Masyarakat Kebumen Masih Mencari Jati Dirinya

Posted: Juni 30, 2007 in Artikelku

Slogan Kebumen Beriman yang merupakan kepanjangan dari Bersih, Indah dan Nyaman bukanlah kata tanpa makna. Selain berarti kota yang bersih, kota yang indah dan kota yang nyaman juga bemakna iman secara religious yaitu “meyakini dengan sepenuh hati, diikrarkan dengan lisan dan diimplementasikan dalam kehidupan”.

Masyarakat Kebumen telah lama memulai pencarian jati diri ini, dengan berbagai kegiatan budaya baik swadaya masyarakat maupun dibiayai oleh Dinas P dan K. Swadaya masyarakat budaya dilakukan secara tidak formal dari kumpulan orang di lesehan-lesehan peduli budaya Kebumen, semisal kegiatan rutin Arisan Teater yang digagas oleh kawan-kawan teater mahasiswa STAINU dan beberapa group teater di Kebumen.

Meskipun demikian gencar usaha pencarian jati diri Kebumen, sampai hari ini belum ditemukan juga ciri khas Kebumen bahkan sampai soal paling sederhana, makanan apa yang khas Kebumen?

Dari logat bahasanya Kebumen terbagi dua, sebelah timur aliran sungai Lukulo berbahasa dengan dominan ‘o’, dan bandek (Poko’e) dan di sebelah barat aliran sungai Lukulo dominan vokal “a” dan “k” medok, (Pokoke), dan dia antara aliran sungai Lukulo dan aliran sungai Kedungbener ini bahasanya “campur bawur”, ada yang memakai Poko’e ada yang memakai Pokoke, sedangkan sebelah utara Gunung Krakal masyarakat lebih fasih berbicara dengan logat Wonosobo dengan memanjangkan fonem akhir.

Kebiasaan dan adat istiadat di Kebumen juga beragam, penduduk yang tinggal di sebelah barat sungai Lukulo lebih suka “nanggap” Calung, dan Ebleg sedangkan, penduduk yang tinggal di sebelah timur sungai Lukulo lebih suka “nanggap” Wayang atau Ndolalak untuk acara resepsi.

Orang Kebumen yang tinggal di sebelah timur aliran sungai Lukulo disebut “Wong wetan kali”, diantaranya Kecamatan Kutowinangun, Ambal, Mirit lebih terkesan “mriyayi” sedang di Kecamatan Padureso, Poncowarno dan Alian lebih kental logat Wonosobo. Sebaliknya orang Kebumen yang tinggal di sebelah barat aliran sungai Lukulo disebut “Wong kulon kali”, diantaranya Kecamatan Pejagoan, Klirong, Sruweng, Petanahan, Kuwarasan, Gombong, lebih terkesan “merakyat”, meskipun tidak seluruhnya.

Tetapi secara menyeluruh masyarakat Kebumen sangat taat beribadah, dan patuh terhadap para Kyai di daerahnya masing-masing, ini terbukti dengan banyaknya jumlah masjid, pondok pesantren dan madrasah di Kebumen. oleh karenanya Kebumen dikenal dengan kota Santri.

Dari dua pembagian wilayah geografis di daerah Kebumen ini, kita bisa membaca bahwa sebenarnya Kebumen adalah daerah “Jepitan” dari dua budaya besar “Bagelen” dengan “Banyumas” yang terlebih dahulu mapan dan  menonjol dengan ciri khas daerahnya. Budaya bagelen adalah budaya di daerah Purworejo, budaya ini logat bahasanya “Mbandek” poko’e, dan cenderung lebih halus dan sopan, hal ini bersebab Purworejo dekat kepada Yogyakarta, yang merupakan daerah bangsawan keraton penuh “Anggah Ungguh” Jawa yang halus. Wetan Kali di Kebumen lebih halus dan mriyayi dikarenakan lebih dekat kepada budaya besar “Ngayogyokarto” wajar jika orang wetan kali lebih tata krama secara bahasa karena dipenuhi dengan aturan-aturan kepriyayen. .

Sedangkan daerah kulon kali lebih mendekati budaya Banyumas yang sangat merakyat, bahasa Banyumas adalah bahasa keseharian kaum Tani, yang jarang menggunakan kata basa basi sehingga terkesan keras karena langsung ke pokok persoalan, juga karena tidak ada perbedaan bahasa yang signifikan untuk berkomunikasi dengan atasan maupun bawahan. Artinya orang kulon kali lebih “Mbawor” dan seadanya karena tidak ada aturan-aturan khusus yang mengikat.

Pertemuan dua wilayah geografis ini dideklarasikan pada tanggal 1 Januari  70 tahun yang lalu, dengan bersatunya Kebumen dan Karanganyar, hari inilah yang kemudian dijadikan patokan sebagai hari jadi Kebumen yang diperingati tiap tahun.

Yang menarik dicermati dari masyarakat Kebumen adalah keluwesannya dalam menerima budaya apapun yang masuk, walaupun konsekuensinya Kebumen sampai hari ini belum menemukan jati dirinya. Seperti juga daerah lain di pulau jawa, Kebumen sangat menerima tradisi Jawa, hal ini masih dominan dilakukan oleh masyarakat Kebumen, seperti ritual suran di Banyumudal, dan Watubarut setiap Jum’at Kliwon sore di bulan sura (Muharram). Tetapi ketika Islam masuk,  budaya itu juga diterima tanpa reserve. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya pondok pesantren yang menjadi basis pendidikan Islam. Tidak hanya itu tradisi barat yang “kafir” pun bisa juga diterima di Kebumen tanpa syarat. Keterbukaan dalam menerima berbagai macam budaya lain ini bukan berarti di Kebumen masyarakatnya adem ayem saja.

Di balik keluwesan itu tersimpan bara sekam yang siap menyembul ke permukaan jika kondisi menuntut. Seperti kerusuhan 65 di Kebumen antara Tentara dengan PKI, kemudian keluwesannya dalam menerima DI/TII yang sampai menimbulkan pemberontakan, kemudian kuatnya pasukan Angkatan Oemat Islam di Somalangu, dan terakhir kerusuhan 98 antara pribumi dan non pribumi terlepas dari permainan politik manapun. Jika kita lebih mendalami akar budaya dari seluruh rangkaian sejarah dan apapun yang terjadi di Kebumen maka kita akan segera bisa menarik kesimpulan bahwa sebetulnya budaya Kebumen adalah budaya perlawanan.

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

Budaya Perlawanan

Budaya perlawanan ini juga bisa kita tarik dari sejarah desa Kebumen yang berawal dari nama Ki Bumi, yang sebetulnya bernama Pangeran Bumidirja, paman Raja Kartasura, Amangkurat III yang melarikan diri dari Keraton karena kekejaman dan kesewenang-wenangan Raja Amangkurat kepada rakyat Kartasura. Raja Amangkurat melakukan politik “Tumpes Karang” untuk siapapun yang tidak menyepakati dan tidak mau menerima perintahnya, termasuk permaisurinya, dia menghabisis 6000 ulama Jawa, Pamannya sendiri Pangeran Pekik, bahkan putera mahkotanya sendiri Tejoningrat yang dianggap “mbalelo” karena berhubungan dengan Roro Hoyi dibunuh.

Pamannya yaitu Pangeran Bumidirja yang tidak setuju perbuatan keponanaknya diam-diam meninggalkan keraton dan melakukan penyamaran dengan nama Ki Bumi, beliau lari ke arah barat  yang sekarang disebut sebagai Kebumen, dia ambil dari kata Ki-Bumi ditambah ater an. Ki-Bumi-an dalam lidah Jawa nama ini lebih fasih dengan nama Kebumen. Dalam pelariannya ini Ki Bumi bermaksud untuk menggalang kekuatan melawan keponakannya sendiri yang sewenang-wenang.

Dari awal mula berdirinya daerah Kebumen sesungguhnya dapat kita tarik kesimpulan bahwa akar budaya Kebumen adalah “perlawanan”. Perlawanan ini bukan saja dalam artian politis, memberontak terhadap penguasa tetapi juga dalam melakukan kerja-kerja kerakyatan.

Kita lihat saja sejarah yang berulangkali mencatat berbagai gejolak di Kebumen, mulai dari Kerusuhan yang diakibatkan oleh Pembantaian PKI oleh militer di Tahun 1965, kemudian disusul adanya isu bahwa Angkatan Oemat Islam (AOI) di Somalangu yang semula merupakan kumpulan Barisan Islam pembela negara mati-matian menjadi pejuang gerilyawan dalam mengusir penjajah, tetapi setelah merdeka dianggap melakukan boikot terhadap militer, dan dianggap memberontak, hanya karena mereka tidak bersedia bergabung bersama TNI, kemudian mereka di dianggap pemberontak dan ditumpas oleh TNI.

Masuknya DI/TII Kartosuwiryo dalam pemahaman keagamaan sebagian orang Kebumen, yang kemudian menimbulkan anggapan salah terhadap masyarakat Kebumen, akhirnya terjadi penumpasan terhadap kelompok DI/TII di Kebumen bersamaan dengan penumpasanny di seluruh Indonesia.

Kerusuhan terakhir terjadi tahun 1998, yaitu  kerusuhan yang terindikasi bersebab dari konflik ras, Pribumi dan non pribumi, kerusuhan ini memakan korban 46 bangunan hangus terbakar. Kejadiannya bermula dari pelayan sebuah Toko milik China di kompleks Stanplat Colt, yang diisukan dianiaya oleh majikannya, pelayan ini kemudian lari ke kerumunan orang di Stanplat yang kebanyakan pribumi, mereka langsung bergerak menuju Toko dan membakar ban bekas, dan memasukkannya ke dalam toko, seisi toko beserta bangunannya ludes terbakar. Kejadian ini menimbulkan perhatian orang banyak, dalam suasana panas dan “dendam” terhadap orang non pribumi yang –selama ini terkenal tidak ramah, sombong, dan cenderung menghina orang pribumi–, mereka berlarian ke seluruh toko milik non pribumi yang ada di Kebumen, dalam waktu semalam 46 toko ludes terbakar..

Kejadian-kejadian ini makin membuktikan bahwa akar budaya, dan selama ini tidak pernah di ungkap adalah budaya perlawanan berdampingan dengan budaya bagelen-banyumasan yang terkenal. Keningratan sebagai ciri budaya bagelen, dan kerakyatan sebagai ciri Banyumas terintegrasi secara sadar dalam diri orang-orang Kebumen.

Perlahan-lahan namun pasti budaya jepitan ini membentuk sub-budaya tersendiri yaitu budaya Kebumen. Meskipun baru berumur 70 tahun, tetapi sub-budaya ini berpotensi membentuk budaya tersendiri yang mandiri. Semoga.

Kebumen, 25 Maret 2006 Penulis Mustholih Brs Staf Pengajar STAINU Kebumen

About these ads
Komentar
  1. imsak mengatakan:

    Yang penting spiritualitasnya… ya thooo…yo thooo

  2. luham mengatakan:

    siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip lah pak dosen.

  3. nizi mengatakan:

    eh munculin aoi angkatan oemat islam kebumen yg lengkap donk!
    kirimin ke email gw y??
    markas pemimpin n tujuannya y??
    plesss buat tugas neh……………..

  4. Brs Mustolih mengatakan:

    Buat Nizi, kalau untuk tugas, mungkin kita ga bisa posting cepat, paling ga seblan lagi tulisan tentang AOI baru akan muncul, kalau mau sabar ga pa-pa…terima kasih komennya

  5. luzie mengatakan:

    munculin artikel PKI 65 donk. klo ada kasih tau referensi bukunya ya. n klo blh sekalian kirim ke emailku. makasih

  6. segalih mengatakan:

    tanks ya atas definisi sejarah kebumennya,aku dari dlu ingin tau seluk beluk kab.kebumen,soalnya aku orang kulon kali yaitu petanahan,yg sekarang di tokyo

  7. Afham mengatakan:

    Yo i ini artikel kapan ya, aku kox g baca dulu, maaf ya pak dosen nganggu konsen anda.

    Mas Afham dapat membuka arsip Suara Merdeka Tgl 25 Maret 2006 di Hal Wacana Lokal, Trims komentarnya

  8. hidayah, sarjana (P.Sej'00 Unnes) mengatakan:

    Sepakat pak dosen, Oh ya mungkin bisa menambahkan pak, bahwa sikap terbuka masyarakat kebumen tidak terlepas dari kultur sosialnya yang kebanyakan petani, yang sabar, legawa dan pantang menyerah, ciri khas sebuah daerah agraris. Namun kultur sosial dan semangat belajar masyarakat kebumen juga siip bahkan mereka rata-rata akademisi yang religius.

    Pak dosen usul nih, gimana kalau sejarah lokal kebumen ini diangkat dan disampaikan pada perkuliahan bapak sehingga para calon pendidik lulusan STAINU tahu sejarah dan jatidirinya.

    Buat saudara-saudaraku arek-arek kebumen yang ingin melihat sejarah kebumen dari awal hingga hari jadi, bahkan beberapa periode setelahnya dapat membaca diperpustakan umum kabupaten kebumen depan alun-alun.(Bukunya agak tebal dan khusus) tanya aja ke petugasnya.

    Makasih, jazakumullah.
    (peserta program pasca sarjana IPS UNNES)

  9. H.M.Jamil,SQ,MPd mengatakan:

    Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  10. herman suwardi mengatakan:

    kalau buku yang berkaitan dengan sejarah masuk islam di kebumen ada ndak ya ?kalau ada tolong kalau ada tolong sebutkan aku lagi butuh banget trim sebelumnya.

  11. hermansuwardi mengatakan:

    tolong mas,Pak,Bu,atau mbak yang tau persis sejarah masuk Islam di kebumen kirimin aku pingin nulis tesis tentang Masuk Islam di Kebumen tapi kok datanya gak lengkap.demi kebumen beriman.

    • andi h mengatakan:

      yang sya tau pertama syeh marwan dia dari hadramaut atau asia minor kemudian punya lima anak salah satuny syeh al kahfi somolangu.penyebarannya melalui pantai krn dahulu pusat kota terletak di pantai, kelima anaknya di sebar keseluruh pelosok kebumen untuk menyebarkan islam.buku yang harus di baca hamsyah fansuri(aceh),abdurauf singkel,itu untuk pranalarnya tetapi untuk alur ceritanya dari interview dari kelima keturunan syeh marwan yang masih ada….

  12. hasbilah rifai mengatakan:

    ayoh…semangat…ra perlu plirik2an

  13. asrori mengatakan:

    bersatu kita teguh bercerai kita runtuh……

  14. trisno mengatakan:

    slm hormat , sungguh aku baru tahu seluk beluk kota kebumen maaf klo bleh tahu alamat rmah bapak di dawrah mana ya mhon krimi, kapan2 mau tnya soal sejarah kebumen.sekali lagi saya ucapkan rimakasih.

  15. andi h mengatakan:

    tulisan anda kurang lengkap,saya termasuk keturunan langsung dari pemimpin AOI darah bapak,serta ibu dari purworejo keturunan A yani yang menumpas AOI dengan banteng raider-nya,tapi saya tinggal di kalimantan.sya masih punya cerita lengkap tentang AOI serta penumpasannya,pemimpinnya mati di mana dan juga jalur pelarian AOI sampai ke daerah cilacap…catatan lain orang kebumen paling susah untuk berkumpul dalam paguyuban mereka cenderung membaur dengan masyarakat dimana dia tinggal bahasanyapun sudah bukan kebumen lagi secara logat..banyak orang kebumen sukses; mantan dirut BI bpk bin hadi, pemilik Islamic scool,pemilik Indomaret,dll..klo mau tau lebih kirim e mail ke alamat saya.tanks

  16. eka septiani mengatakan:

    salam hormat,,,,
    ne aq eka di lampung,,
    aq lgi nyusun skripsi tntang AOI ,
    kalu boleh ada yng punya refrensi buku tentang AOI gk ya?????????????????

  17. aguseh mengatakan:

    Tolong kupas juga tentang tempat2 bersejarah kebumen. Sy asli kbm skrng di beksi, cerita ortu dlu skitar kbm kota(kwdusan,kr.sari) dan skitarnya, kalau gk salah kebon tebu(jaman belanda) tolong di kupas. Jg pabrik minyak kelapa nabatiyasa dkt stasiun

  18. Bowo Santoso mengatakan:

    Mantab pak, smangat trs,jgn lupa kritik dan masukannya buat sy, sy lg mosting tapi blm dapet sumber,trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s