Morfologi Bahasa Indonesia

Posted: Oktober 24, 2011 in Artikelku

MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

 

 

A. Kata Berimbuhan/Berafiks

  1. 1.      Penggunaan afiks/imbuhan ter

            Pada dasarya ter-memiliki dua fungsi, yakni:

  1. Membentuk verba (kata kerja) pasif, misalnya:

Terduduk

Terbatas

Terangkat

Adapun nosinya dapat digolongkan menjadi:

1)      Menyatakan “sudah di, sudah dalam keadaan di”, misalnya:

Terbuka

Terduduk

Terkunci

2)      Menyatakan “dapat di”, misalnya:

Terangkat

Terbaca

Terlihat

Adakalanya afiks ter- berfungsi membentuk verba aktif, misalnya pada kata tersenyum

  1. Membentuk kata adjektiva/sifat. Kata sifat ini dapat diuji dengan perluasan kata yang menyatakan tingkat perbandingan, misalnya agak, sangat, paling.

Adapun nosinya sebagai berikut:

1)      sudah dalam keadaan”, misalnya:

Terbatas

2)      Jika ter- melekat pada kata dasar kata sifat atau kata benda, ter- menyatakan “paling”, misalnya:

Terkecil

Teratas

Terdepan

Terbelakang

Kata-kata berikut tidak terbentuk dari afiks ter-, yakni:

Terjal

Terka

Ternak

Kembangkan pemakaian afiks ter- dengan mencari contoh kata berafiks ter- dan menggunakannya dalam kalimat yang berbeda-beda!

  1. 2.      Penggunaan afiks ber-, ber-kan, dan ber-an
    1. Afiks ber

Afiks ber- berfungsi membentuk kata kerja aktif intransitif, dengan nosi:

1)      Jika kata dasarya berupa verba kata kerja, afiks ber- menyatakan “melakukan pekerjaan”, misalnya:

Berdandan

Berolahraga

Berdagang

2)      Menyatakan makna “mengandung, ada”, misalnya:

Berair

Beracun

Berbisa

3)      “Memancarkan”, misalnya:

Bersinar

Bercahaya

4)      “Memanjatkan”, misalnya:

Berdoa

5)      “Mengucapkan, mengikrarkan, mengeluarkan, menyampaikan”, misalnya:

Betjanji

Bersumpah

Berpesan

6)      “Menjadi”, misalnya:

Bertamu

Berjaya

7)      “Menunjukkan”, misalnya:

Berbakti

8)      “Naik, mengendarai”, misalnya:

Berkuda

Berkereta API

Bersepeda

9)      ” Menggunakan, memakai”, misalnya:

Berkaca mata

Bersepatu

10)  “Menghabiskan, menggunakan”, misalnya:

Bermalam

Berlibur

11)  “Pergi ke, minta tolong ke”, misalnya:

Berguru

Berdukun

12)  “Menganggap sebagai, menjadikan sebagai”, misalnya:

Berteman

13)  “Melahirkan mengeluarkan:, misalnya,

Kambing sedang beranak

Ayam bertelur

14)  “Memanggil sebagai”, misalnya:

Berengkau

Beribu

Beranda

15)  “Timbul, tumbuh”, misalnya:

Berbunga

Berbuah

Bertunas

16)  Menggunakan, ada”, misalnya:

Kereta berkuda

17)  “Terkumpul menjadi”, misalnya:

Bersatu

18)  “Terkumpun dalam jumlah”, misa1nya:

Berlima

Berdua

19)  “Kena, menderita”, misalnya:

Malam berembun

Siang berpanas matahari

20)  Menyatakan “milik, memiliki, mempunyai”, misa1nya:

Berharga

Berharapan

Berpotensi

21)  Nosi ber- tidak jells, separate pada kata-kata

Bertamu

Berlalu

Bersusah

Bersakit

Berbeda

Bersenang

Berikut bukan kata bentukan dengan afiks ber-:

Berapa

Berani

Beruang kutub

  1. Afiks ber-kan

Kita perhatikan kata berdasarkan, beranggotakan, bermandikan. Kata bentukan tersebut dari dasar, anggota, mandi menjadi berdasarkan, beranggotakan, bermandi, kemudian menjadi berdasarkan, beranggotakan, dan bermandikan. Dengan demikian, nosinya, misalnya kita ambil kata yang pertama, yakni berdasarkan terbentuk dari berdasar “menggunakan dasar” menjadi berdasarkan “berdasar pada”.

  1. Afikasi ber-an

Berbeda dengan afiks ber-kan, ber-an adalah satu afiks yang menjadi secara simultan / serempak yang disebut konfiks. Adapun bentuknya ada ber-an yang tergolong

Konfiksadapulaber-anyangterjadisecarahierarkiperhatikanduaderetbentukberikut.

Ber-an bukan konfiks

Berhadapan

Berkenalan

Bergandengan

Ber-an sebagai konfiks

Berpengalaman

Berpakaian

Berurusan

Afiks ber-an sebagai konfiks nosinya menyatakan makna “resiproka1/saling” Jika kata bergandengan dianalisis ber+gandengan, pada kata tersebut tidak ada afiks ber-an. Dengan demikian, nosi afikasinya tidak menyatakan “saling”:, melainkan ber- “memiliki”, dan -an pada gandengan “yang di”.

  1. 3.      Penggunaan afiks pe-, pe-an, per-, dan per-an
    1. Afiks per

Afiks pe- ada yang bernasal dan ada yang tidak bernasal. Perhatikan kata-kata yang berpasangan berikut!

Afiks pe- bernasal

Penembak

Penyruh

Pendapat

Penatar

Afiks pe-tak bernasal

Petembak

Pesuruh

Pedagang

Petatar

Petani

Peternak

Jika kita perhatikan keduanya memiliki fungsi yang sama, yakni terbentuk kata benda/nomina. Selanjutnya Anda dapat mendeskripsikan nosi yang terdapat pada dua afiks tersebut!

  1. Afiks per

Kita perhatikan pemakaian kata: perkecil, pertajam, pertebal, perlima, persatu. Dari contoh tersebut kita dapat mengenali fungsi} afiks per- adalah membentuk kata kerja. Dengan nosi:

1)      “Membuat jadi lebih”, misalnya”

Perkecil

Persempit

Perdalam

2)      “Bagi menjadi”, misalnya:

Perseratus

Perlima

3)      “tiap-tiap”, misalnya

Masuk satu persatu

Adakalanya per- membentuk nomina/kata benda misalnya:

(Ber) tapa menjadi pertapa “orang yang bertapa”

Jika afiks per- tidak mampu mengubah kelas kata, nosinya pun sulit diterangkan atau tidak jelas, misalnya:

Tanda (nomina) menjadi pertanda (nomina)

Lambang) nomina) menjadi perlambang (nomina)

Kata-kata berikut bukan kata bentukan dengan afiks per- :

Pertama

Permaisuri

Percuma

  1. Afiks pe-an

Afiks pe-an ada yang bernasal dan ada yang tidak bernasal. Kita bandingkan kata-kata bentukan berikut!

Pe-an bemasal                         Pe-an tak bernasal

Pendidikan                              Peternakan

Pedaringan                              Pembuatan

Penjualan                                 Perakitan

Penyaringan                            Pesanggrahan

Dari contoh tersebut, kita kenali fungsinya adalah sama, yakni sebagai pembentuk kata benda abstrak. Adapun nosinya pada dasarnya dapat digolongkan “hal, hasil, cara, dan tempat”

  1. Afiks per-an

Jika afiks per- berfungsi membentuk kata kerja, dan ada sebagai pembentuk kata benda, afiks per-an termasuk konfiks yang berfungsi sebagai pembentuk nomina kata benda.

Misalnya:

Perpajakan                                           Perpanjangan

Perbudakan                                         Perkebunan

Perubahan                                           Pertemuan

Peraturan                                             Percobaan

Adapun nosinya pada dasarya menyatakan “hal, hasil”

Kembangkan dengan mencari kata-kata berafiks per-an, dan menggunakannya dalam kalimat!

  1. 4.      Penggunaan afiks ke-an, ke-an
    1. Afiks ke-

Dalam Bahasa Indonesia, afiks ke- berfungsi membentuk kata bilangan tingkat, kata bilangan jumlah~ dan kata benda.

1)      Pembentuk kata bilangan tingkat, nosinya menyatakan “urutan”, misalnya:

Anak kelima

Pelajaran kedua

2)      Pembentuk kata bilangan jumlah nosinya menyatakan “kumpulan jumlah”, misalnya:    Kedua anak itu

Kesemuanya

3)      Pembentuk kata benda, nosinya menyatakan “yang di, yang dianggap”, misalnya:         Ketua

Kekasih

Kehendak

Kata-kata berikut bukan kata bentukan dengan afiks ke-dalam bahasaIndonesia:

Ketemu

Kelanggar

  1. Afiks-an

Dalam Bahasa Indonesia, afiks -an berfungsi sebagai pembentuk kata benda/ nomina. Dalam tataran sintaksis, kata bentukan dengan afiks -an ini dapat mengikuti verba tran-sitif Adapun nosinya meliputi: “hal/abstraksi, basil, cara, alat, objektif, tempat, yang memiliki sifat, orang/pelaku” seperti pada kata:

Didikan                                               Praktikan

Sasaran                                                Simpatisan

Latihan                                                Lautan

Manisan                                               Lukisan

Kata bentukan dengan afiks -an berikut salah dalam bahasaIndonesia:

Rajin latihan (verba)

Sekolahan (nomina)

Kuburan (nomina)

  1. Afiks ke-an

Afiks ke-an termasuk konfiks. Fungsinya adalah sebagai pembentuk kata benda abstrak, dan kadang-kadang sebagai pembentuk kata kerja pasif Sebagai pembentuk kata benda abstrak, ke-an bernosi menyatakan “hal/abstrak dari”, misalnya:

Keadilan

Kebolehan

Kekuasaan

Keajekan

Sebagai pembentuk kata kerja pasif, ke-an menyatakan nosi “ken, menderita”, misalnya:

  1. 5.      Penggunaan afiks -man, -wan, dan -wali

Ketiga afiks ini berasal dari bahasa sansekerta. Fungsinya membentuk kata benda, dan nosinya menyatakan “orang yang memiliki sifat”. Pemakaian -man dan -wan menyatakan jenis kelamin “laki-laki” dan -wati menyatakan jenis kelamin “perempuan”

Contoh pemakaiannya:

Sinaman                      Jutawan                                   Seni wati

Budiman                     Santriwan                                Santriwati

Olahragawan                           Olahragawati

Bendaharawan                                    Bendaharawati

  1. 6.      Penggunaan afiks -I , -wi, -ah, -iah

Afiks-afiks tersebut berfungsi sebagai pembentuk kata sifat, nosinya menyatakan “yang memiliki sifat, bersifat”. Pemakaiannya seperti:

Alam   + i        menjadi           alami

Alam   + iab    menjadi           alamiah

Ala      + iah    menjadi           aliah

Ilmu     + iab    menjadi           ilmiah

Dumia + wi     menjadi           duniawi

Jasmani+ iah    menjadi           jasmani

Islam + i          menjadi           islami

  1. 7.      Penggunaan afiks -is, -isme, -isasi/Sasi
    1. Afiks -is berfungsi pembentuk adjektiva/kata sifat, nosinya menyatakan”bersifat”, misalnya:

Pancasilais

Psikhologis

Nasionahs

  1. Afiks -isme berfungsi sebagai pembentuk kata benda, nosinya menyatakan “aliran, faham”, misalnya:

Nasionalisme

Komunisme

Liberalisme

  1. Afiks –isasi/Sasi berfungsi sebagai pembentuk kata benda, nosinya menyatakan “proses” misalnya

lelenisasi

Urbanisasi

Neomsasl

Afiks -isasi juga benosi “kumpulan, kesatuan dari'” misalnya pada organisasi.

  1. 8.      Partikel -lah, -kah, dan pun

Partikel tergolong ke dalam kata tugas. Fungsinya mempertegas kata yang dilekati.

  1. Partikel -lah

Partikel -lah dapat melekat kata benda, pada kalibat pemyataanlberita. Partike1 -lah digunakan pada kalimat inversi, yakni predikat mendahuIui subjek. Misalnya:

Dialah yang dicari

            Akulah orangnya.

Partikel -lah juga digunakan untuk menyatakan imperatif (perintah), misalnya pada kalimat:

Masuklah!

            Bacalah secara teliti.

  1. Partikel -kah

Partikel -kah digunakan melekat pada kata kerja , kata benda, kata sifat, kata bilangan, kata keterangan. Fungsinya membentuk kata tanya dalam kalimat pertanyaan. Struktur kalimat pada dasarya berstruktur inversi, misalnya:

Siapakah mereka?

Sudah membacakah Anda?

Di manakah Anda Tinggal?

Kapankah Hanoman lahir?

  1. Partikel pun

Partikel pun melekat pada kata benda atau yang dibendakan (substantiva), misalnya pada kalimat:

Mereka tidak tahu, aku pun demikian.

Jangankan membaca, menyimak pun belum terampil.

Di samping itu, pun bersama kata yang lain berfungsi sebagai pembentuk kata tugas yang lain, khususnya konjungsi dan penulisannya pun dirangkaikan dengan kata yang dilekati, misalnya pada:

Meskipun

Walaupun

Biarpun

Sungguhpun

  1. B.     Kata Ulang

Kata ulang ada1ab kata yang telah mengalami proses reduplikasi. Untuk: membedakannya dengan bentuk ulang yang bukan kata ulang adalah bahwa kata ulang sebagai ciri utamanya adalab pasti memiliki kata dasar.

Kita bedakan bentuk yang ada di sebelah kanan dan sebelah kiri berikut:

Kata ulang      

Duduk-duduk

Membaea-baca

Tarik-menarik

Bolak-balik

Orang-orangan

Simpang-siur

Kemerab-mera han

Bukan kata ulang

Compang-camping

Anai-anai

Pura-pura

Hati-hati

Mata-mata

Mondar-mandir

Alih-ali

Pada kata ulang terdapat kata dasar: duduk, membaca, menarik, balik, orang, simpang, merah. Sebaliknya, pada deretan sebelah kiri bentuk: compang/camping, anai, pura, hati, mata, mondar, alih tidak dapat berfungsi sebagai kata dasar.

  1. 1.      Macam kata ulang dapat dibedakan menjadi:
    1. Kata ulang utuh

Kata ulang utuh adalah kata ulang yang antara kata dasar dan bentuk peru1angannya adalab sama, miasma:

Orang-orang

Perumaban-perumaban

Duduk-duduk

  1. Kata ulang sebagian

Kata ulang sebagian adalah kata ulang yang bentuk peru1angannya hanya sebagian dari kata dasar, termasuk hanya sebagian bunyi vokal atau konsonan saja, misalnya:

Berjalan-jalan

Bolak-balik

Sayur-mayur

  1. Kata ulang berkombinasi/bersimultan dengan afiks, misalnya:

Anak-anakan

Gunung-gunungan

  1. 2.      Nosi kata ulang

Nosi kata ulang dapat menyatakan makna:

  1. “Jamak, bermacam-macam”, misalnya:

Orang-orang

Buah-buahan

Sayur-mayur

  1. Pekerjaan dilakukan berulang”, misalnya:

Bolak-balik

Simpang-siur

  1. “Tiruan”, misalnya:

Anak-anakan

Gunung-gunungan

  1. “agak”, misalnya

Kemerah-merahan

  1. “walaupun”, misalnya:

Pahit-pahit diminumnya obat itu.

Panas-panas mereka datang juga.

  1. “walaupun”, misalnya

Pahit-pahit diminumnya obat itu

Panas-panas mereka dating juga

Gunakan kata-kata berikut dalam kalimat, kemudian jelaskan makna perulangannya!

Sama-sama

Mudah-mudahan

rata-rata

Besar –besar

  1. C.    Kata Majemuk

Walaupun pada materi Bahasa Indonesia untuk SLTP atau MTS kata majemuk tidak ada, namun kata majemuk tersebut perlu kita pahami.

Kata majemuk adalah kata yang telah mengalami proses permajemukan. Kata majemuk adalah kata yang unsurnya berupa morfem bebas (bukan kata). Jika kata majemuk diartikan kata yang unsurnya berupa kata, hasil konstruksinya tidak dapat disebut kata, melainkan frase/kelompok kata.

Secara lahiriah kata majemuk sama dengan frase/kelompok kata. Untuk itu, kita hams dapat mengenali kata majemuk tersebut dari segi: hubungan, konstruksi, dan nosi. Misalnya kita ambil orang tua sebagai kata majemuk dan sebagai frase.

Ciri hubungan:            Jika di antara kata orang dan tua dapat disela kata lain, misalnya yang, konstruksi orang tua bukan kata majemuk melainkan frase.

Ciri konstruksi:            Jika orang tua dapat di Kembangkan dengan kata renta, kata renta hanya berkonstruksi dengan tua, tidak dengan orang. Dengan demikian

Konstruksi

Orang tua dalam hal ini adalah frase. Jika diperluas dengan afiks ber menjadi berorang tua, afiks ber-adalah milik konstruksi orang tua,

Bukan

Hanya milik orang saja sehingga tidak ada konstruksi berorang. Dengan ciri ini, orang tua pada berorang tua adalah kata majemuk

Ciri nosi                       Jika makna orang tua mengacu pada orang yang sudah berusia lanjut”   konstruksi orang tua adalah frase. Jika maknanya tidak terikat pada Usia, tetapi pada “orang yang sudah pernah melahirkan atau sudah menjadi  bapak atau ibu”, konstruksi orang tua adalah kata majemuk

  1. D.    Kelas Kata

Kelas kata disebut juga kategori kata. Dalam tata bahasa Tradisional digunakan istilah jenis kata. Hasil klasifikasi/penggolongan kata berdasarkan kelas kata mencakup: nomina Kata benda, verba Kata kerja, adjektiva kata sifat, numeraliaJkata bilangan, adverbia/kata keterangan, kata tugas.

  1. 1.      Kata benda/nomina

Kata benda dapat dibedakan atas kata benda konkret dan kata benda abstrak. Kata benda konkret adalah kata benda yang dapat diindra (diraba, dilihat, dirasakan, di dengan, dibau):

Kata benda konkret yang berupa kata asal, misalnya: meja, udara, rumah

Kata benda konkret yang merupakan bentukan, misalnya: mainan, penulis, penjahit

Kata benda abstrak adalah kata benda yang tidak dapat diindra, misalnya kata benda bentukan dari afiks pe-an, per-an, ke-an seperti: pembuatan, perbaikan, keadilan.

  1. 2.      Kata kerja

Kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan/perbuatan, baik aktif, maupun pasif. Kata kerja aktif dibedakan atas transitif dan intransitif

  1. Kata kerja aktif transitif,

1)      Kata kerja dasar: makan, minum

2)      Berafiks me-: membaca, menulis

3)      Berafiks me-kan/i: membacakan, mendampingi

4)      Berafiks memper-: mempercantik, memperjelas

5)      Berafiks memper-kan/i: memperkerjakan, mempercayai

6)      Berafiks member-kan: memberlakukan, memberhentikan

  1. Kata kerja aktif intransitif, meliputi

1)      Berafiks me-: menyanyi

2)      Berafiks ber-: bersembunyi, bercerita

3)      Berafiks ber-kan: berdasarkan, bertuliskan

4)      Berafiks ter-: tersenyum

  1. Kata kerja pasif

1)      Kata kerja fasif di-: dibaca, diberlakukan, dibatalkan

2)      Kata kerja pasif ter-: terbaca, terpelihara

3)      Kata kerja pasif ke-an: kehujanan, ketakutan, kepanasan

  1. 3.      Kata sifat / akjektiv

Kata sifat dapat dinegatitkan dengan kata tidak. Selanjutnya dapat diperluas dengan kata yang menyatakan tingkat perbandingan. Dalam struktur sintaksis, kata sifat adalah kata yang menerangkan kata benda. Kembangkan contoh!

  1. 4.      Kata keterangan

Kata keterangan adalah kata yang menerangkan kata kerja atau kata sifat, misalnya

Rahin belajar

Masih muda

Belum beristri

Perlu di contoh

Sangat pandai

  1. 5.      Kata bilangan

Kata bilangan adalah kata yang menyatakan ” jumlah”. Kata bilangan dibedakan atas kata bilangan tentu dan tak tentu.

  1. Kata bilangan tentu: satu, seribu, setengah, seperempat
  2. Kata bilangan tak tentu: sedikit, banyak, beberapa
  3. 6.      Kata tugas

Kata tugas adalah kata yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam kata benda, kerja, sifat, bilangan, atau keterangan. Kata tudas kata yang hanya berfungsi, yang pada dasarnya tidak bernosi.

Kata tugas dapat dibedakan atas:

  1. Preposisi/kata depan, yakni kata yang dapat berkonstruksi dengan kata atau frase benda.

Termasuk kata depan Preposisi adalah: di, ke, dari, pada, untuk, oleh, dsb.

  1. Konjungsi, yakni kata yang berfungsi menghubungkan klausa dalam kalimat yang termasuk konjungsi: karena, ketika, apa bila, walaupun, dan, tetapi, namun, dsb.
  2. Kopula, yakni kata yang berfungsi menghubungkan subjek dan predikat. Termasuk kopula: adalah, merupakan, menjadi, yaitu, yakni.
  3. Artikel / kata sandang : sang, si
  4. Partikel, berfungsi menegaskan/mementingkan kata yang dilekati, misalnya: -lah, -kah, pun.
  5. Kata transisi, yakni kata yang berfungsi menghubungkan kalimat satu dengan yang lain. Penulisannya selalu diikuti tanda koma. Termasuk kata frase transisi adalah: jadi, dengan

Demikian, karena itu, meskipun demikian  selanjutnya, akibatnya, sebagai kesimpulan,dsb.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Keraf, Gorys, 1981. Tata Bahasa Indonesia. Ende : Nusa Indah

Ladyana, Sonezza dan Hardiani, Isriani. 2008 Pembelajaran Bahasa Indonesia. Surakarta : Widya Duta Grafika

M. Moeliono, Anton, dkk. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Jakarta: Balai Pustaka

M. Moeliono, Anton, dkk. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : balai Pustaka

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Puji syukur penulispanjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan modul ini sebagai pegangan siswa.

Terdorong keinginan untuk membantu memudahkan belajar siswa maka penulis menyusun modul ini.

Ucapkan terima kasih disampaikan kepada:

  1. Bapak Drs. Satoni Adrianto, MPd selaku kepala SMPN 2 Sukagumiwang yang telah memberikan dorongan, arahan dan nasihat-nasihat
  2. Semua pihak telah membantu, mendorong maupun acuan sehingga penulis berhasil menyelesaikan diktat ini.

Kritik dan saran yang sifatnya membangun senantiasa kami harapkan karena itu kami menyadari kemungkinan ada kesalahan-kesalahan, materi maupun cetakan yang disengaja atau tidak disengaja.

About these ads
Komentar
  1. sekar melati mengatakan:

    Makasih atas infonya, tapi aku membutuhkan informasi tentang jenis2 afiks ,makna dan proses perubannya juga penempatannya dalam kalimat, maaf ya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s