melewati proses adaptasi dengan baik. Acara dapat dikemas dengan berbagai kegaiatan-kegiatan yang mengasyikan, menarik, dan tentu saja bebas dari perilaku bullying. Apabila dirasakan ada kegiatan-kegiatan MOS tahun sebelumnya yang kurang bermanfaat dan menjurus kepada perilaku bulperpeloncoan maka jangan ragu untuk menghilangkannya. Gantilah dengan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat dan melibatkan interaksi antara siswa baru dengan siswa lama. Dengan demikian, suatu lingkungan yang menyenangkan dan kondusif untuk belajar akan semakin cepat dan mudah terbentuk. Selalu ingat dalam pikiran masing-masing, bahwa siswa baru adalah adik-adik kita yang membutuhkan bimbingan. Bukan suatu objek yang dapat kita perlakukan semau kita. Apabila hal ini dapat terlaksana maka niscaya semua siswa akan menjadikan lagu Paramitha Rusady sebagai lagu kesayangan karena masa sekolah mereka adalah masa-masa yang paling indah, tanpa bullying.
 
Sumber:
 
Hurlock, E.B. (1973). Adolescent Development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha, LTD. Jackson, S. & Rodriguez-Tome, H. (1993). Adolescence and Its Social Worlds. UK: LEA Ltdingin Publishers.
 
Papalia, Diane E., Olds, Sally W., & Feldman, Ruth D. (2004). Human Development (9th Ed.). New York: McGraw-Hill, Inc.
 
Riauskina, I. I., Djuwita, R., dan Soesetio, S. R. (2005). ”Gencet-gencetan” di mata siswa/siswi kelas 1 SMA: Naskah kognitif tentang arti, skenario, dan dampak ”gencet-gencetan”. Jurnal Psikologi Sosial, 12 (01), 1 – 13

 

Komentar
  1. ukhta mengatakan:

    ooooo……..

  2. ukhta mengatakan:

    bingung……

  3. indah mengatakan:

    sebenarnya saya sangat tidak setuju dangan pemeloncohan yang banyak dilakukan kepada andik.karena menurut saya dapat menganggu mental seorang anak yang memang sangat penakut/mental tempe

  4. puan laman mengatakan:

    pak, bisa minta artikel lengkapnya ndak?

  5. Djocko mengatakan:

    pa’, ana minta artikel hakekatnya sholat, ada pa g’?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s