DARI GUBERNUR KE GUBERNUR

Posted: Juli 3, 2007 in Artikelku

By Mustolih Brs,

Pada masa pra sejarah orang berpolitik untuk mendapatkan keamanan. Sekelompok orang yang hidup dalam teritori tertentu masih hidup dalam ancaman binatang buas dan keganasan alam. Mereka belum mengenal alat dan kehidupan mereka nomaden (tidak bertempat tinggal), mereka hidup berpindah-pindah dari satu lahan subur ke lahan subur lainnya, hidup mereka selalu berada di bawah ancaman binatang buas seperti ular dan harimau. Ditambah keganasan alam seperti dinginnya air hujan, teriknya matahari, halilintar tumbangnya pohon-pohon membuat mereka bersatu.
Hanya satu yang menjadi tujuan mereka yaitu bertahan hidup, mereka bahu membahu dalam menghadapi musuh bersama yaitu binatang buas dan keganasan alam. Tidak ada perebutan untuk menjadi pemimpin, bahkan menjadi pemimpin pada masa itu pediren (saling menunjuk) karena dengan menjadi pemimpin kelompok berarti dia harus berani mempertaruhkan nyawa untuk melindungi kelompoknya dari serangan binatang buas. (Kepemimpinan semacam ini sangatlah ideal di masa sekarang)
Setelah batu dikenal sebagai alat dan senjata mereka menjadi kelompok masyarakat yang berburu, siang hari mereka memburu binatang buas untuk dimakan dan malam hari mereka tinggal di gua-gua, keadaan pelan-pelan menjadi aman, binatang buas banyak yang takluk, dan alam (bumi) mulai di kelola jadilah mereka masyarakat menanam (bercocok tanam).
Meskipun keadaan sudah aman dan alam mulai bersahabat tetapi semangat penaklukan (spirit of struggle) akibat berburu itu tidak hilang dari mereka, terjadilah persaingan kekuatan individu dalam kelompok untuk menjadi orang yang diakui sebagai sang penakluk. Mereka berkelahi mengadu kekuatan untuk menjadi pemimpin dalam kelompok, yang menang itulah yang terpilih menjadi pemimpin.
Sejak saat itulah politik yang berarti perebutan kekuasaan dikenal dalam skala yang kecil, kelompok. Setelah memenangkan persaingan dalam sebuah kelompok orang itu tidak merasa puas, dia mulai melakukan ekspansi penaklukan ke kelompok-kelompok lain. Terjadilah perang suku, atau kabilah. Semakin lama kelompok-kelompok lain banyak yang takluk di bawah pengaruh sang penakluk. Dia mendeklarasikan wilayah yang dikuasainya menjadi sebuah koloni besar, yang dalam perjalanan waktu kemudian menjadi sebuah negara.
Pemimpin sebuah Negara yang awalnya terdiri dari banyak kelompok ini, pun belum merasa puas dengan daerah penaklukannya mulailah mereka menaklukan negara-negara lain. Terjadilah penjajahan suatu negara atas negara lain. Perang Dunia I, dan II menjadi puncak penaklukan dari sang penakluk. Sang penakluk ini sekarang bisa kita sebut saja sebagai dunia barat. Mereka membuat negara lebih dahulu kemudian baru membentuk bangsa.

Politik Kemerdekaan
Berbeda dengan Indonesia, dia menjadi sebuah negara bukan karena spirit of struggle atau semangat penaklukan, tetapi Indonesia menjadi sebuah negara bangsa karena adanya kepentingan bersama dari masyarakat yang terjajah. Seluruh masyarakat Indonesia menggalang persatuan untuk menghadapi musuh bersama yaitu penjajahan, dan mempunyai tujuan bersama yaitu kemerdekaan.
Sumpah Pers yaitu bersatunya segenap yong (pers) dari seluruh penjuru nusantara menjadi tonggak sejarah terbentuknya bangsa sebelum terjadi bentuk sebuah negara. Perjuangan politik selanjutnya setelah sumpah pers inilah yang membentuk sebuah negara yag diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Politik pada masa ini adalah cara bagaimana untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi, kepentingan bersama mereka satu yaitu mengusir penjajah persaingan antar kelompok dalam bangsa yang telah terbentuk melalui sumpah pers sama sekali tidak terjadi. Sama persis dengan keadaan pra sejarah ketika musuh bersamanya adalah biatang buas dan keganasan alam. Tetapi pasca 17 Agustus 1945, mulailah terjadi persaingan antar kelompok dalam bangsa sendiri.

Politik Menjajah Bangsa Sendiri
Politik dalam pengertian terminologi adalah cara untuk mencapai suatu tujuan, secara linguistik politik berasal dari kata policy yang berarti kebijaksanaan. Politik juga dimaknai sebagai perebutan kekuasaan. Sebenarnya hal itu bisa menjadi sebuah rumusan yang cukup comphrehensif jika kita berpolitik secara dewasa. Negara terdiri dari wilayah teritori, pemerintahan dan masyarkat. Wilayah (entah berupa daratan atau lautan) menjadi batas-batas dari kedaulatan sebuah negara, yang didiami oleh sekelompok masyarakat yang memilih seorang pemimpin sebagai badan pemerintahan. Proses suatu masyarakat memilih pemimpin inilah yang sekarang ini disebut politik.
Kedewasaan berpolitik menjadi syarat mutlak bagi seorang politisi, ukuran kedewasaan berpolitik ini bisa dilihat ketika seorang politisi kalah dalam sebuah proses pemilihan. Apakah dia kemudian menerima dengan legowo, atau membuat sebuah rekayasa untuk menjatuhkan lawannya.
Kita bisa melihat Amerika Serikat dalam pemilihan presiden yang bertarung memperebutkan suara di Amerika Serikat Al Gore dengan George Walker Bush, begitu tahu bahwa Gore kalah dalam penghitungan suara dia langsung memberikan ucapan selamat kepada lawannya Bush, hal itu menunjukkan sportifitas berpolitik. Berbeda dengan kondisi di Indonesia ketika kalah dalam pemilihan dia akan membuat organ tandingan, atau kalau konteksnya negara membuat negara tandingan.
Sekarang ini politik di Indonesia dipahami sebagai perebutan kekuasaan semata-mata, bahkan terkadang mengorbankan kepentingan bangsa yang lebih besar. Tentu saja hal demikian bukanlah sikap yang dewasa secara politis.
Bedanya politik pra sejarah dengan sekarang adalah kalau dulu seorang pemimpin berani mengorbankan nyawa untuk keselamatan kelompok (negara), sekarang seorang pemimpin justeru mengorbankan kelompok untuk keselamatan dirinya.

Peran Pers dalam Percaturan Politik
Jawa Tengah tahun 2008 mendatang akan melangsungkan proses pemilihan pemimpin di Jawa Tengah. Jika kita merujuk pada masa pra sejarah, calon-calon pemimpin-pemimpin itu akan diadu dalam sebuah arena untuk bertarung siapa yang menang dialah yang menjadi pemimpin, hal ini tidak mengorbankan rakyatnya atau kelompoknya, sekaligus menunjukkan keberanian berkorban untuk melindungi kelompoknya.
Tetapi konteks demokrasi menabukan hal tersebut, demokrasi meniscayakan anti kekerasan (non violence) demokrasi menyiasati “pertarungan” itu dengan melibatkan rakyatnya, siapa yang didukung oleh suara terbanyak dialah yang akan menjadi pemimpin dalam kelompok itu.
Di Jawa Tengah kans perebutan gaungnya mulai terasa. Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto habis masa bhaktinya, jago-jago calon gubernur mulai pasang pesona. Mereka menggunakan media sebagai strategi menarik simpati pendukungnya.
Masing-masing sistem pemilihan terdapat kelemahan dan kelebihannya, kelebihan dari system beradu kekuatan fisik (sekarang bukan fisik tetapi kecerdasan dengan debat kandidat) adalah pemimpin yang terpilih adalah seorang dengan kualitas kekuatan yang paling tinggi. Sedangkan kelemahannya tentu saja pada tidak terlibatnya rakyat dalam proses pemilihan seorang pemimpin. Sedangkan kelebihan dari system demokrasi adalah setiap warga akan terwakili dalam menentukan pemimpinnya, sementara kelemahannya hitungan kekuatan seseorang berada pada “cacah jiwa” dari rakyatnya, hal ini sangat rentan terhadap pembelian suara. Dan menafikan kualitas dari pemimpin yang bakal dipilihnya. Akibatnya orang yang terpilih adalah orang dengan “kekuatan” rendah.
Di mana peran pers dalam konteks pemilihan pemimpin (Jawa Tengah sekarang Pilkada) ini? Hemat penulis pers harus mengambil ruang-ruang kosong yang belum terisi, misalnya, Pertama Pers harus mampu mengukur sejauh mana calon pemimpin ini memiliki “keberanian untuk mengorbankan diri” nya untuk keselamatan rakyat yang dipimpinnya. Kedua, Pers harus menelusur secara jeli kemungkinan penyelewengan yang dilakukan calon pemimpin jangan sampai ia tega “mengorbankan rakyat”nya untuk kesejahteraan dirinya sendiri.
Dua hal ini akan banyak turunannya, dan menjadi pekerjaan rumah. Kampanye pers dalam dua ruang dia atas mempunyai dua sisi tajam, pertama Jika keberanian calon untuk mengorbankan nyawanya untuk rakyatnya sedikit, dan kemungkinan untuk mengorbankan nyawa rakyatnya besar tentu saja kampanye yang dilakukan pers adalah jangan pilih mereka. Jika keberaniannya berkorban besar dan kemungkinan mengorbankan itu kecil maka kampanye yang dilakukan adalah pilihlah mereka.
Tetapi inilah pekerjaan sulit dari insan pers, hampir semua calon gubernur mempunyai keberanian berkorban yang besar sebelum jadi gubernur, artinya keberanian calon ini ditunjukkan saat kampanye, tetapi kadang-kadang justeru setelah duduk di kursi kekuasaan keberanian berkorban ini berubah menjadi keberanian mengorbankan ‘orang’ lain.
Oleh karena itu dua hal ini penting untuk menjadi garapan Pers tidak hanya Pra Pilkada tetapi justeru pasca Pilkada. Agar ke depan pemimpin yang terpilih tidak sekali-sekali mengorbankan nyawa rakyatnya untuk keselamatan pribadinya. Tidak seperti yang sudah-sudah. Wallahu a’lamu bishowab.
Kebumen, 30 Juni 2007
Penulis,
Mustolih Brs
Penulis adalah Aktifis Sosial di Kebumen, Staf Pengajar di STAINU Kebumen, Sekretaris Lakpesdam NU Kebumen, Sidang Redaksi Tabloid Blakasuta, dan Sekretaris Foksika PMII Cabang Kebumen.
Refferensi:
· Levi Strauss Strukturalisme, Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2001
· Goerge Rithzer, Sosiologi, Ilmu Berparadigma Ganda, Galang Press Yogyakarta.

Komentar
  1. Ubaidillah mengatakan:

    kemakmuran butuh demokrasi?
    moment pilgub 2008 yang akan berlangsung di jawa tengah adalah moment demokrasi langsung yang akan di jalani masyarakat jateng.negara indonesia adalah negara yang menganut sistem paling modern,yakni demokrssi.mulai dari pilihan lurah ,bupati,pilgub,presiden dsb,semua menggunakan akidah demokrasi.

  2. ali mengatakan:

    wah… kalau ndak salah njenengan itu dosen STAINU Kebumen ya? Anaaisanya sering ngawur dan bahasanya juga kaco.
    Pasti njenengan alumni sTAINU juga kan?
    Pe De-nya slalu di gedein…
    proses kali….

  3. afflatus mengatakan:

    hii mas ali,mbok ya gole ngomong aja sekarepe dewe.dosen ya dihargai apa panjenengan bisa gawe artikel kaya ngono
    mikir disik sadurunge nyeplos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s